FYI saja...

---------- Forwarded message ----------
From: *abu matta* [EMAIL PROTECTED]
Date: Aug 5, 2008 5:28 PM
Subject: Kenapa Penerima Suap BI dari PKS Luput dari Perhatian Media?
To:



Kasus aliran dana BI ke DPR menjadi berita hangat di media sepakan ini.
Bahkan beberapa media menulis daftar anggota DPR periode 1999-2004 yang
menerima duit lengkap dengan jumlahnya. Daftar itu memanjang dan
berurutan dari satu fraksi satu ke fraksi yang lain. Paskah Suzetta
dari Golkar misalnya ditulis menerima Rp 1 miliar. Lalu MS Kaban dari
PBB menerima Rp 300 juta.

Yang jadi pertanyaan, kenapa media tidak kritis kalau anggota DPR dari
PKS juga ada yang menarima. Dia adalah TB Soenmandjaja. Saat itu dia
bergabung dalam Fraksi Reformasi karena Partai Keadilan (sekarang PKS)
tidak cukup kuota menjadi fraksi sendiri. Semua perhatian media fokus
ke partai besar. Pada saat bersama PKS mengambil keuntungan dengan
teriak-teriak sebagai partai bersih.

Pada saat daftar ini muncul dari persidangan Hamka Yandhu, petinggi PKS
sempat kelimpungan dan bikin rapat mendadak di Mampang Prapatan. Tapi,
tidak ada media yang menulis esok harinya. Keresahan petinggi PKS
beralasan sekali. Bukan cuma berdampak pada citra partai, tapi TB
Soenmandjaja sekarang sedang menjadi calon Bupati Bogor yang diusung
PKS.

Kasus Bogor sangat menarik. Untuk pemilihan bupati, PKS mencalonkan
penerima suap BI. Sedangkan untuk pemilihan Wali Kota Bogor, PKS
mengajukan Ahmad Ru'yat sebagai calon wakil wali kota. Padahal Ahmad
Ru'yat tersangkut kasus korupsi Wakil Wali Kota Bogor Ahmad Sahid yang
sekarang jadi tahanan rumah.

Apakah kasus korupsi PKS yang lupur dari media ini merupakan hasil
operasi intelejen PKS yang dijalankan Soeripto? Semua tahu Soeripto
adalah anggota DPR dari PKS. Dia bekas petinggi BAKIN. Mari renungkan
bersama. Jangan sampai kita tertipu oleh pencitraan dan slogan-slogan
bersih yang dikampanyekan PKS.

salam,

abu matta


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke