Salam,

 

Kami mengundang kawan-kawan untuk menyumbangkan tulisan di edisi Jurnal 
Tashwirul Afkar edisi ke- 25. Panjang tulisan 10-15 halaman, 1 spasi. Tulisan 
dilengkapi dengan catatan kaki. Tulisan paling lambat kami terima pada 20 Juni 
2008. Tulisan yang dimuat akan diberi imbalan sewajarnya. Terima kasih.

 

Wassalam



Reinventing Strategi Kebudayaan NU

 

Pengalaman dan praktik kehidupan kita sehari-hari, baik kehidupan yang 
slenge’an ataupun kehidupan ilmiah yang ‘ketat’, telah banyak mereduksi makna 
dari kata budaya. Kita, mislanya, akan bergegas mempredikati orang-orang yang 
sering berkerumun di Taman Ismail Marzuki Jakarta dengan ‘Budayawan’. Tapi 
gelar ‘Budayawan’ itu tak akan pernah dinobatkan kepada orang yang istiqamah 
mendidik bocah-bocah puluhan tahun di serambi masjid atau di sebuah madrasah. 
Kita tidak pernah mendengar Kiai Wahid Hasyim, dipanggil ‘budayawan’, meskipun 
ia telah mengarsiteki kurikulum pesantren yang yang progresif di zamannya. 
Begitu juga kiai Wahab Hasbullah yang telah berjibaku untuk kedaulatan sebuah 
bangsa. Masyarakat luas hanya menggelari ‘Budayawan kepada Sutan Takdir 
Alisahbana atau Chairil Anwar. Kiai Musthofa Bisri disebut budayawan karena dia 
bisa menulis puisi dan cerpen, serta pandai melukis. Sedangkan kakaknya, 
almarhum Kiai Kholil Bisri, seistikomah apapun dalam mengaji atau berceramah 
dan sehebat apapun di dunia pengobatan alternatif (ndukun), dia tidak berhak 
disebut ‘Budayawan’. Ya, karena itu tadi, dia tidak menulis puisi atau melukis 
seperti adiknya.

Media masa menamakan halamannya yang berisi cerpen, puisi, ulasan pameran 
lukisan, atau resensi film dengan nama ‘Halaman Budaya’. Untuk halaman yang 
berisi laporan praktik pendidikan akan diberi namana ‘Halaman Pendidikan’, 
begitu juga dengan halaman yang berisi tingkah polah dan pernak-pernik politik, 
‘Halaman Politik’ namanya, dan seterusnya. Kesalahan-kaprahan itu berlanjut di 
hampir seluruh tata keorganisasian di manapun juga, termasuk pada level 
keorganisasian negara kita. 

Nahdlatul Ulama termasuk bagian dari kesalah-kaprahan dalam memaknai, 
membingkai, dan memakai kata ‘budaya’. Yang paling mudah dijadikan contoh 
adalah Lesbumi, Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesai. Dalam lembaga ini, 
‘Seni’ dan ‘Budaya’ duduk beriringan. Betul, ‘dan’ memisahkan keduanya, tapi di 
sana ada semacam pendefinisian (salah-kaprah) secara tersirat bahwa kesenian 
adalah kebudayaan, dan kebudayaan adalah kesenian. Kebudayaan disandingkan 
hanya untuk kesenian. Buktinya, hanya aktifis Lesbumi saja yang disebut 
‘Budayawan’, sedangkan aktifis lembaga bahtsul mas’ail, muslimat, jamaah 
tharikat, LP2NU, Lakpesdam, dan lain-lain, tidak mendapatkan gelar tersebut. 
Mustinya kan tidak. Karena secara teori, kita mafhum bahwa keseniaan hanyalah 
satu sudut saja dari kebudayaan. Ya, ini bagian dari ironisme tradisi keilmuan 
kita. 

Mungkin baru terasa ironisme di atas kalau kita melontarkan pernyataan 
misalkan, Lakpesdam NU itu tidak berbudaya! Muslimat NU itu tidak berbudaya! LP 
Ma’arif atau kawan-kawan di Lajnah Falakiyah itu tidak berbudaya! Yang 
berbudaya hanyalah Lesbumi!

Tidak tanggung-tanggung, ironisme dalam memaknai ’budaya’ berdampak pada 
ketidakpaduan dan dan ketidakpastian langkah-langkah organisasi dalam 
menjalankan visi dan misi keorganisian. Masing-masing elemen dalam tubuh 
bernama Nahdlatul Ulama berserakan, bercerai-berai ke mana-mana. Akibatnya, 
meskipun sudah ke sana ke mari, berjilid-jilid terori dikemukakan, nafas sudah 
terengah-engah, tapi gools atau ghayah-nya tak kunjung terwujud. Bahkan, 
madzhab atau platform ”Ahlus Sunnah wal Jamaah” yang diwiridkan tiap kesempatan 
menjadi bola liar. 

Tentu saja, yang mengemukan di atas adalah asumsi. Ya, asumsi untuk berpikir 
kritis, jujur, semangat memperbaiki organisasi, dan untuk menemukan (kembali?) 
strategi kebudayaan NU. Dan tentu saja, yang mengemukan di atas, mengecualikan 
siapa saja dari elemen NU yang ”merasa” sudah on the right track.[]

 

 

 

Tema-tema JTA edisi 25:

-          ”Reinventing Strategi Kebudayaan NU”

-          ”Pertarungan Doktrin dan Kebudyaan Nasional”

-          ”TUBUH GEMUK NAHDLATUL ULAMA:  Studi tentang Tata Kelola Organisasi”

-          ”Politik sebagai Strategi kebudayaan NU”

-          ”Mengenang Djamaludin Malik, Mendenyutkan Nafas Kebudayaan NU”

-          ”MOBILITAS NU DALAM GERAKAN SOSIAL”

-          ”Memotret sub-kultur Pesantren dari Kebudayaan Nasional”

-          Media Sebagai Strategi Kebudayaan NU

-          dll

 



 

 


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke