90 PERSEN BENCANA DUNIA AKIBAT PERUBAHAN IKLIM
Padahal saat ini paling banyak hanya 200 ribu hingga satu juta orang saja di
Indonesia yang paham soal perubahan iklim dan ancaman-ancamannya.
DAN ada sekitar 220 juta orang penduduk Indonesia yang seharusnya mengerti
tentang fenomena perubahan iklim,
Dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Australia atau negara
adidaya Amerika Serikat, tingkat kepedulian dan rasio penduduk yang memahami
perubahan iklim Indonesia masih sangat rendah.
"Perlu ada penyadaran soal perubahan iklim, dan ini dengan kasih sayang,"
ujar Rachmat Witoelar, Menteri Lingkungan Hidup
milis Global Warming Indonesia mengajak seluruh komponen masyarakat indonesia
untuk mengkampanyekan bahaya perubahan iklim bagi bangsa Indonesia dan Dunia
pada umumnya, oleh karena itu mari bergabung dalam milis
:http://tech.groups.yahoo.com/group/globalwarming_indonesia/ atau subcribe di
:[EMAIL PROTECTED]
mari kita galakkan dan sadarkan 220 juta rakyat Indonesia untuk paham fenomena
pemanasan global dan perubahan iklim dunia, mulai sekarang !!!
trims
yayan
--- On Fri, 7/11/08, yayan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: yayan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Global Warming Indonesia ORG] PERUBAHAN IKLIM 90 PERSEN BENCANA
To: "global warming" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Friday, July 11, 2008, 1:49 AM
dari lokakarya media 21 global Journalism Network yang diadakan WMO, menyebukan
90 persen bencan di Dunia diakibatkan karena perubahan iklim, perbahan iklim
sendiri terjadi karena global warming....
selengkapnya. .......
GENEVA, RABU - Pada dekade terakhir ini, 90 persen bencana yang terjadi di
berbagai belahan dunia terkait dengan perubahan iklim. Peran media menjadi
sangat penting dalam menunjang edukasi untuk membuat langkah adaptasi dan
mitigasi mengurangi dampak perubahan iklim tersebut.
Demikian dikemukakan Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO)
Michel Jarraud dalam pembukaan lokakarya Media 21 Global Journalism Network
dengan tema Perubahan Iklim III: Dampak Terhadap Kawasan Pantai dan Negara
Kepulauan.
Loka karya yang dimulai Senin lalu hingga Kamis (26/6) di Geneva, Swiss, ini
akan dilanjutkan dengan tinjauan lapangan ke Benin, salah satu negara miskin di
wilayah Afrika barat hingga Jumat (4/7).
Bencana banjir merupakan bencana yang paling banyak terjadi dan menewaskan
ribuan orang dari berbagai negara setiap tahun, kata Jarraud.
Bencana banjir, lanjutnya, terjadi karena curah hujan ekstrem akibat gangguan
cuaca, seperti siklon tropis. Perhatian WMO kini, selain pada persoalan iklim
dan cuaca, juga pada persoalan air atau hidrologi.
Dampak lain adalah kekeringan yang mengancam keamanan pangan dunia. Pada
dasarnya, fenomena perubahan iklim menimbulkan curah hujan ekstrem dalam waktu
makin singkat, kemudian menjadikan masa kekeringan makin panjang.
Ketidakpastian alam menjadi semakin tinggi.
Tahun 1997 terjadi kekeringan berkepanjangan di wilayah Asia akibat El Nino.
Akan tetapi, pada 2007 dampak La Nina mengakibatkan musim hujan lebih lama di
Asia, termasuk Indonesia.
Di Indonesia dampak La Nina pada 2007-2008 juga mengakibatkan banjir yang
memakan korban jiwa.
Ancaman kelaparan
Berbagai bencana itu menimbulkan kerentanan sosial, di antaranya ancaman
kelaparan. Kepala Divisi Meteorologi Pertanian WMO Mannava Sivakumar
mengatakan, bahaya kelaparan saat ini mengancam 800 juta penduduk dunia. Dari
jumlah itu, 170 juta orang berusia di bawah lima tahun. Artinya, kini banyak
kasus gizi buruk yang merusak harapan bagi generasi mendatang.
Lokakarya ini diikuti 27 wartawan dari 24 negara. Selain berbagai narasumber
dari WMO, juga hadir sebagai narasumber Deputi Pengembangan Kemanusiaan pada
Badan Program Pembangunan PBB (UNDP) Cecilia Ugaz dan Gilles Sommeria-Klein,
konsultan IPCC (panel internasional mengenai perubahan iklim).
Nick Mills, jurnalis National Public Radio Amerika Serikat, memandu para
peserta untuk merumuskan tanggapan dan rencana aksi atas presentasi dari
segenap narasumber itu.
Berbagai persoalan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di berbagai negara
saat ini dihadapkan pada kemiskinan. Tetapi, fungsi media untuk edukasi tetap
harus dijalankan, antara lain menetapkan media paling murah dan paling mudah
dioperasikan, seperti radio, kata Mills. (NAW/KOMPAS)
oleh karena itu tepat sekali usul mas rully kemarin bahwa kita harus siap-siap
antisipasi dengan banyak publikasi dll....untuk mengatasi bencana ini.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/