Tulisan ini saya buat sebagai sebuah ekspresi kekecewaan dari seorang
warga NU yang kepada partai politik yang menjadi corong NU (PKB, PPP,
dan lain-lain), setelah kita temui banyaknya kasus korupsi di dalamnya
yang melibatkan kader-kader NU. Al Amin dan Yusuf Emir Feisal adalah
kasus terbaru, sebelumnya eks Menteri Agama Said Agil Munawar
tersandung kasus korupsi juga. Mungkin saja tulisan saya ini hanyalah
sebuah sambal terasi yang kurang menggigit, atau mungkin disebut
dengan sebuah curhat anak kecil yang belum kebagian kursi. Tapi
setidaknya saya bisa mengungkapkan suara hati minimal 70 orang yang
berkata dengan nada yang sama, jumlah yang sedikit memang, tapi mereka
juga saudara-saudara yang sangat concern terhadap NU.
Dari kecemasan dan nada sumbang yang keluar dari teman-teman saya.
Bisa kami identifikasi sebagai berikut :
a.      Masyarakat sudah tidak memandang NU sebagai gerakan masyarakat
kultural yang memperjuangkan aspirasi masyarakat kelas bawah, dan juga
berbagai partai politik yang mengklaim menjadi corongnya tidak bisa
memberikan sumbangsih secara maksimal untuk memeperjuangkan
kepentingan umat NU;
b.      Mayarakat memandang keanggotaan di NU hanyalah loncatan untuk
menggapai kursi perpolitikan di negeri ini ataupun pimpinan daerah;
c.      Masyarakat memandang perlunya peran ulama dalam membangun
masyarakat secara sosial dan turun ke bawah secara langsung, dan juga
kedudukan politik lebih berperan sebagai "pandito" dalam republik ini,
yang berani mengkritik pemerintah dan DPR.

Opini ini pastinya ada kekurangan, oleh karena itu kami mohon koreksi
dari teman-teman miling list, sebelum kita buat surat resminya ke PBNU.


Kirim email ke