Salam. Saya setuju dengan Kang said. Tambahannya, penyeru pembentukan umatan islamiyah di atas umat wasato bukan produk rasul. Tapi sebuah aspirasi yang muncul di saat umat Islam menjadi penguasa politik. Sehingga umatan islamiyah digembar-gemborkan lebih karena ada konskwensi politik yang menguntungkan umat Islam, khususnya oknum-oknum yang menikmati persatuan ini dalam konteks politik dan budaya. Di lain pihak, memang ada yang mengusung slogan umatan islamiyatan berdasarkan keikhlasan dan karena sisi positif persatuan.
Kesimpulannya, slogan "umatan islamiyatan" terkadang menjadi slogan politis dan ada yang menggemborkannya berdasarkan keikhlasan. Tapi yang perlu digaris bawahi, slogan persatuan umat Islam ini hanya bersifat internal. Sedangkan dalam konteks kenegaraan, bahkan sebuah supra-negara (imperium), maka yang harus diusung adalah konsep "keragaman" atau yang disebut said agil sebagai umatan wasatho. Secara sosiologis justru slogan keragaman ini lebih diterima atau bahkan telah menjadi keharusan sosial. Contoh, Negara Madinah dengan piagam Madinah-nya, Kerajaan Abbasiyah yang mengakomodir orang Kristen dan Yahudi sebagai saintis dan dokter, Kerajaan Majapahit mengakui eksistensi agama Hindu Siwa dan Budha, sehingga dikenal slogan Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Darma Mangroa. Konsep "keragaman dalam persatuan" ini kemudian diadopsi oleh Indonesia sebagai dasar negara. Salam. --- In [email protected], Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Piagam Madinah merupakan Manifestasi Politik Kebangsaan > Kamis, 10 Juli 2008 14:18 > > Jakarta, /*NU Online*/ > Piagam madinah yang merupakan kesepakatan antara berbagai kelompok > masyarakat yang ada di Madinah, antara kelompok muhajirin dan ansor, > Muslim, Yahudi dan musyrikin merupakan manifestasi politik kebangsaan > dengan kesepakatan hidup bersama dalam damai. > > "Ini merupakan manifestasi politik kebangsaan, satu nusa satu bangsa, > semuanya sama untuk menuju sebuah masyarakat yang beradab," kata KH Said > Aqil Siradj dalam seminar mengenai multikulturalisme yang > diselenggarakan Muslimat NU di Jakarta, Kamis (10/7). > > Rasulullah pindah ke kota Madinah yang dahulunya bernama Yastrib dan > membangun komunitas yang berprinsip tauhid dengan tujuan ummatan > wasatho. "Jadi targetnya jelas, bukan membangun /ummatan arabiyyatan/, > bukan membangun /ummatan Islamiyyatan/, tapi /ummatan wasatho,/ umat > yang menjadi contoh bagi ummat yang lain," terangnya. > > Perjanjian hidup damai untuk seluruh komunitas ini tersebut bukan hanya > tertulis dalam secarik kertas, tetapi dilaksanakan dengan konsisten. > Rasulullah menegaskan "Barang siapa yang membunuh non muslim akan > berurusan dengan saya, menyakiti non muslim juga berurusan dengan saya." > Saat ada janazah Yahudi yang lewat, Rasululah juga berdiri untuk > menunjukkan penghormatan sebagai sesama manusia. > > "Pada waktu itu kan tidak ada yang bersikap seperti itu, semuanya masih > memikirkan diri dan kelompoknya masing-masing," tandasnya. > > Kang Said menjelaskan, penghargaan Rasulullah terhadap agama lain banyak > sekali tercermin dalam ucapan dan perilakunya, salah satunya, ia meminta > kepada Umar untuk menjaga kelompok Kristen Ortodok Koptik yang ada di > Mesir jika sudah menaklukkannya, ketika Romawi yang Nasrani kalah perang > dengan Persia, Nabi merasa susah sehingga diturunkan surat Ar Rum, yang > diantara isinya menceritakan pada peperangan selanjutnya Romawi akan > menang dan umat Islam harus bergembira atas kemenangan itu. > > Demikian pula, dalam Al Qur'an, terdapat surat Maryam untuk > merehabilitasi nama baik Maryan yang dituduh berzina. Tragedi orang > Kristen Najhan yang dibunuh penguasanya juga diabadikan dalam Al Qur'an > dalam ayat. > > Perlindungan terhadap umat yang lain terus dilanjutkan oleh umat Islam, > diantaranya yang dilakukan oleh Salahuddin al Ayyubi yang melindungi > Kristen Ortodok saat perang salib. > > "Allah tidak melarang berbuat baik pada non muslim yang baik, yang > dilarang berbuat pada non muslim yang berbuat jahat," tegasnya. > > Dijelaskannya, Islam, bukan hanya risalah akidah dan syariah, tetapi > yang lebih penting lagi, membawa misi kebudayaan, peradaban dan > masyarakat yang berkualitas, masyarakat tamaddun. "Sayangnya nilai Islam > yang luar biasa ini belum tercermin dalam perilaku. Saat ini kita > keropos dan lemah dari sisi peradabannya," ujarnya. (mkf) >
