Suaramerdeka.com
WACANA

                                04 Juli 2008

                                                                
Kontekstualisasi Peran Sosial NU


                                Oleh Imam Yahya
                                        
                                PERHELATAN
akbar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama NU (PWNU) Jawa Tengah akan
digelar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Benda Sirampog, Brebes, 11-13
Juli 2008. Perhelatan konferensi wilayah (konferwil) tahun ini
mempunyai makna strategis dalam rangka menyatukan kembali khitah warga
NU (nahdliyyin) di Jateng yang selama beberapa bulan terakhir ini
sempat memudar pascapilgub dan pilbup di berbagai daerah.



Meski pemilihan gubernur (pilgub) dan pemiihan bupati (pilbup) menjadi
ritual lima tahunan, namun implikasi pesta demokrasi itu tidak saja
menimbulkan konflik di tingkat elite, tetapi juga di kalangan
nahdliyyin yang menanggung akibat berkepanjangan. 



Memang benar bahwa NU bukanlah partai politik (parpol) yang menanggung
beban politik secara langsung, tetapi sebagai organisasi keagamaan yang
mempunyai massa terbesar di Jawa Tengah, eksistensi organisasi
kemasyarakatan (ormas) itu banyak diperhitungkan oleh berbagai parpol
besar. Munculnya kader-kader NU yang mumpuni di tingkat Jawa Tengah
menambah gairah tersendiri bagi parpol untuk “menyeret” NU ke dalam
ranah politik pratis.



Melalui konferwil itu, kaum nahdliyyin ditantang untuk bisa merumuskan
agenda-agenda penting guna meneguhkan eksistensi NU sebagai organiasasi
keagamaan yang bermanfaat bagi warganya dan seluruh masyarakat
Indonesia.



Paling tidak ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan
agenda ke depan, yakni merumuskan kembali NU sebagai basis sosial
keagamaan, sosial politik, dan sosial budaya. Meski tidak cukup
merepresentasikan seluruh persoalan yang terjadi di kalangan nahdliyin,
tetapi tiga agenda tersebut bisa me-recovery terhadap persoalan
kontekstual yang terjadi di kalangan warga NU tersebut.

Problem Intelektual
Secara linguistik, nahdlatul ulama berati kebangkitan ulama, yakni
munculnya kesadaran para ulama Indonesia akan fungsi dan tugasnya
sebagai waratsat al-anbiya (pewaris nabi). Berdirinya NU yang dimotori
oleh para intelektual  pesantren, seperti Hadratus Syaih Hasyim Asyíari
dan Kyai Wahab Hasbulloh, memberikan nuansa tersendiri bagi perjalanan
sosial intelektual Islam. 



Salah satu yang hingga saat ini masih berlangsung adalah forum bahtsul
masail yang diadakan pada setiap acara NU, baik di tingkat pengurus
besar (PB) maupun majelis wakil cabang (MWC).Dalam sejarahnya, bahtsul
masail adalah forum intelektual yang merespons berbagai persoalan
aktual yang terjadi di kalangan nahdliyyin.



Sebut saja, misalnya, hukum wajib mengusir penjajah Belanda, menerima
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk final, dan
memberikan gelar waliyyu al-amri dharuri bi al-syaukah kepada Presiden
Soekarno, menjadi diskursus inteletual yang menjadi perbedaan pendapat
di kalangan intelektual NU pada saat itu. Tak heran apabila NU menjadi
organisasi sosial keagamaan yang disegani oleh semua pihak.



Kontroversi bahtsul masail di Jepara pada penghujung 2007 tentang
keharaman rencana pembangunan PLTN di Jepara, serasa menggugah tidur
kaum nahdliyyin yang ada di berbagai tingkatan.



Pasca-bahtsul masail PCNU Jepara, NU menyita banyak perhatian publik,
baik yang pro maupun kontra PLTN. Bahtsul masail ternyata masih mampu
menarik perhatian masyarakat luas, yakni membahas persoalan krusial
yang bersinggungan langsung dengan warga masyarakat.



Selama ini agenda bahtsul masail tidak banyak memberikan solusi
pemecahan terhadap permasalahan masyarakat secara umum. Bahkan forum
itu terasa hanya sebuah ritual acara yang digelar pad setiap konferensi
dan musker di PWNU hingga MWC NU.



Perdebatan intelektual tidak lagi mendapat ruang publik di NU, bahkan
terjadi gap pemikiran di kalangan tua dengan kalangan muda. Tokoh-tokoh
muda seperti Ulil Abshar Abdalla yang liberal, tidak lagi mendapat
tempat untuk mengembangkan gagasan-gagasan liberalnya. Bahkan,
sebagaian kiai NU ikut-ikutan menghujat pemikiran Ulil dan
teman-temannya. Bukankah mereka adalah kader-kader pesantren yang
potensial?

Politik dan Sosial 
NU bukanlah organisasi sosial politik, tapi tidak mengharamkan warganya
untuk berpolitik. Berpolitik adalah hak bagi seluruh warga negara,
termasuk kaum nahdliyyin. Bahkan politik adalah wajib bagi setiap
komunitas muslim.



Hadis Nabi Muhammad SAW menyatakan, idza kharaja tsalatsatun minkum fal
yuammiru ahadukum (apabila ada tiga orang di antara kamu keluar rumah,
maka salah satu di antara kamu harus menjadi pemimpin).



Sebagai sebuah institusi besar yang mempunyai puluhan juta anggota di
Jawa Tengah, NU harus mampu memainkan peran sebagai pengayom para
aktivis NU yang bergiat di berbagai parpol. NU harus bisa menjadi
rujukan bagi mereka. Karena itu NU harus mempunyai figur yang mampu
bermain politik pada ranah strategis, bukan pelaku politik praktis.



Kegagalan dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004 dan Pemilihan
Gubernur (Pilgub) Jateng 2008 kemarin, menjadi pelajaran berharga bagi
NU dalam merumuskan peran politiknya pada konstalasi politik, baik
politik nasional maupun politik lokal.



Kearifan NU dalam berpolitik sangat ditunggu oleh kaum nahdliyyin yang
selama ini merasa ditinggalkan oleh tokoh-tokoh panutannya. Banyaknya
golongan putih (golput) di Jawa Tengah tidak bisa dilepaskan dari peran
warga nahdliyyin yang bimbang dalam menyalurkan aspirasinya.



Begitu juga dalam perspektif sosial budaya, besarnya warga NU di Jawa
Tengah tentu memberikan konstribusi yang tidak sedikit bagi pembangunan
di provinsi tersebut.

Di tengah masyarakat yang paternalistik, kiai-kiai kampung yang nota
bene adalah kaum nahdliyyin bisa memainkan peran sebagai agent social
of change (agen perubahan sosial). Kiai tidak saja sebagai pembawa
risalah kenabian, tetapi juga sebagai tokoh pelaku perubahan masyarakat.



Forum warga, misalnya, yang tumbuh di berbagai daerah seperti Tegal,
Jepara, dan Cilacap, menempatkan kiai-kiai di daerah menjadi tokoh
perubahan sosial. Melalui sarana khutbah, pengajian, dan berbagai
ritual budaya Islam, masyarakat bisa diajak untuk menatap masa depan
yang cerah, tanpa harus bergantung kepada institusi mana pun, termasuk
institusi negara.



Sayangnya, mereka berjalan tanpa dikoordinasi oleh struktur NU.
Akibatnya, kekuatan itu belum bersifat massif sebagai kekutan riil NU.
Mereka banyak dikordinasi oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang
didominasi oleh pengurus dari nahdliyyin. Sementara itu NU dengan
berbagai kegiatannya belum bisa menjamah ranah sosial kemasyarakatan
yang sesungguhnya amat penting. 



Bila tiga agenda tersebut terbukti membuka jalan ke depan, maka yang
perlu dipikirikan adalah rencana tindak lanjut kegiatannya. Kesamaan
dalam memperjuangkan misi ahlussunnah waljamaah yang dirumuskan dalam
prinsip tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleransi), dan tawasut
(moderat), dalam berbagai bidang kehidupan, segala persoalan di
kalangan warga NU bisa dipecahkan.

Begitu juga dengan agenda PWNU Jawa Tengah ke depan, harus mampu untuk
men-support beberapa hal. Di antaranya, pertama, mendorong tumbuhnya
diskursus intelektual keagamaan yang moderat, terutama terhadap
gelombang pemikiran kaum muda. Kedua, memberikan kesempatan kepada
nahdliyyin untuk mengapresiasi politik sesuai dengan hak-haknya. NU
harus bisa menjadi pengayom bagi warganya tanpa melihat latar belakang
parpolnya. Ketiga, munculnya tokoh-tokoh lokal yang berkultur NU dengan
berbagai konsentrasi masing-masing, bisa diberi tempat untuk
aktualisasi diri di dalam organisasi.(68)



–– Imam Yahya, staf Pengajar Sekolah Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang dan 
Ketua Lakpesdam NU Jateng.




      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke