ICIS KE-3, MOMENTUN UNTUK MENJAUHI SIKAP APOLOGIA


Pada 29
Juli hingga 1 Agustus 2008, Nahdlatul Ulama (NU) menggelar
International Conference Islamic Scholars (ICIS) ke-3 di Jakarta. Acara
yang bertema Upholding Islam As Rahmatan Lil Alamin: Peace Building and 
Conflict Prevention tersebutdiikuti ratusan ulama dan cendekiawan dari 
negara-negara Muslim, termasuk Indonesia.

Rasanya,
tema yang diusung ICIS ke-3 ini sungguh bermakna penting, tepat, serta
tak menghilangkan nalar kritis atas kondisi negara-negara Muslim di
dunia. Kenapa penting dan tepat? Karena mata dunia melihat bahwa
konflik di negara-negara Muslim masih terjadi hingga hari ini.

Salah
satu contoh penting dikemukakan di sini adalah krisis kemanusiaan di
Sudan, terutama di Darfur, dan Sudan bagian Selatan. Konflik kekerasan
berlatar belakang kehidupan sosial-politik (perebutan kekuasaan)
terjadi sejak Sudan merdeka dari Inggris pada 1956. Parahnya, situasi
sosial politik di Sudan saat ini belum menunjukkan adanya deeskalasi
konflik.

Konflik
tersebut disebut-sebut sebagai konflik terlama di benua Afrika. Tak
tanggung-tanggung, mengakibatkan ratusan ribu nyawa menjadi korban dan
jutaan penduduk terusir dari kampung halamannya, yang sebagian besar
adalah warga sipil. Begitu juga krisis di Teluk yang menyisakan perang
saudara di Irak sampai sekarang. Negeri "1001 Malam" ini telah luluh
lantak, dan puluhan ribu nyawa melayang sia-sia sejak invasi Amerika
Serikat dan sekutunya, pada 2003.

Ketegangan
juga terjadi di Arab Saudi. Di sana, meskipun tidak pecah konflik
kekerasan, hubungan antara mayoritas Wahabi (mazhab resmi negara) dan
penganut Syiah yang minoritas, mengalami ketegangan. Situasi sosial
politik di negara-negara Teluk lainnya, seperti Mesir, Syria, dan
Lebanon, dinilai seperti rumput kering yang siap terbakar.

Dan
jangan lupa, di negeri kita, negeri berpenduduk Muslim terbesar di
dunia, grafik konflik internal Islam mengalami kenaikan drastis sejak
rezim otoriter tumbang, pada 1998. Di antaranya, tidak sedikit yang
pecah menjadi kekerasan. Kekerasan fisik dan psikis yang dialami umat
Ahmadiyah adalah contoh problem yang nyata di negeri ini.

Beberapa
konflik tersebut belum menyertakan ketegangan hubungan antara penganut
Islam dan penganut agama lain, baik agama hanya merupakan kebetulan
ataupun sebagai latar belakang. Seperti yang terjadi antara Palestina
dan Israel, umat Islam di Pakistan dan India dengan pemeluk Hindu atau
Sikh, umat Islam di Thailand Selatan dengan pemerintah, juga di
Filipina Selatan.

Di
awal penulis menyebutkan bahwa tema ICIS kali ini tidak menghilangkan
nalar kritisisme internal umat Islam. Kenapa? Jawabnya tidak lain
karena dengan mengusung tema Peace Building and Conflict Prevention,
secara otomatis ICIS ke-3 mengakui bahwa kondisi internal negara-negara
Muslim tidaklah berjalan mulus, seperti yang dicita-citakan, atau tidak
damai seperti norma-norma Islam, baik yang tertera dalam kitab suci
maupun sejarah Nabi Muhammad SAW. Penulis berpendapat, inilah
(kritisisme dari dalam/otokritik) salah satu sikap yang perlu
dikembangkan dalam forum yang strategis itu, sebagai pijakan untuk
membangun dialog secara jujur, terbuka, adil, dan dinamis.

Sikap Apologia
Otokritik atau dalam literatur Islam dikenal dengan istilah muhasabah bin nafsi 
(koreksi
diri), akan berjalan dengan sehat manakala disertai dengan menghindari
sikap apologia, yaitu sikap pembelaan yang bertumpu pada kebenaran
tunggal dan memandang yang lain secara negatif.

Dalam
sejarah agama-agama Samawi, sikap apologia bukanlah sesuatu yang baru.
Sikap ini tumbuh bersamaan dengan berkembangnya kelompok atau aliran
dalam agama-agama. Sikap apologia direproduksi tiada henti sampai hari
ini, karena tampaknya memiliki pembenaran secara teologis. Sikap
apologia ini muncul karena rasa tak percaya diri, yang pada akhirnya
mengunci diri dari pemahaman lain secara apriori. Apologia itu juga
lahir dari rasa cemas dikalahkan atau diungguli pihak atau kelompok
lain.

Sikap
apologia semacam itu berdampak pada penganggapan bahwa kebenaran itu
tunggal. Jalan menuju kebenaran hanya ada satu, sementara yang lain
berada di luar konsep kebenaran. Dalam istilah tasawuf, apologi dekat
dengan penyakit hati: 'ujub, yaitu sifat di mana seseorang
merasa diri lebih baik, sehingga menolak kebaikan atau kebenaran orang
lain, bangga dan senang dengan dirinya, senang dengan yang
diucapkannya, hingga meremehkan orang lain. Alquran telah merekam
perilaku orang 'ujub (narsis) dalam surat Fushilat ayat 15, "Adapun
kaum 'Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang
benar dan berkata: 'Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?'
Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan
mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah
mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami."

Dalam
diskursus keilmuan, sikap apologia harus dijauhkan, karena antidialog
dan antiuji-kebenaran. Apologia juga tidak bisa mengiringi keimanan
seseorang, karena iman mensyaratkan akal sehat dan argumentasi yang
ilmiah. Sikap apologia hanya akan menjadikan keilmuan dan keimanan kita
dingin, beku, dan murung. Dengan demikian, dari segi apa pun, sikap
apologia tidak bisa dipertahankan dan dibenarkan.

Kritisisme
internal dan menjauhi sikap apologia ini penting dan jelas bermanfaat
ketimbang berangan-angan (utopisme) mempersatukan umat Islam dalam satu
kibaran bendera dan satu kekuasaan, serta tentunya ketimbang
menyalahkan pihak lain. Bukankah forum ICIS ini ada karena didasari
kesadaran bahwa pendapat, sikap, dan keadaan negara-negara berpenduduk
Muslim ini beraneka ragam, tidak padu?

Rasanya
mungkin seperti berteriak di padang pasir jika kita mengharap pada ICIS
ke-3 ini dapat menemukan setitik cahaya untuk mengurai konflik purba;
perang antarklan, antarkabilah, antarkelompok teologis untuk menguasai
sepetak tanah atau sesumur minyak.
Kesulitan
dan rintangan? Pasti akan datang mengadang. Harapan dan dukungan juga
pasti akan berkunjung, tentu dengan syarat bahwa ICIS tidak berhenti
seperti hajatan reguler, melainkan tekad bulat untuk mewujudkan Islamrahmatan 
lil 'alamin, Islam yang dicita-citakan Tuhan. (Hamzah Sahal; Suara pembaruan, 
5/8)



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke