Teori Pemurnian Tauhid
  Oleh : Mochammad Moealliem
   
  
  Abdau bismillahi war rohmani, wa bir rohimi daimil ihsani, Aku mulai dengan 
menyebut nama Allah, Dzat yang penyayang, dan Dzat yang pengasih yang 
senantiasa baik dalam segala hal. Demikianlah pembukaan dalam pelajaran tauhid 
diawal saya belajar ketika masih SD, tiba-tiba saja saya ingin menulis beberapa 
hal yang menurut saya perlu diluruskan, baik dalam tauhid dan sebagainya, dari 
berbagai madzhab teologi yang saya tahu, wahabi, syiah dan mungkin juga dari 
beberapa ajaran sufisme yang mengalami penyelewengan. Saya yakin setiap madzhab 
punya kebenaran, namun juga punya kesalahan.
   
  
  Tauhid adalah penyatuan, kata tauhid adalah masdar dari fiil madli wahada, 
dan isim failnya adalah waahid, waahid artinya sang penyatu, dan penyatu itu 
sekaligus wahid atau yang satu, satu yang tidak menjadi dua, tiga dan 
seterusnya, satu yang tunggal, satu yang esa, satu yang tidak berkelamin, satu 
yang dhohir, satu yang bathin, satu yang ada, satu yang wujud.
   
  
  Memurnikan tauhid, anda pernah mendengar tentunya kata yang janggal ini, 
bagaimana bisa tauhid itu dimurnikan? Jika dimurnikan akan jadi tanpa tauhid. 
Yang perlu dimurnikan adalah jiwa dan hati, sebab jika jiwa dan hati telah 
murni maka tauhid itu akan bersemayam dengan sendirinya, tak akan ada yang 
mampu menyatukan semua orang kecuali Sang Satu, Dia menjadikan kita yang 
asalnya satu menjadi beraneka ragam untuk saling berkenalan, menjadikan Musa 
harus kenalan dengan hamba yang lain, sebagai bukti bahwa kebenaran yang 
dimiliki manusia tak akan pernah sempurna, diatas yang benar masih ada yang 
benar, dan yang benar secara hakiki adalah Sang Satu.
   
  
  Setiap agama akan memiliki madzhab yang bermacam-macam, hal demikian bisa 
kita lihat dalam berbagai agama didunia, tanpa terkecuali agama penulis. Setiap 
umat akan bersatu ketika dibawah pimpinan yang satu, sebagaimana umat-umat nabi 
terdahulu, mungkin hanya umat nabi Musa yang mengalami perpecahan dimasa 
pimpinannya masih hidup, sebab dipimpin dua nabi Musa dan Harun..
   
  
  Perpecahan umat nabi Isa, terjadi setelah (diangkatnya), perpecahan umat nabi 
muhammad pun setelah wafatnya, mungkin kita menganggap bukan perpecahan, namun 
perbedaan, akan tetapi perbedaan itu semakin hari semakin terasa masing-masing 
merasa sebagai yang satu. Maka semua akan merasa kami lah yang satu, kami lah 
yang satu, kami lah yang benar, yang lain adalah salah.
   
  
  Meskipun hal demikian telah ditentukan dan tak akan bisa dihindari, namun 
sebenaranya kita bisa mengambil pelajaran dari sejarah kita sendiri agar tak 
larut dan meneruskannya, meskipun hal demikian tidak menjamin akan terjadi, 
sebab nabi sendiri hanya diberitahu yang akan terjadi, namun beliau tak berhak 
dan tak akan mampu mencegah apa yang akan terjadi pada umatnya, kecuali 
mendapat taufiq, atau kesamaan antara usaha kita dengan kehendak Sang Satu.
   
  
  Kita tak akan bisa menjadikan orang mendapat hidayah, kita tak akan mampu 
meng islamkan orang dan sebaliknya. Kita hanya mampu menjadi sebabnya saja, 
maka jika ada orang yang merasa bisa menjadikan orang dapat hidayah, dapat 
mengislamkan orang, dia termasuk orang yang tertipu, nabi saja tak mampu meng 
islamkan abu tholib, dan Sang Satu pun telah memberitahu, laisa alaika hudahum, 
walakin Allah yahdi man yasa'.
   
  
  Kita sering berdoa agar kita menjadi sebab bagi orang-orang yang akan dapat 
hidayah, allahumma ij'alna sababan limanihtada. Namun kita sering mendengar 
seseorang memamerkan kehebatan dengan cara yang keliru seperti itu. Entah apa 
tujuannya, mereka berani menghitung orang yang masuk islam, sebagai hasil dari 
kerjanya, apalagi jika yang mendapat hidayah orang terkenal, secara tidak sadar 
terkadang menjadikan mereka sombong, padahal seyogyanya hal demikian untuk 
menguji mereka, sejauh mana rasa syukurnya pada Sang Satu, bukan malah lupa 
pada Sang Satu, sementara orang lain mendapat hidayah.
   
  
  Jangan anda pikir menjadi ulama tidak diuji, nabi tersayang pun tetap diuji, 
raja baik pun duji, raja jahat pun diuji dan semua yang terkena hukum taklif 
akan diuji, Allah itu adil dan tidak berpihak, hal demikian pun sebagai ujian 
agar kita berusaha keras, tidak manja, tidak bergantung buta, sebab ibadah kita 
bukanlah untuk menambah ketuhananNya, akan tetapi untuk kita sendiri, taat dan 
tidak taatnya seluruh makhluk tidak menambah atau mengurangi kekuasaanNya 
sedikit pun. Allah itu disucikan dari sifat butuh, butuh pada sesuatu adalah 
lemah.
   
  
  Apakah kita akan memaksa orang masuk surga? (dengan memaksa mengikuti madzhab 
kita), atau apakah kita akan memaksa orang masuk neraka?(dengan 
mengkafir-kafirkan semau kita), Tugas kita adalah mengajak, bukan memaksa. Kita 
paksa seperti apapun kalau tak termasuk daftar penghuninya tak akan berguna.
   
  
  Dakwah berarti mangajak, dakwah yang benar adalah dakwah ila Allah, mengajak 
untuk kembali kearah Sang Satu. Satu itu bukanlah wahabi, bukanlah syiah, bukan 
murjiah, bukan mu'tazilah, bukan pula ahlisunnah, satu itu ibarat samudra 
tempat bermuaranya seluruh sungai yang ada.
   
  
  Bukankah nabi Ibrahim termasuk orang yang bertauhid? Apakah dia wahabi, 
apakah dia syiah, apakah dia ahlisunnah, apakah dia nasrani, apakah dia yahudi? 
Jawabannya adalah tidak semuanya, dia adalah Islam (Pasrah pada yang Satu). 
Jika begitu kenapa masih ada diantara kita yang merasa paling benar dari yang 
lain?
   
  
  Kita dari sumber yang sama, sumber yang satu, namun kita dibuat berbeda, agar 
punya semangat dan selera dalam menuju samudra, tidak ada sungai yang tidak 
berliku, lomba tanpa pesaing tak akan meriah, maka janganlah kita bertengkar 
sementara perjalanan kita makin tertunda, mari bersaing siapa yang lebih dekat 
jaraknya dengan samudra.
   
  
  Kamu boleh mengkritik teori yang aku pakai, namun kamu juga harus terbuka 
dengan kritik atas teori yang kamu pakai, bukankah orang lain lebih tahu 
kekurangan kita. Namun kita tak boleh anarkis jika teori kita terbuka 
kekurangannya, bukan asal mencaci maki karena ingin dianggap suci, apalagi tak 
punya jawaban langsung mencaci-maki, nabi Muhammad saja kalau tak punya jawaban 
akan diam, menunggu jawaban dari Sang Satu.
   
  
  Dalam hal ini saya ingin menulis beberapa hal yang menurut saya keliru, 
sebagai kewajiban saya menyampaikan, agar saya tidak menanggung dosa atas 
seseuatu yang saya tahu, bukankah ketika melihat kemungkaran kita harus 
merubahnya, namun bukan menghancurkannya, karena kemungkaran itu bukan benda, 
jadi tak mungkin dirubah dengan tangan, namun kemungkaran itu adalah 
ucapan/fatwa, tentunya mengubahnya pun dengan ucapan/tulisan, anda setuju atau 
tidak, bukanlah tanggunganku.
   
  
  Untuk orang wahabi, suatu ketika saya membaca fatwa dari ulama wahabi, syeikh 
utsamin, dalam buku seingat saya judulnya "fatawa arkanul islam", disana saya 
membaca beberapa fatwa, namun ada yang menjadi ganjalan dihatiku, dan sampai 
saat ini saya tak pernah bertemu dengan syeikh utsaimin itu, maka saya titip 
kepada kawan-kawan wahabi dimana saja untuk menyampaikan ini, barangkali akan 
menjadikan kebaikan. Atau mungkin aku tak bisa memahami maksudnya silahkan 
kepada orang wahabi untuk menjawabnya.
   
  
  Orang wahabi, ketika mengartikan yadullohi fauqo aidihim, mengatakan bahwa 
itu adalah tangan alias maknanya hakiki bukan majaz, begitu pula fatwa syeikh 
utsaimin itu. Kemudian jika mengartikan wajhullah, adalah wajah secara hakiki, 
begitupula yang saya baca dalam buku itu, mereka mengatakan semua adalah hakiki 
dengan catatan "bila kaifa". Yang menjadikan saya menganggap keliru ketika ada 
ayat, kullu syaiin ha likun illa wajhah. (segala sesuatu akan rusak kecuali 
wajahNya) Jika itu tangan hakiki, dan wajah hakiki. Maka ayat ini menurut teori 
wahabi akan bermakna, bahwa tangan Allah akan rusak, padahal Allah tak akan 
rusak. Silahkan dijawab?
   
  
  Untuk orang Sufi, janganlah mengunggulkan terlalu tinggi pada mursyid anda, 
jika anda terlalu mengunggulkannya, bukankah anda termasuk yang tertipu. 
Ingatlah dalam sufi lebih banyak rintangan dan jebakan, janganlah karena 
menempuh hakikat meninggalkan syariat, hal demikian juga penipuan. Ingatlah 
Syariat tanpa hakikat adalah bangkai, dan hakikat tanpa syariat adalah hantu. 
Bersufilah namun fiqh harus dipakai, pun juga berfiqihlah namun jangan lupa 
bertasawuf atau tazkiyatun nafs. 
   
  
  Untuk yang suka ziarah qubur, ziarahlah tapi jangan seperti mereka yang 
meminta pada orang mati, jika tak mampu menemui janganlah minta bantuan 
padanya, cukuplah berikan hadiah doa yang kamu baca, sebab jika kamu menangis, 
merengek diatas kuburnya, kamu seperti orang gila yang minta pada yang tak 
mampu berbuat apa-apa. Ziarahlah sebagai bahan untuk ingat bahwa kamu akan 
menyusulnya, ziarahlah sebagai penghormatan, ziarahlah sebagai rasa kasih 
sayang, diterima atau tidak hadiah doa yang kamu baca, adalah hak Allah, 
setidaknya kamu telah membaca kalam-Nya.
   
  
  Untuk pedagang dipasar, tepatkan timbanganmu, entah kenapa aku tak mampu 
mengingatkan para pedagang yang mengurangi timbangan didekat penulis belajar. 
Untuk tahu, cobalah anda lihat timbel timbangan akan tetap ada diatas timbangan 
itu, meskipun kosong, penulis pernah tak sengaja mengangkat timbel untuk 
diganti yang lain, namun ternyata belum diganti timbangan tidak stabil, dan 
ternyata itu dilakukan mayoritas, pedagang buah, dan sejenisnya, ketika penulis 
tanya orang itu bilang "kena angin" aku tersenyum, malah kawanku yang 
memarahinya, namun tak bisa merubahnya. Ini juga aku titipkan buat kawan semua.
   
  
  Itulah mungkin yang harus saya sampaikan, meski saya tetap kecewa kapada 
mereka yang membuat kita menjadi berlawanan dari yang asalnya hanya berlainan 
pendapat. Semuanya itu terjadi akibat perebutan kekuasaan setelah Nabi 
Muhammad, hingga saat ini, setiap golongan akan terus menyimpan luka sejarah, 
dan terus berlomba meraih pendukung sebanyak-banyaknya, serta wilayah yang 
seluas-luasnya, agar bisa meraih apa yang disebut kebenaran yang tunggal.
   
  
  Demikianlah ketika agama dijadikan alat politik, maka terjadi adalah 
pembenaran-pembenaran yang berpihak, doktrin-doktrin paling benar sendiri, 
saling menghalalkan darah lawan politik dengan kedok agama, terus menyimpan 
rasa dendam karena hatinya bukan untuk Allah tapi masih keruh dengan madzhab 
atau partai yang mereka suka.
   
  
  Bukankah contohnya masih bisa dilihat dengan jelas di Timur Tengah? Dan juga 
mungkin dalam diri kita sendiri, apakah kita akan bahagia jika semua umat islam 
bermadzhab syiah? Apakah akan bahagia jika semua bermadzhab wahabi? Ataukah 
kita satukan saja menjadi ahli sunnah, namun toh begitu, kita tetap akan 
berebut siapa yang ahlisunnah, kalau begitu marilah kita murnikan hati kita, 
jika kita telah mampu memurnikan hati kita, kita berasal dari madzhab manapun 
tak akan butuh embel-embel apapun kecuali bahwa kita adalah islam yang Islam, 
(umat muhammad yang mencapai kepasrahan kepada Allah), atau mungkin akan merasa 
tak ada apa-apa kecuali Allah dalam hatinya.
   
  
  Bukankah itu tauhid yang murni, dihati hanya ada Sang Satu, yang lain hanya 
di mata, ditelinga, dimulut, namun yang jelas hati tak boleh ada yang lain, 
harta cukup ditangan tak perlu masuk dihati, tahta cukup dipundak, wanita cukup 
dimata, bukankah iman itu bersemayam dihati, haruskah kita membiarkan harta, 
tahta dan wanita menjadi hal yang sejajar dengan Allah? Bukankah itu yang 
disebut syirik, apalagi masih ditambah partai, ditambah madzhab yang kita 
sejajarkan dengan Allah, kita taati, kita hormati, kita puja, bukankah hal 
demikian adalah keliru?
   
  
  Mungkin itulah hakikat tauhid, dan memang hati kita perlu dimurnikan, maka 
jika ingin memurnikan tauhid, mulailah menurunkan kedudukan selain Allah dalam 
hati kita, dan kalau bisa menaruh diluar, kalau belum bisa yach kta kurangi 
waktu keberadaan didalamnya. Dengan tetap mencari harta, mencari tahta, mencari 
wanita sesuai aturan yang berlaku, tetap berpartai misalnya, atau tetap 
bermadzhab dan lain sebagainya.
   
  
  Ketika mulut kita diam, bukankah hati kita masih bisa berkata? Sementara ini 
kita hanya berdzikir dengan mulut kita yang bisa berbusa, maka maukah anda saya 
ajak untuk menyebut Allah dengan mulut yang tak akan berbusa? Jika mau, cobalah 
lakukan, diamkan mulut kita, dan ajari mulut hati kita berucap "ALLAH, ALLAH, 
ALLAH....." nabi Muhammad hatinya selalu berdzikir seperti itu, nabi Isa 
seperti itu, maka jangan salah faham jika nabi Isa berkata,"aku didalamNya, dan 
Dia didalam diriku".
   
  
  Daripada mulut kita tersenyum tapi hati kita mencacimaki, bukankah lebih baik 
mulut kita tersenyum dan hati kita bertakwa, untuk yang ingin tauhid murni, 
cobalah sekarang juga, atau setidaknya anda lakukanlah sekali ini. 
   
  
  "Ala bidzikrillahi tatmainnul qulub" ingatlah bahwa dengan dzikir hati akan 
tenang
   
  
  Alliem
  Kairo, Kamis 07 Agustus 2008
  Hatiku pun masih keruh
  
  
  
   
   


  Mochammad Moealliem
  http://www.muallimku.blogspot.com or 
http://tech.groups.yahoo.com/group/kang_guru/
Virtual Islamic Education klik disini
 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke