Entah apa yang bisa dilakukan, jika ternyata FPI selalu melalukan kekerasan. 
Mereka bukan lagi kaum muslimin yang bisa meneriakkan allahu akbar dengan penuh 
damai. Banyak orang tak berkutik melihat aksi mereka. Polisipun tak mungkin 
meredam mereka. Pasalnya, FPI adalah bentukan polisi dan militer. Semua orang 
tahu akan hal ini. Polisi dan pemerintah selalu melakukan "politik pembiaran" 
ketika terjadi kekerasan. Dengan "sok pahlawan" SBY pun berkomentar. Ia tidak 
mungkin berani membubarkan FPI. Lebih baik membubarkan Ahmadiyah karena 
dianggap sesat, walaupun selalu menebar kedamaian, daripada membubarkan FPI 
yang sok islami tapi selalu melalukan kekerasan. Aneh memang pemerintah kita. 
Jelas, yang sesat bukanlah Ahmadiyah, tapi FPI. 
   
  Di hari Pancasila, FPI telah merubah bangsa ini dari negara Pancasila menjadi 
negara Preman. Barangkali, kelompok-kelompok moderat seperti NU dan 
Muhammadiyah sudah saatnya memberi "pelajaran" terhadap orang yang mengaku 
islam itu (FPI). Gus Dur selalu menjadi musuh mereka. Saya tidak tahu kemana 
orang-orang NU? Apakah mereka lebih banyak enjoy dengan konflik interest di 
internal NU dan partai, sehingga melupakan hal terpenting dalam berbangsa dan 
bernegara ini, yaitu perdamaian dan kebebasan. 
   
  Saya cuma ingin nanya: adakah yang berani menindak FPI? Bagaimana dengan 
Pemerintah? Itu tidak mungkin dilakukan oleh SBY-JK? Lalu siapakah yang akan 
menuntut? Saya cuma berharap ada pengadilan rakyat yang mengadili mereka. Pak 
SBY, jangan alihkan kesengsaraan rakyat karena kenaikan BBM dengan kekerasan 
anak buahmu (FPI)? 
   
  Salam, 
   
  Hatim
  

hujanreda <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          dari milis sebelah. tentang penyerangan fpi terhadap kawan2 akkbb yang
hendak berunjuk rasa di monas kemarin siang. beberapa nahdliyyin
menjadi korban, dipukuli dan diinjak2 (di antaranya kiai maman, guntur
romli, dll). fpi sedang membangunkan macan rupanya. 

ir

Dear all,

Malam ini saya baru pulang dari rumah sakit, bersama Tim JP dan banyak
teman-teman dari RSPAD, meninggalkan Guntur yang sudah dijaga dua adik
perempuannya dan sahabatnya Hasib di kamar lantar 6 Gatot Soebroto. Semoga
dia bisa lelap. Tapi saya tak bisa tidur, jadi saya menuliskan pengalaman
hari ini buat teman semua.

Betapa shocknya kami tim JP yang pagi ini bersemangat mengikut Aksi Akbar
Apel di Monas bersama semua kawan-kawan di dari AKKBB, yang sudah
menanti di
pintu Gambir samping Monas. Siang itu, setelah mampir ke rumah
Mariana, saya
dan juga Azizah menuju ke Monas sambil bercanda dan tentu bergurau. Di
ujung
telpon, Guntur juga sudah memberitahukan bahwa dia menuju ke sana untuk
bertemu kita di sana.

Setiba disana, kami melihat bus bus dan banyak orang berbaju merah, baru
selesai acara akbar PDIP di Monas juga. Lalu setelah sempat makan siang
cepat, saya, Mariana dan Azizah bergabung dengan tim AKKBB yang masih
membentuk barisan aksi damai walaupun memang tali belum terpasang benar,
Mariana sempat membantu, saya bercanda dengan Toyo dan kawannya dan juga
ikut memotret aksi.
Tidak lama kemudian, barisan berjalan dan menuju ke dalam lapangan tengah
Monas, walaupun saya agak sedikit heran. Saya pikir kita akan melipir dan
menuju HI dari samping bukan dari tengah--tengah lapangan. Entah
kenapa saya
merasa sudah ada yang cukup aneh pada waktu itu. Saya malahan masih sempat
ber sms an dengan mas Bonie, yang sedang memantau kegiatan kami juga.

Kami melihat, di tengah (tepat depan monumen), teman dari AKKBB lainnya
sudah menunggu, dengan mobil soundsystem dan massa yang kurang lebih 300
atau 400 orang. Kami sedang bersiap mengatur barisan dan juga bersiap
menyanyi/berdoa awal. Di depan barisan saya lihat ada beberapa Ibu
Ahmadiyah
yang juga hadir waktu kita aksi di bunderan HI beberapa minggu lalu.
Betapa
semangatnya semua orang. Tapi mungkin kami lengah, karena saya memang
tidak
melihat polisi dimanapun.

Dari jauh, saya berbisik dengan Azizah, karena insting memotret kami yang
tinggi. Sebarisan lelaki berbaju putih dengan nuansa hijau sana sini
bergerak berbaris ke arah kami. Wah itu FPI kata Azizah. Saya dan
Azizah pun
memotret mereka berjalan/bergerak ke arah kami berdiri.
Ternyata mereka bergerak makin dekat, bernyanyi dan berteriak-teriak
dengan
kencang. Dalam hitungan detik, kami sudah tidak mengira dan atau menduga,
mereka sudah menyerang merangsek ke barisan kami, memutus tali dan mulai
mengayunkan bambunya sambil berteriak Alahuakbar. Saya otomatis mencari
Toyo, Azizah dan Mariana yang ada di dekat saya. Semua tiba-tiba menjadi
chaos dan penuh keributan. Para FPI berteriak tangkap sekutu Gus Dur,
ALahuakbar, Ahmadiyah sesat dan lainnya yang saya sampai lupa. Saya
berusaha
menarik Azizah dari kerumunan ayunan bambu yang mendekati kami dan
mengajak
dia mencari jarak aman. Di kejauhan saya lihat Toyo berhasil menyelamatkan
diri, tetapi di lain tempat, bapak-bapak laih digebuki dengan bambu dan
dipukuli/dikeroyok oleh mereka. Pada pengeroyok berbaju putih, syal hijau
atau putih dan ikat kepala yang ada gambar pedang beradu. Belum lagi
barisan
rompi hitam, para bapak bertuliskan BAP, Badan Anti Permurtadan. Entah
dari
mana lagi mereka.

Di tengah chaos, saya mencari Mariana dan bertemu Ezky yang juga sedang
mencari para korban yang bisa dibantu. Saya sempat bertemu Jajang C
Noer dan
Dyah Ayu Pasha yang juga sudah dibentak dan diusir para FPI dari lokasi
kejadian. Saya juga melihat mobil sewaan sound system dirusak dan
peralatan
dihancurkan. Semua poster kami dibakar dan mereka mengejar semua teman
yang
sudah terpencar. Saya teringat Guntur dan menelponnya tapi tidak bisa. Tak
lama juga terlihat pasukan polisi yang selalu telat datang.

Guntur ternyata sudah ada di lokasi dan mendadak dia menelpon saya, "Aku
kena, Lin". Begitu katanya, saya kaget dan langsung nanya dia dimana.
Karena
pukulan di kepala, Guntur sempat blank dan tidak tahu posisi dia dimana.
Saya telpon dia dan dia juga menelpon saya bolak balik. Saya bilang ke
Mariana, wah Guntur kena. Dimana ya dia. Ternyata di waktu bersamaan,
Guntur
sempat diselamatkan kawan-kawan termasuk Toyo dan sempat dibawa ke
ambulans.
Karena dia keras kepala, akhirnya dia turun lagi karena mau memantau
situasi
dan merasa lukanya tidak berat. Walaupun darah terus mengucur begitu kata
Toyo yang hari itu mengorbankan kemejanya buat pendarahan di muka Guntur.
Setelah berhasil memberikan HP dia ke orang2 di sekitarnya (waktu itu
Guntur
ada dekat tempat makan dan wartel), saya menanyakan petunjuk dimana
keberadaan Guntur. Lalu saya pun berhasil menemukan dia dikerubungi
bapak-bapak yang kasihan dan membantunya. Saya langsung memeriksa luka dia
dan melihat robekan besar di dahi, mata bengkak berdarah dan darah
mengalir
dari hidung terus seperti ingusan. Tapi ingusnya darah dan keluar
terus. Dia
mengoceh sana sini mau telpon adiknya dan lainnya. Saya dan Azizah dan
Toyo
mencari taksi dan membawa dia segera ke RSPAD. Dalam perjalanan Guntur
masih
sempat telpon dan sms adiknya dan lainnya. Saya dan Azizah terpaksa
mengambil Hp dia agar dia diam dan pendarahan tidak menjadi parah.

Sesampai di UGD RSPAD, kami langsung ditangani suster. Tidak lama seorang
dokter perempuan muda datang. Dia bilang harus rontgen dan mungkin ada
prosedur bedah plastik melihat lukanya. Sambil melayani telpon sana sini
dari semua orang kami mengurusi urusan admin dan lainnya. Saya juga
menemani
Guntur ke rontgen dan bersama Azizah sempat complain karena lambannya
pelayanan dan kita juga aktif membantu membersihkan darah di tangannya
yang
berlumuran. Akhirnya, jam 4.30 sore sang dokter bedah plastik datang dan
memeriksa. Setelah diagnosa, dia bilang harus operasi (tapi kecil), untuk
mengembalikan tulang hidung yang bengkok, pelipis bawah mata retak sedikit
dan jahitan buat robek di dahi yang besar. ROntgen hanya melihat
masalah di
tulang wajah saja, tidak ada gangguan di kepala/otak. Jadi dia aman.

Setelah kami cukup lega dan semua tim JP akhirnya sudah datang, kami pun
mengurus pembayaran operasi dan mengantar Guntur ke ruang operasi.
Waktu itu
ada juga kawan-kawan lain mulai berdatangan, termasuk dua adik Guntur yang
kaget melihat kakaknya. DI UGD, Guntur sempat memarahi saya karena
memberitahukan keberadaannya di RS kepada adiknya, saya pun kena semprot
lagi karena memberikan kondisi "fisik" terakhir Guntur via telpon. Biarpun
gitu, saya diam saja, yang penting urusan medis beres.
Saya mengerti Guntur tidak mau keluarganya repot dan sedih. Tapi toh,
akhirnya sang ibunda terpaksa kaget dan melihat berita di Televisi (entah
yang mana). Lagi-lagi kami sempat kena semprot. Selain itu, ketika kami
sedang repot sana sini mengurus kamar, ada juga yang sempat memaksa harus
pilih lokasi di kamar tertentu, yang membuat saya jadi jengkel, karena kok
orang sakit jadi harus repot di atur sana atur sini. Padahal kami dari
jurnal perempuan sudah tahu tanggung jawab kami dan akan mengurus sampai
beres. Ada orang sakit kok jadinya malah kita harus ribut. Harusnya
kan kita
semua memikirkan kepentingan Guntur, bukan ribut memikirkan fasilitas
kanan
kiri, yang tidak ada juntrungannya. Atau mungkin pahlawan kesiangan
ya? Biar
kelihatan repot? Duh saya jadi sepet, mungkin kepanasan dan capek juga.

Jam 5.30 sampai jam 7, kami tergeletak duduk-duduk di dekat ruang operasi,
menunggu. Ada saya, mariana, mba Deedee, Aquino, mas Bonnie(Nur Iman
Subono), Toyo, mas Hudan Hidayat, Malik, lalu tak lama Nita dan Ade
jauh-jauh dari Bandung juga bergabung dengan kami. Saya sempat pesiar ke
ruang lobby dan menemukan beberapa ibu-ibu Ahmadiyah datang dan memberikan
konsumsi untuk kami yang berjaga di rumah sakit. Mereka sangat
prihatin dan
mau menjenguk Guntur. Ah ibu-ibu baik sekali ya. Sampai pukul 9 malam
mereka
masih menemani dan dengan tertib akhirnya ikut menjenguk ke lantai 6
ketika
akhirnya Guntur dipindah ke kamar. Semua sahabat guntur, dari TUK/Utan
Kayu,
Radio, Kongkow Gus Dur, wartawan, seniman dan aktifis lainnya berkumpul di
lantar 4 dan 6 terlihat sabar menanti.

Setelah keluarga berembuk, Hasib akan menjagai Guntur malam ini dan besok
tim JP akan membantu menggantikan keluarga menjaga Guntur di RS.

Sesuai pesan dokter, mungkin Selasa boleh keluar dari rumah sakit.
Sekarang
harus istirahat dulu dan jangan banyak bicara. Tim JP sempat rapat
sebentar
dan malam ini kami harus mempersiapkan konferensi pers besok dan tentunya
siaran pers untuk disebar. Kami juga sempat melihat pak Deddy dari
Ahmadiyah
yang lewat terbaring, karena akan di rawat di lantai yang sama karena luka
penganiayaan.
Kami pun nongkrong di lt 6 sampai akhirnya diusir oleh satpam karena jam
besuk telah lewat.

Minggu siang ini, memang lain daripada yang lain. But I can't complain...
semangat!!!!
Olin

[Non-text portions of this message have been removed]



                           

       

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke