Antara Tanam Paksa dan BLBI
oleh : Rullan (Forum Muda Paramadina)

"Jas Merah !" (Jangan sekali-kali melupakan sejarah)
--Bung Karno

A. TANAM PAKSA

Waktu menerima pelajaran sejarah waktu Sekolah dulu,dengan sederhana
para guru sejarah saya

menyatakan bahwa kekalahan kita sehingga bisa dijajah karena politik
"Devide Et Impera" atau

politik adu domba.Begitu saja titik,tanpa diberi tahu detil cara Belanda
mengelabui kita.saya pun cukup puas dengan penjelasan itu,tapi setelah
membaca buku karya Ong Hok Ham berjudul "Dari Soal Priyayi sampai Nyi
Blorong" saya jadi lebih paham strategi Belanda tersebut.
Jadi ringkasnya strategi Belanda adalah sbb :

1. Kerjasama dengan para bupati diperkuat,caranya dengan membeli
kepemilikan tanah para bupati dengan menggantinya dengan perlindungan
militer dan 'gaji' tetap.Para bupati ini mau saja karena mereka tidak
menganggap penting arti tanah di waktu itu karena mereka mendapatkannya
dari warisan turun-temurun dan belum ada sistem agraria komersial
seperti sekarang.Hal ini dimungkinkan karena sistem pemerintahan itu
menganggap bahwa seluruh tanah di wilayah kekuasaan bupati itu adalah
milik bupati dan para priyayi.

2. Para bupati dan pembantunya sewaktu-waktu bisa dipindahtugas ke
daerah lain terutama ke daerah yang ada ikatan darah dengan bupati di
tempat tersebut.Ini strategi halus dari Belanda untuk memperkecil
pengaruh bupati yang terlihat kurang kooperatif (semacam pengasingan)

3. Para Bupati yang telah bekerjasama dengan Belanda biasanya tidak akan
loyal lagi dengan keraton pusat tempat raja mereka bertahta.Para bupati
itu tentu akan lebih memilih Belanda yang memberikan mereka subsidi
tetap setiap bulan daripada harus membayar upeti ke pemerintah
pusat.Tentu saja Belanda betul-betul memperhitungkan kekuatan pemerintah
pusat sebelum bekerjasama dengan para bupati itu,biasanya yang diajak
kerjasama oleh Belanda adalah daerah-daerah di wilayah kerajaan yang
telah jatuh miskin karena pemberontakan dan peperangan.Misalnya ketika
Belanda melindungi Bupati Madiun dari serangan laskar Diponegoro.

4. Ketika Van Den Bosch mencanangkan program Tanam Paksa (1830-1870)
selepas Perang Diponegoro,fungsi para bupati dan penguasa lokal adalah
menjadi birokrat bagi Belanda,mereka akan mendapat cultuurprocenten
(semacam insentif) jika mereka bisa mengirimkan hasil tanam paksa
(gula,kopi,teh) melebihi target.Gaya hidup para penguasa lokal itu mirip
seorang sultan kecil yang memiliki pengawal dan segala
atributnya,pokoknya hidup mereka dan keluarganya sangat layak di tengah
rakyat kecil yang harus bkerja keras bagai kuda akibat sistem tanam
paksa.


B. BLBI dan OBLIGASI REKAP

Saya tiba-tiba kok teringat dengan fenomena kasus BLBI yang ceritanya
sbb :
(Sumber : Kompas 25 Mei 2003)

1. Karena krisis ekonomi dan disebut-sebut atas saran IMF,BI mengucurkan
dana BLBI kepada 48 bank.Maksudnya sebenarnya baik, yakni untuk menolong
bank- bank yang sekarat di saat darurat. Apalagi, waktu itu, tindakan
itu juga disertai tanggung jawab pemerintah sebagai penjaminan atas
kewajiban bank umum yang didasari Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 26
Tahun 1998.Maka, dikucurkanlah dana BLBI sebesar Rp 144,5 triliun,
ditambah Rp 14,447 triliun per 29 Januari 1999, sehingga totalnya
menjadi Rp 158,9 triliun.

2. Namun pemerintah tidak melihat bahwa akar permasalahan ketidak
percayaan ini bukan hanya semata emosional investor akibat krisis di
Thailand. Melainkan, ketidak percayaan investor ini memang disebabkan
oleh kondisi fundamental ekonomi Indonesia sendiri yang tidak kokoh,
dimana beban utang sudah sangat besar.Dalam diagnosa selanjutnya,
beberapa saran diberikan oleh IMF agar dilakukan oleh pemerintah
Indonesia seperti yang tercantum dalam Letter of Intent, dimana salah
satunya adalah penutupan 16 bank. Nah di sinilah asal muasal dari
problema yang memunculkan obligasi rekap. Akibat salah perhitungan serta
kurang siapnya pemerintah dalam melikuidasi 16 bank tersebut, dimana
pada mulanya pemerintah tidak menjamin dana nasabah, telah memicu rush
(penarikan dana besar-besaran) oleh nasabah pada sebagian besar bank
lainnya. Apabila perbankan tidak memiliki dana cash, maka ambruklah
system perbankan di Indonesia.

3.Guna mengatasi masalah likuiditas perbankan ini, maka Bank Indonesia
memberikan dana pinjaman dalam bentuk KLBI dan BLBI, sehingga bank yang
diserbu nasabahnya tetap dapat memenuhi kewajibannya. Namun demikian,
tentu saja dana pinjaman tersebut harus dipertanggung jawabkan oleh
perbankan itu sendiri.
Akan tetapi, karena memang sistem perbankan sudah sangat kacau, dana
BLBI tersebut tidak bisa dikembalikan. Akibatnya, pemerintah menanggung
dana BLBI tersebut dengan mengeluarkan obligasi senilai 400 triliun
lebih,  sehingga total jenderal ditambah SUP untuk kredit program
mencapai Rp 650 triliun, yang harus dibayar saat jatuh tempo. Adapun
bunga- nya hampir Rp 60 triliun  harus selalu dibayar pemerintah setiap
tahun.
INGAT ITU BUNGANYA AJA LO !

4. Tahun 2008 ini pemerintah lebih memilih kenaikan BBM dengan
mengurangi subsidi untuk mengurangi beban APBN shg kondisi rakyat kecil
pun makin sengsara,entah strategi untuk tahun depan apa lagi karena
harga minyak dunia hampir pasti akan terus naik karena semakin
terbatasnya suplai dan semakin tingginya permintaan.Sedangkan pendapatan
rakyat indonesia apa juga makin naik ?


Kalo kita lihat dua kasus di atas ada kemiripan,rakyat kecil sama-sama
dirugikan dan kita mengalami dilema dalam mengambil keputusan,pilihan
yang ada bukan pilihan bagus.
Dalam Kasus Tanam Paksa,para penguasa lokal tidak bisa melawan karena
telah terlanjur menandatangani perjanjian dan tidak punya dana dan
kalaupun ada tanda-tanda akan melawan akan dipindahkan oleh Belanda ke
daerah lain dari daerah asalnya untuk menghindari mobilisasi pendukung.


Dalam kasus BLBI pemerintah juga dibuat tidak berdaya dengan kesalahan
keputusan di masa lalu yang dengan ceroboh melikuidasi 16 bank sehingga
harus membuat obligasi rekap 400 T.Belum lagi masalah penyaluran dananya
yang bermasalah oleh BPK karena dinilai banyak penyelewengan,banyak
agunan yang bodong,bermasalah dan nilai agunannya jauh di bawah nilai
utang yang dipinjam dari pemerintah.
Bedanya di kasus tanam paksa yang mengambil keuntungan adalah Belanda
sedangkan dalam kasus BLBI dan Obligasi Rekap, penjajahnya adalah para
konglomerat hitam.

Jadi sebandingkah dana rakyat 650 T dengan suap 600 M utk Jaksa Urip?
Jadi sudah merdekakah kita?



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke