Habib Luthfi Pun Menolak Jadi Penasihat PWNU Jateng
Ahad, 20 Juli 2008 05:21

Pekalongan, */NU Online
/*Habib Muhammad Luthfi Ali bin Yahya menolak jika dijadikan mustasyar 
(penasihat) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah periode 
2008-2013. Namun, pemimpin tertinggi organisasi para ahli tarekat di 
bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) itu mengucapkan terima kasih karena 
telah diberikan kepercayaan.

Habib Luthfi mengungkapkan hal itu di kediamannya, Jalan Dr Wahidin, 
Pekalongan Timur, Jawa Tengah, Sabtu (19/7). Beberapa alasan mendasari 
penolakannya yakni, seseorang tugas di dalam atau yang diangkat menjadi 
penasihat walaupun tidak harus menjaga gawang, tapi "menjemput bola".

"Tetapi, namanya penasihat boleh saja atas segala nasihatnya untuk 
dipakai atau tidak. Itu dalam wewenang mutlak sebagai ketua organisasi 
atau pimpinan. Walau pun demikian, seseorang yang tinggi dalam 
kepedulian adalah suatu beban," katanya.

Karena itu, dengan mempertimbangkan tugasnya dan kesibukan sehari-hari 
dalam tanggung jawab menjalankan amanat muktamar sebagai Rois Aam 
Jam'iyyah Thariqah An-Nahdliyah, dia memohon kelapangan dada dan 
memaklumi atas ketidaksediaannya untuk dijadikan penasehat PWNU.

"Saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan suatu kehormatan 
untuk diri saya dimasukkan dalam jajaran penasehat PWNU Jateng," tandas 
Habib Lutfi.

Tetapi, segala kesibukan dan tanggung jawab yang telah diemban, maka 
Habib Luthfi menyampaikan permohonan maaf karena tidak bersedia menjadi 
penasihat. Meski belum mendapatkan pemberitahuan secara langsung 
dimasukkan dalam jajaran Mustasyar PWNU, tapi ulama kharismatik tersebut 
telah berinisiatif mengajukan surat kepada PWNU terkait masalah demikian.

Habib Luthfi bukan satu-satunya tokoh NU yang menolak jabatan tersebut. 
Rais Aam Pengurus Besar NU KH Sahal Mahfudh juga bersikap demikian. Ia 
menolak secara tegas menolak namanya dicantumkan sebagai mustasyar dalam 
susunan PWNU Jateng periode 2008-2013.

"Tidak ada manfaatnya keberadaan saya di tempat itu. Saya tidak mau 
melakukan sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Untuk apa nama saya 
dipasang-pasang, tidak ada artinya," tegasnya kepada wartawan, Rabu 
(16/7) lalu.

Dia baru mengetahui namanya dimasukkan dalam jajaran Mustasyar PWNU dari 
koran. "Sampai hari ini saya belum dihubungi siapa-siapa mengenai 
pencantuman nama saya. Tetapi nanti kalau ada yang datang memberi tahu, 
jawaban saya tetap sama menolak atau tidak bersedia," tegasnya. (sm)



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke