selamat pagi!
Mas Muhammad Muallim,
Membaca nama belakangmu (Muallim), saya jadi terkingat dengan tulisan Gus Dur
berjudul "Mualim Syafi'i" (bedanya yang punya dirimu berusaha
dimemper-memperkan dengan bahasa aslinya, pakai double L, biar tasydid dibaca).
Yang saya dengan Mualim di sini adalah KH. Abdullah Syafi'i.
Dalam tulisan itu, Gus Dur menyampaikan paling tidak 2 poin penting:
Poin pertama, Islam Jakarta lebih dekat dengan budaya Arab ketimbang komunitas
Islam di daerah lain. Kentalnya budaya Arab di Jakarta bukan semata-mata karena
ada banyak habib/sayid atau ada kampung Pekojan yg penuh orang Arab. Lebih dari
itu, demikian kata Gus Dur.
Tapi dikarenakan juga, kata Gus Dur, banyak orang Betawi belajar di Timur
Tengah (Mekah dan Kairo). Dengan sendirinya budaya Arab mengikutinya. Gus Dur
mencontohkan betapa kata ganti "ane" dan "ente" begitu memasyarakat. Bahkan,
orang asli di Tegalparang di mampang prapatan lebih mudah menyebut "nyahi"
ketimbang "minum teh". Karena itu, tidak mengherankan jika orang Jakarta
menyebut "Mualim" untuk orang pandai ilmu agama serta konsisten mengajarkannya.
Bukan lantaran mampu mengemudikan kapal, kata Gus Dur (hehehe..), tapi karena
kerjanya mengajar agama. Setingkat di bawah Mualim ada sebutan Ustadz atau
Mudawis.
Mualim Syafi'i diberi gelar "Kiai" belumlah lama. "Kiai" dipakai di Betawi
setelah ada jawanisasi. Jawanisasi yang paling terasa berbentuk migrasi para
ulama jawa. Mungkin yang dimaksud Gus Dur adalah banyaknya kiai Jawa Tengah dan
Jawa Timur, seperti Kiai Wahid, Kiai Wahab, dll, banyak bolak-balik,
Jakarta-Jombang, bahkan kemudia menetap di Betawi. itu terjadi awal abad 20.
Poin yang kedua yang disampaikan Gus Dur adalah, kekuekuehan dan keuletan
Mualim Syafi'i dalam menumpulkan dampak negatif dari modenisasi/liberalisasi.
Spiritualitas yang ditawarkan Mualim Syafi'i mampu mengatasi kekeringan jiwa
manusia yang tehimpit oleh kehidupan yang berorientasi serba benda. Solidaritas
yang dibangun Mualim Syafi'i merupakan penangkal terhadap rasa keterasingan
akibat terurainya ikatan-ikatan sosial lama dalam kehidupan berumah tangga dan
bertetangga. Kekuekuehan Mualim Syafi'i misalnya berwujud pada penentangan
kebijakasanaan mencari dana melalui perjudian di masa gubernur Ali Sadikin
(temanku selalu menyebut Ali Shodikin, pakai "shod", bukan "sin". Temanku ini
memang fundamentalis bahasa). Begitu juga kebijaksanaan penggusuran pekuburan
dari karet ke tanah kusir. Semua sanggahan Mualim Syafi'i berdasarkan ajaran
agama, sehingga terasa mencekam.
Tapi Mualim Syafi'i tetap bergaul hangat dengan Ali Sadikin, meskipun sangan
gubernur tetap saja mengizinkan dan melegalkan perjudian. Gus Dur kemudian
melontarkan pertanyaan, apakah Mualim Syafi'i tidak lagi menjalankan perintah
agama (amar ma'ruf dan nahi munkar)? Apakah dia telah terbai persahabatannya
dengan Ali Sadikin?
Ternyata tidak demikian, kata Gus Dur. Sebabnya sederhana saja. Mualim Syafi'i
tahu betul batas peranan yang harus dimainkannya. Sekedar mengajarkan pendirian
agama. Bukan menentang pemerintah. Juga bukan menyusun kekuatan (machtsvorming)
untuk memaksakan pendirian. Kalau pendirian agama sudah dirasa cukup
disampaikan, sudah gugur kewajibab. Tak perlu rusak pergaulan karenanya dan tak
perlu bersitegang leher sebagai akibat perbedaan pandangan, begitu tulis Gus
Dur.
Saya membaca tulisan Gus Dur itu bukan pada waktu tulisan itu terbit di Tempo,
tahun 80an awal. Saya membacanya di kliping yang sudah bau apek, milik kawan
sewaktu di Krapyak (Saya lupa kliping itu milik Anis Masduki atau punya Mahbub
Junaidi. Yang saya ingat kliping itu punya anak Mlangi). Gus Dur menulis
tentang Mualim Syafi'i untuk mengiringi kepergiannya ke alam Barzah.
Dan karena pandangan dan perilaku kebanyakan para pimpinan majlis taklim di
Jakarta sekarang ini tidak seperti yang dibangun oleh pendahulunya, alamarhum
Mualim Syafi'i, otomatis pendapat dan sikap Gus Dur dikecam oleh, mungkin
mayoritas, pimpinan komunitas muslim Jakarta.
Demikian yang saya ingat. Terima kasih buat Muhammad Muallim, nama belakangku
elah berhasil memunculkan ingatan saya.
salam hangat,
hamzah sahal
[Non-text portions of this message have been removed]