Difabel bicara soal Habib Rizieq:
http://www.suarapembaruan.com/News/2008/06/20/Editor/edit01.htm
SUARA PEMBARUAN DAILYMenghargai Kaum Difabel
Oleh Slamet Thohari
ecara tidak sengaja, saya sempat menyimak sebuah dialog langsung di televisi,
berkaitan dengan tragedi 1 Juni 2008 di Monas. Dialog tersebut
menghadirkan salah seorang tokoh NU serta Habib Rizieq Shihab, dan
rekaman sikap Gus Dur atas peristiwa itu.
Dalam dialog itu, Rizieq Shihab, ketua Front Pembela Islam (FPI) dengan
nada tinggi meminta Ahmadiyah dibubarkan. Dalam pernyataannya, Rizieq
juga menolak jika FPI dianggap melakukan kekerasan terhadap perempuan,
anak-anak, dan orang cacat.
Atas pernyataannya itu, be- berapa hal perlu dikemukakan. Rizieq
menggunakan istilah "cacat". Ia mungkin tidak mengerti bahwa tidak ada
orang cacat di- dunia ini. Yang ada, cacat menurut siapa dan berdasar
kriteria pada apa istilah "cacat" itu dilabelkan?
Masalah cacat dan tidak cacat merupakan konstruksi sosial. Setiap
konstruksi merupakan ke- kaburan yang dipaksakan menjadi benar. Jika di
sebuah pulau semua orang berkaki satu, yang disebut cacat adalah mereka
yang berkaki dua. Semua atribut kebudayaan, agama, tata kota, dan
seterusnya, akan menyesuaikan dengan kondisi tubuh orang berkaki satu.
Dus, masalah cacat adalah masalah dominasi makna dari "mayoritas", dan
Rizieq menjadi bagian dari proses tersebut. Di depan publik, ia berkata
bahwa kaum difabel sebagai orang cacat.
Dalam dialog itu pun, Rizieq berkata, "Gus Dur itu buta mata, buta
hati. Gus Dur lihat dari mana? Gus Dur itu buta matanya, buta
hatinya... Kalau Gus Dur mengatakan demikian, dia tidak benar. Dia
tidak tahu apa-apa."
Bagi saya, Islam merupakan agama rahmat bagi semesta alam, mesti
mengayomi dan memberikan kesejukan bagi setiap manusia. Nabi Muhammad
menyebarkan Islam dengan lemah lembut. Berbagai halangan dijalani-Nya
dengan tabah dan penuh kasih sayang. Tak jarang Nabi diludahi
orang-orang Quraish yang jahat. Namun, Nabi tersenyum dan membalas
dengan doa. Semua umat Islam mengetahui cerita Nabi yang selalu
berjalan ke sebuah pojok kota menemui difabel netra (istilah yang lebih
tepat daripada sebutan Rizieq: "buta").
Nabi menyuapkan sepotong roti pada tunanetra tersebut. Uniknya, difabel
netra tersebut seorang non-Muslim, atau seorang "kafir" menurut Rizieq.
Banyak sekali cerita kesantunan Muhammad kepada difabel-yang oleh
Rizieq disebut cacat. Dengan sosok Nabi yang ramah dan toleran ini,
saya sebagai di- fabel menemukan kedamaian Islam, yaitu Islam yang
mengajarkan keramahan dan toleransi. Itulah Islam, sebagaimana maknanya
sebagai kedamaian dan kepasrahan kepada Tuhan.
Tentu sangat mudah bagi Tuhan untuk menciptakan penghuni dunia ini
dapat melihat dan normal semua. Namun, Tuhan menghadirkan dunia dengan
berbagai ragam dan bentuk manusia.
Setiap orang membutuhkan bantuan, persis seperti seseorang yang
memerlukan cahaya untuk membaca. Jika pada sebuah kamar gelap, seorang
difabel netra tetap tidak membutuhkan cahaya. Dia nyaman dengan buku
braille-nya. Dengan tangan-tangannya yang lembut, difabel netra akan membaca
apa saja.
Begitulah dunia, penuh dengan perbedaan untuk menangkap atau mencerna
segala sesuatu. Dengan begitu, pada hakikatnya tidak ada "orang buta".
Yang ada hanya perbedaan dalam menggunakan indera.
Sikap Tertutup
Di Alquran banyak dijelaskan bahwa perbedaan itu biasa, lumrah dan
memang sudah titah. Tapi memang selalu saja datang orang-orang "kafir"
yang anti-terhadap titah Allah. Allah menganalogikan mereka sebagai
orang yang "tertutup" atau kafara.
Dalam surat al-Baqarah ayat 117 dan al-Anfal ayat 22 disebutkan bahwa
orang-orang kafir adalah orang yang buta, tuli, dan bisu. Tentu bukan
secara fisik, tetapi sebagai analogi untuk orang-orang yang "tertutup", tidak
mau mendengar dan melihat kekuasaan Allah dan Islam yang damai. Jadi
"buta" menurut Alquran adalah mereka yang angkuh, egois, dan tidak bisa
menghargai keragaman sebagai bagian kekuasaan Allah.
Di Alquran pun dijelaskan, kita tidak sepatutnya berperilaku buruk
terhadap difabel netra (Abasa:1-3). Ayat ini dilatarbelakangi sebuah
peristiwa. Suatu saat Nabi sedang asyik menjamu beberapa tamu
pembesar-pembesar Quraish. Lalu tibalah seorang sahabat difabel netra,
Abdullah bin Umi Maktum yang ingin bertatap muka dengan Muhammad. Akan
tetapi, Muhammad bermuka masam dan mengabaikannya. Seketika saja Allah
memberikan peringatan kepada Nabi.
Dalam hadis juga diceritakan bahwa Rasulullah suatu hari di- temui
seorang difabel netra yang menanyakan haruskah ia pergi ke masjid untuk
salat jamaah, sedang dia tidak mempunyai pemandu yang akan
mengantarkan/menuntun. Nabi bertanya apakah ia mendengar suara azan
dari masjid. Sang tunanetra menjawab, "ya."
Pada konteks masyarakat Arab ketika itu, di mana belum ada pengeras
suara, mereka yang masih mendengar azan berarti bermukim tidak jauh
dari masjid. Mengetahui kondisi ini, Muhammad pun menganjurkan difabel
netra tersebut untuk ke masjid.
Sebagai difabel, saya nyaman dengan Islam. Salah satunya karena
pandangan Islam yang mendorong sikap saling menghargai dan tidak
mendiskriminasi manusia satu dengan lainnya. Sebuah pandangan yang
menghargai dan menerima keberbedaan, sebagaimana perbedaan fisik pada
diri saya, dengan penuh syukur.
Kami memang buta, kami memang tuli, kami memang pincang, kami memang
tidak bisa bicara, tetapi ini hanyalah keberbedaan. Sekali lagi, kaum
difabel bukanlah orang-orang "cacat", sebagaimana Rizieq katakan.
Mereka yang tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, tidak akan
menghargai orang lain. Mereka yang mengaku paling benar dan lainnya
salah, mereka itulah yang sebenarnya buta dan tuli.
Ini persis seperti digambarkan dalam sebuah cerita yang sudah umum bagi
kaum Muslim. Suatu hari Nabi Muhammad dengan santun menuntun orang
Yahudi di- fabel netra. Begitulah Muhammad, terhadap siapa pun dia
menghormati, tidak pernah mengenal identitas apa pun untuk berbuat
baik.
Gus Dur jelas bukan orang Yahudi, bukan pula orang Arab. Gus Dur orang
Jawa Timur yang pernah menjadi Presiden Republik Indonesia. Jadi, apa
yang dinyatakan Rizieq sungguh sangat jauh dari teladan keseharian Nabi
Muhammad dalam tata krama dan adab Islam.
Karena itu, apa yang diungkapkan Rizieq seperti ditayangkan televisi merupakan
pernyataan yang sangat tidak simpatik. Kaum difabel Indonesia sampai
saat ini masih merupakan kaum yang belum terpenuhi hak-haknya, juga
masih dilanda stereotip buruk di dalam masyarakat.
Penulis adalah seorang Difabel, tinggal di Yogyakarta. Artikel ini atas kerja
sama dengan RePro Jakarta Last modified: 20/6/08
Slamet Thohari (Amex) Yogyakarta
[Non-text portions of this message have been removed]