Iklan "simpati pede" mengatakan gak selamanya angka 13 serem. Ternyata di simpati angka 13 nyenengin. He he he. Nyambung gak siiiih.
--- In [email protected], "kader cikarang" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Celaka 13! > > Oleh: KH. A. Mustofa Bisri > > > Sejak PKB dideklarasikan, saya selalu disebut-sebut sebagai salah seorang > deklarator; bahkan tidak jarang foto saya ikut mejeng di belakang gambar Gus > Dur di baliho-baliho atau spanduk-spanduk. Kabarnya, kemarin di MLB Parung > maupun Ancol pun terpasang spanduk yang juga ada gambar saya. > > > Meskipun saya tidak hadir di Ciganjur saat deklarasi PKB yang konon sangat > meriah, dulu saya diam saja disebut-sebut sebagai salah satu deklarator. > Saya pikir, *wong* hanya begitu saja; lagi pula deklarator disebut-sebut *kan > *sebelum ada muktamar. Nanti kalau sudah ada muktamar *kan *tidak akan > disebut-sebut lagi. > > > Ternyata, saya salah. Sampai 7 (tujuh) kali muktamar PKB (kebanyakan > muktamar luar biasa), nama saya sebagai deklarator masih disebut-sebut. > > > Semula PKB kompak dan hasilnya lumayan. Namun, mungkin karena hasilnya > lumayan itulah, kekompakannya mulai terganggu. > > > Misalnya, mulai timbul kubu-kubuan. Mulai kubu Gus Dur/Alwi v kubu Matori; > kubu Gus Dur/Alwi v kubu Saifullah/beberapa kiai; kubu Gus Dur/Muhaimin v > kubu Saifullah/Anam/Alwi/beberapa kiai; sampai terakhir kubu Gus > Dur/Yenny/Ali Masykur v Muhaimin cs. > > > Saya pun mulai malu dan dari saat ke saat semakin malu dikait-kaitkan dengan > pendeklarasian PKB. Klimaksnya adalah menyaksikan tontonan perkelahian > telanjang Yenny dengan Muhaimin di depan para pimpinan partai dan khalayak > Indonesia. Maka, sebelum amplop nomor undian PKB dibuka, saya pun sudah > ingin nyeletuk: "Celaka 13!" > > > Sebelumnya, saya terheran-heran mendengar komentar dari DPP PKB yang > menyatakan kaget jago PKB di Pilgub Jawa Tengah kalah. Saya terheran-heran *kok > ya *ada pimpinan PKB yang kaget mendengar calon PKB kalah; > *wong*calon-calonnya sendiri tidak kaget. Berarti memang ada pimpinan > PKB di atas > yang tidak *mudheng* dengan kondisi riil di bawah. > > > Pantas saja mereka seperti tidak prihatin dengan kebingungan konstituen > mereka sendiri di bawah dan dengan *ndableg*-nya terus bertikai yang entah > berebut apa. > > > Tiba-tiba saya teringat analisis seorang kawan yang melihat Gus Dur /PKB > dari prespektif "kewalian". Dia memulai dengan menceritakan kisah Nabi Musa > dan Nabi Khidir. > > > Seperti dikisahkan dalam kitab suci Alquran, Nabi Musa tidak kunjung paham > dengan apa yang dilakukan Nabi Khidir sebagai orang yang akan diikutinya. > Berkali-kali Nabi Musa yang ilmunya "baru" syariat menegur dan mengecam apa > yang dilakukan Nabi Khidir yang berilmu hakikat. Melihat Nabi Khidir merusak > perahu nelayan yang ditumpanginya, Nabi Musa kontan menegur dengan nada > menyalahkan. Melihat Nabi Khidir membunuh anak kecil, Nabi Musa menegur dan > mengecam. > > > Pun juga melihat Nabi Khidir memperbaiki dinding orang yang akan roboh, Nabi > Musa menegur dan mengecam. Akhirnya, Nabi Khidir pun mengucapkan selamat > berpisah kepada Nabi Musa. > > > Intinya, kawan saya ini ingin menganalogkan apa yang dilakukan Gus Dur > dengan apa yang dilakukan Nabi Khidir dan ketidakpahaman orang dengan > ketidakpahaman Nabi Musa. > > > ''Kalau kiai-kiai yang dulu mati-matian mendukung Gus Dur itu paham, mereka > tidak akan mendirikan partai baru,'' katanya. ''Mereka mendirikan partai > baru karena jengkel dengan kelakuan awur-awuran Gus Dur dalam memimpin PKB. > Padahal, Gus Dur memang sengaja membuat mereka jengkel agar mereka benci dan > meninggalkan kehidupan kepartaian yang awur-awuran.'' > > > ''Sekarang ini,'' kata si kawan melanjutkan "analisis''-nya, ''justru > menjelang Pemilu 2009 Gus Dur seperti sengaja membunuhi anak-anaknya sendiri > dan merusak perahunya yang bernama PKB. Karena ''perahu'' itu milik > orang-orang miskin; jangan sampai dirampas dan dipakai oleh orang-orang yang > hanya ingin memperkaya diri, termasuk anak-anaknya sendiri." > > > Meskipun analisis itu kedengaran konyol dan *ngoyoworo*, melihat kelakuan > para pimpinan PKB yang sama-sama *ngotot* berebut benar sampai saat ini dan > mengingat semakin dekatnya jadwal pemilu, saya *kok *jadi khawatir: > jangan-jangan... Wah, celaka tiga belas! > > > KH Mustofa Bisri , pengasuh pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang. Dikenal > sebagai budayawan dan tokoh senior NU > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
