Dukungan Moril Teruntuk (Guntur) Sahabatku
 
Hari senin pagi, tanggal 2 Juni 2008 aku dikagetkan oleh kabar di media-media 
Indonesia yang aku baca di internet, ratusan orang yang tergabung dalam Front 
Pembela Islam (FPI) mengobrak-abrik acara yang digelar oleh Aliansi Kebangsaan 
untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di Monas Jakarta. Mereka pun 
menghajar abis-abisan beberapa orang yang dianggap sebagai tokoh dari AKKBB 
tersebut, di antaranya adalah sahabat lamaku Bung Guntur Romli. Kejadian itu 
bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila yang jatuh pada Ahad 1 Juni 2008. 
Pancasila yang dahulu lahir karena ketegangan, saat ini pun di Monas masih 
menyisakan ketegangan itu. Apel akbar AKKBB yang niat  awalnya adalah 
untuk acara doa bersama dan perenungan atas perjuangan mengawal Pancasila yang 
dilihat dari persfektif kebebasan beragama dan berkeyakinan yang sesuai dengan 
UUD ’45, terpaksa bubar karena tindakan anarkis pejuang yang mengatasnamakan 
Laskar dan Front Pembela Islam. 
 
Tulisan ini aku buat sekedar untuk merenung tentang kejadian yang baru saja 
terjadi itu. Tidak habis aku berpikir betapa jalan pintas begitu mudah 
dilakukan oleh sebagian anak bangsa kita. Ketidaksetujuan suatu kelompok atas 
kelompok lainnya begitu sangat mudah diarahkan untuk segera memberhangus atau 
menghancurkan eksistensinya, bahkan ancaman dan penistaan jasad sudah tidak 
lagi menjadi tabu untuk dilakoni. Bukan pasal Guntur adalah sahabat lamaku, 
yang pernah sama-sama duduk dalam kelompok kajian (9) saat di Kairo dulu. Atau 
bukan karena ia diantara sahabatku yang paling lantang membelaku saat aku 
menyampaikan laporan pertanggungjawaban PPMI Mesir yang aku pimpin yang hampir 
digugat kala itu. Bukan, bukan itu sebabnya, aku tuliskan dukungan moral ini, 
sekalipun hanya berbentuk goresan tinta. karena semata-mata aku sangat membenci 
logika kekerasan dan penghancuran yang dilakukan oleh siapapun dan atas nama 
apapun. 
 
Aku masih ingat, ketika masih berada di Mesir dulu, aku melihat sebagian oknum 
mahasiswa yang masih memiliki tradisi biadab; yang tidak mengerti arti dialog, 
argumentasi, tapi yang dia faham hanyalah bahasa “tangan”. Sampai sempat 
terdetik dalam hati kecilku untuk berkata, “kapan aku bisa meninggalkan Mesir, 
sementara wajah dan tubuhku tak memar (cacat), karena sentuhan bahasa “tangan”, 
yang memang sedemikian  populer ketika itu. Ketakutan-ketakutan itu lama 
kelamaan membentuk anomali psikis ketidakberdayaan berbuat, melumpuhkan 
kritisisme, dan melahirkan jiwa-jiwa oportunis. Sungguh sangat mengerikan masa 
hidupku di saat itu, dan aku tidak ingin masa itu terulang kembali, tidak hanya 
bagi diriku, atau sahabat-sahabatku, tetapi juga bagi Anda dan siapapun saja 
yang merindukan hidup damai tanpa tekanan.
 
Aku pun akhirnya selamat dan “husnulkhatimah”; dalam artian aku bisa 
meninggalkan Mesir dan tubuhku tidak sampai tersentuh bahasa “tangan” tadi. 
Guntur pun suatu ketika pernah berkelakar kepadaku di kantin Wisma Nusantara, 
mengomentari orang yang jago silat, namun diapun sempat terkena hajar orang, 
“kalau aku jago silat, tapi dihajar diam, lebih baik potong saja (maaf) 
kemaluanku”. Kalau saat ini Guntur pun dihajar FPI lalu dia diam, aku sangat 
memaklumi karena memang dia tidak ngerti silat ataupun seni bela diri lainnya.
 
Aku merasakan bau nyinyir darah yang keluar dari hidung, pelipis, mata dan 
kepalanya. Aku merasakan nyerinya tulang dan persendian ketika hantaman tangan, 
kaki dan pukulan kayu mendera tubuhnya. Robohkah dirimu ketika itu?, aku tidak 
tahu. Tapi aku yakin kamu pasti semaput bukan hanya roboh, karena kamu begitu 
tolol terhadap bela diri. Kamu begitu tega melihat dagingmu diinjak-injak oleh 
orang-orang yang sebetulnya jauh lebih pendek pikirannya daripada kamu. Tapi 
itulah kamu, keras kepala, tidak mau kalah, pencemburu, tetapi sebetulnya hati 
kamu halus dan pemaaf. Bukankah kamu penggemar dokrin Yesus, jika pipi kananmu 
ditampar, berikanlah pipi kirimu untuk ditampar juga. Tapi itu kan doktrin 
Guntur…!, bukannya kamu paling tidak suka dengan doktrin-doktrin seperti itu, 
justru kamu merasa berada di atas doktrin itu sendiri. Kabar yang aku dengar, 
kucuran darahmu tidak menghalangimu untuk terus memberikan perlindungan kepada 
rekan-rekan dekatmu di AKKBB
 itu, kamu justru sibuk mencari-cari sahabat juang dan saudara seimanmu untuk 
menyelamatkan diri. Di setumpuk kebodohanmu, masih kutemukan ketulusan “dalam” 
yang masih tersisa sejak dulu, hanya aku, dan Tuhan kita yang maha tahu dan 
lagi-lagi kamu tidak mengetahui ini.
 
Aku tidak yakin, kejadian hari itu akan menyurutkan alur pikirmu yang telah kau 
bentuk pas dengan batok kepalamu. Kamu dan siapapun korban amuk massa ketika 
itu, memang harus dipaksa untuk merasakan getirnya lemparan batu, pentungan 
kayu, dan usiran masyarakat Thaif abad modern. Di tengah kucuran darah segarmu, 
sempatkah kau ucapkan kalimat, “Wahai Tuhanku…, ampunilah orang-orang FPI, 
berikan mereka petunjuk, sesungguhnya mereka tengah tersesat”.  Ataukah 
kamu lebih memilih tawaran aparatur dan pembela HAM untuk menumpahkan 
gunung-gunung di atas dahi mereka, yang berarti memberhangus eksistensi jasad 
mereka, yang sesungguhnya sama mirip dengan pola ORBA. Sebab boleh jadi tragedi 
ini hanya upaya oknum penguasa mengalihkan masalah besar bangsa yang tengah 
terjadi saat ini.Aku masih tidak yakin kamu memiliki pilihan lain selain dua 
hal itu.
 
Habieb Riziek (FPI) hanya segelintir oknum yang hadir memberikan makna bagi 
perjuangan panjangmu, jika kau bekukan tidak mustahil akan bermunculan Habib 
yang lebih (Risk) berani mengambil resiko lagi. Tapi aku tidak meragukan 
komitmenmu terhadap negara hukum ini, Tuhan pun akan tersenyum jika kamu ambil 
rukhshah (keringanan) itu. Justru aku pun berpikir kamu akan tampak sempurna 
jika bukan sebagai manusia setengah dewa. Apapun yang kau tempuh dukungan 
morilku tetap menyertaimu. Kau yang telah memulai dan kau pula yang harus 
mengakhiri. 
 
Sudah lama aku tidak pernah menghubungimu, aku tahu saat ini kamu begitu sibuk 
dan komunitasmu mengelu-elukan kehadiranmu selalu. Dan aku sadar untuk tidak 
kembali merenggutmu kepada “kepentinganku“ seperti dahulu. Terkadang aku tidak 
bisa menerima sikap dan jalan pikirmu, dan kamu tahu benar itu. Tetapi yang 
mungkin kamu tidak sadar, aku begitu terusik dengan penganiyayaan “Monas 
Kelabu” terhadap sikap, pendirian, imam dan jalan pikirmu selama ini. Mungkin 
aku bukan apa-apa di banding kamu, dukungan morilku boleh jadi tidak memiliki 
nilai bagimu, tetapi goresan pena ditengah putusnya komunikasi kita selama ini, 
kuharap begitu berarti menemani kesakitanmu di Gatot Subroto. Patah tulang 
(hidung)mu, bukan pula patah semangatmu. Tegarlah dan hadapilah semua ini 
dengan penuh senyuman!.
 
 
(Dari Muladi bekas ketua Umum PPMI-Mesir periode 2000-2001 yang sekarang 
bersembunyi di Pakistan).    
 
      


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke