Wertheim, dalam kertas kerjanya tahun 1984 yang berjudul *Elite Perceptions
and the Masses *mengemukakan bahwa: "Banyak ilmuwan sosial Indonesia yang
menulis tentang Indonesia, tetapi sangat sedikit di antara mereka yang bisa
melepaskan diri dari prakonsepsi-prakonsepsi yang beredar luas di kalangan
kelompok mereka sendiri, sebab mereka menjadi anggota kelompok sosial itu
dari lahir dan merasakan banyak afinitas dengan kelompok sosialnya. Mereka
menunjukkan sangat sedikit perhatian yang nyata terhadap cara hidup dan cara
pikir yang dimiliki oleh rakyat kebanyakan yang merupakan mayoritas terbesar
dari seluruh populasi Indonesia". (Wertheim, W.F., *Elite Perceptions and
the Masses, *Studies Center for South and South-East Asian, Center of
Sociology-Anthropology, Amsterdam University, 1984)


2008/8/9 OBELIX <[EMAIL PROTECTED]>

>   Ulil, saya suka setiap kali kamu mengganti kata menjadi "intelektuil",
> karena jadi dekat ama kamu. Kalau "intelektual" kan nanti jadinya
> "ulal"...he he he.
>
> Saya setuju saja dengan kerisihan kamu. Kalimat kamu ini menarik:
>
> "Saya agak "risih" kalau ada orang-orang yang merasa paling tahu masalah
> yang dihadapi oleh masyarakat seluruhnya. Seolah-olah kaum penulis di media
> hanya menulis dari ruang kosong belaka, tak berjejak di bumi yang nyata. Ini
> bagian dari "esensialisme" (bahwa "esensi" masyarakat adalah ini dan itu,
> dan karena itu masalahnya adalah jelas dan monolitik) yang membuat seseorang
> bisa terjebak dalam perasaan jumawa."
>
> Kamu merumuskan dengan lebih baik apa yang juga saya risih dan risaukan,
> ketika melihat orang-orang beriklan (dan yakin dengan iklannya) bahwa ia
> "paling tahu masalah yang dihadapi masyarakat seluruhnya." Padahal saya
> yakin (dan mungkin kamu juga) betapa pluralnya yang disebut "masyarakat",
> dan tidak ada "esensialisme". Juga bahwa para penulis itu memang tidak
> "menulis dari ruang kosong" atau "tak berjejak di bumi". Saya juga meyakini
> itu. Karena itu, para penulis yang hidup di Jakarta, dan menulis tentang
> "persoalan Indonesia", perlu dicurigai. Sebab, sebagian besar, pasti menulis
> dari konteks Jakarta di dalam memandang Indonesia--yang jelas berbeda,
> misalnya, jika Jakarta dan Indonesia dipandang dari pelosok Papua sana...
>
> Ini saya sadari waktu saya sering keluyuran, keluar masuk dari satu
> pesantren ke pesantren lain, mendengar apa yang didiskusikan "masyarakat".
> Saya acap menemukan, apa yang kita anggap soal hidup-mati dan kita
> diskusikan habis-habisan di TUK, ternyata bukan soal apa-apa di "masyarakat"
> tersebut. Mungkin (tentu angka pastinya harus tanya LSI he he he) 70% dari
> soal-soal yang asyik masyuk kita diskusikan, lalu kita tuliskan di media
> massa, dan sering membuat orang mengumpat-umpat itu, adalah "alien" bagi
> "masyarakat" yang saya kunjungi.
>
> Agaknya kita harus menempati situasi perbatasan terus menerus, menjalani
> dari ambang batas satu ke ambang batas lainnya. Dari proses keluyuran itu,
> saya jadi makin menyadari betapa plural dan penuh mukjizat (istilah yang
> tidak disukai Ioanes) yang disebut "Indonesia" itu, tetapi betapa sering
> kita mereduksikannya.
>
> Obelix
> sayangnya, celeng tidak ada yang intelektuil...hi hi hi
>
> Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED] <ulil99%40yahoo.com>> wrote: Saya
> tertarik dengan kalimat Trisno berikut ini:
>
>
> <<Bukankah ketika "kita" (saya mengandaikan Anda, Ioanes, Ulil, dan banyak
> dari teman-teman yang suka menulis di media sebagai "intelektual" ) menulis
> sesuatu di media, kita merasa (sangat) yakin bahwa apa yang sedang kita
> diskusikan adalah yang sungguh-sungguh sedang menjadi concern masyarakat?>>
>
> Apa yang anda maksud dengan masyarakat itu, Trisno? Tampakanya anda ini
> jatuh dalam ilusi kaum "intelektuil" yang menganggap bahwa diri "kita"
> adalah makhluk spesial yang terpisah dari masyarakat; seolah-olah saat kita
> berbicara mengenai sesuatu, kita bukan bagian dari masyarakat. Saya adalah
> bagian dari masyarakat. Saya bukan "alien" yang lebih tinggi atau rendah
> dari apa yang anda sebut "masyarakat" itu.
>
> Penyakit yang lebih parah lagi yang diderita oleh sebagian kaum intelektuil
> adalah bahwa apa yang disebut masyarakat begitu misteriusnya sehingga kaum
> intelektuil tak akan bisa memahami dan menembus mereka. Yang punya akses
> pada apa yang disebut sebagai "masyarakat, atau --kalau mau lebih romantik
> lagi-- "rakyat" adalah mereka yang disebut sebagai kaum "pejuang rakyat".
>
> Saya menolak mitos-mitos seperti ini. Sebab, saya adalah bagian dari
> masyarakat itu sendiri. Saya bukan berdiri di luar masyarakat, saya ada di
> dalamnya. Masalah yang dihadapi oleh masyarakat bukan "monolitik" dan
> tunggal. Apa yang saya tulis selama ini adalah bagian dari masalah yang
> dihadapi oleh masyarakat yang sebagian aspek-aspek dari masalahnya saya
> pahami dengan baik.
>
> Tentu tak ada orang yang memahami seluruh masalah yang dihadapi oleh
> masyarakat; bahkan apa yang disebut sebagai "pejuang rakyat" hanya
> mengetahui satu aspek saja dari masalah masyarakat.
>
> Saya agak "risih" kalau ada orang-orang yang merasa paling tahu masalah
> yang dihadapi oleh masyarakat seluruhnya. Seolah-olah kaum penulis di media
> hanya menulis dari ruang kosong belaka, tak berjejak di bumi yang nyata. Ini
> bagian dari "esensialisme" (bahwa "esensi" masyarakat adalah ini dan itu,
> dan karena itu masalahnya adalah jelas dan monolitik) yang membuat seseorang
> bisa terjebak dalam perasaan jumawa.
>
> Ulil
>
> --- On Thu, 8/7/08, OBELIX <[EMAIL PROTECTED] <trisnoss%40yahoo.com>>
> wrote:
> From: OBELIX <[EMAIL PROTECTED] <trisnoss%40yahoo.com>>
> Subject: RE: <JIL> Pasar Mesias dan Capres Trisno
> To: [EMAIL PROTECTED] <islamliberal%40yahoogroups.com>
> Date: Thursday, August 7, 2008, 8:12 PM
>
> Saya heran dengan reaksi Ioanes terhadap tulisan saya.
>
> Apalagi setelah membaca tanggapan Luthfie yang jauh
>
> lebih bisa memahami tulisan saya itu (he he he). Tentu
>
> saja, sebagai seorang yang membaca Maurice Blanchot,
>
> saya tidak pernah percaya pada para politisi yang sok
>
> mau jadi mesias. Karena Sang Mesias sejati, kalau toh
>
> datang, tidak akan pake iklan besar-besaran di media
>
> massa, yang berkali-kali berkata, "Hidup Adalah
>
> Perbuatan" (padahal, orang tahu, bahwa perbuatan yang
>
> dimaksud sang politisi yang kebetulan bernama sama
>
> seperti saya itu adalah beriklan, bahwa hidup adalah
>
> perbuatan!)
>
> Jadi, Luthfie, saya tidak sekadar menulis tentang
>
> teman kita, Indra Piliang, tetapi banyakkkk teman lain
>
> yang tiba-tiba merasa diri bisa jadi "pemimpin", lalu
>
> mengiklankan dirinya sebagai pemimpin. Kekhawatiran
>
> saya adalah banyak dari mereka terkena apa yang saya
>
> sebut "ilusi mediatik". Para intelektual paling sering
>
> kena ilusi ini. Bukankah ketika "kita" (saya
>
> mengandaikan Anda, Ioanes, Ulil, dan banyak dari
>
> teman-teman yang suka menulis di media sebagai
>
> "intelektual" ) menulis sesuatu di media, kita merasa
>
> (sangat) yakin bahwa apa yang sedang kita diskusikan
>
> adalah yang sungguh-sungguh sedang menjadi concern
>
> masyarakat? Bukankah ketika Ioanes, misalnya, membela
>
> mati-matian Tabor, dia menganggap bahwa apa yang
>
> diajukan Tabor itu memang sedang dibicarakan jemaat
>
> pada umumnya? Dan seterusnya, dan sebagainya.
>
> Itulah jebakan "ilusi mediatik" yang paling sering
>
> menjebak "kita", sang intelektual. Nah, yang jadi amat
>
> masalah, kalau jebakan itu sudah amat sangat akut,
>
> sampai-sampai orang rela menghabiskan milyaran (atau
>
> trilyunan?) untuk mengiklankan diri. Coba bayangkan
>
> kalau uang itu dipakai untuk mengurus korban lumpur
>
> Lapindo...
>
> Sudah, ah. Mau cari celeng lagi...
>
> Obelix
>
> NB: Kalau saya membuat Partai Penyelamat Celeng, saya
>
> yakin Faiz nggak bakalan ikutan saya, koq....
>
> --- Syaikhul Amin - MTD <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
>
> > Saya juga heran, sepertinya orang yg mendaku para
>
> > intelektual itu ngebet
>
> > banget jadi politisi.
>
> >
>
> > Bukan apa-apa akibatnya nanti akan jadi intelektual
>
> > 'tukang'. Tapi
>
> > memang senayan ('kekeuasaan' ) punya daya tarik
>
> > tersendiri sehingga
>
> > berbondong2 untuk merebutnya.
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > Kita lihat saja nanti...
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > ____________ _________ _________ __
>
> >
>
> > From: islamliberal@ yahoogroups. com
>
> > [mailto:islamliberal@ yahoogroups. com]
>
> > On Behalf Of Luthfi Assyaukanie
>
> > Sent: Thursday, August 07, 2008 9:03 AM
>
> > To: islamliberal@ yahoogroups. com
>
> > Subject: Re: <JIL> Pasar Mesias dan Capres Trisno
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > Io,
>
> >
>
> > Saya kira, maksud si pemakan celeng eh si penulis
>
> > artikel itu biasa
>
> > saja, tidak ada maksud sejauh itu. Kata "messias"
>
> > dalam tulisan Trisno
>
> > itu sama seperti kata "redemption" yang pernah Anda
>
> > diskusikan, bisa
>
> > dipakai secara religius dan bisa juga secara
>
> > sekular.
>
> >
>
> > Jika saya tak salah memahami, Trisno sedang menulis
>
> > tentang Indra
>
> > Piliang yang --saya cukup heran-- begitu
>
> > self-glorifying dalam rencana
>
> > pencalonan dirinya jadi anggota DPR. Kata Trisno,
>
> > Indra seperti
>
> > Messias aja, mau ke Senanyan seperti Musa mau
>
> > menyeberang laut merah,
>
> > menuju tanah yang dijanjikan.
>
> >
>
> > Teman-teman saya banyak yang bakal menjadi anggota
>
> > DPR, dan mereka
>
> > menyikapinya like business as usual (yang penting
>
> > kan nanti, waktu
>
> > jadi anggota DPR, perform apa tidak?). Kalau belum
>
> > apa-apa
>
> > dilebih-lebihkan kayak Messias gitu, kan Trisno jadi
>
> > pegel. Keluar deh
>
> > itu tulisan, he he he.
>
> >
>
> > Luthfi
>
> > =====
>
> >
>
> > 2008/8/7 Ioanes Rakhmat <[EMAIL PROTECTED] com
>
> > <mailto:ioanes27% <ioanes27%25> 40yahoo.com> >:
>
> > > Bung Faiz yang budiman,
>
> > > Dengan mengganti sebutan "calon presiden" dengan
>
> > sebutan "Mesias", Mr
>
> > Trisno
>
> > > telah benar-benar kebablasan dan menjadi seorang
>
> > penganut teokratisme
>
> > yang
>
> > > tidak ada bedanya dari visi pentolan-pentolan
>
> > Islam kanan. Dalam
>
> > negara RI,
>
> > > presiden dipilih rakyat; dan dalam negara
>
> > teokratis (purba maupun
>
> > modern)
>
> > > sang Mesias dipilih oleh Allah dan dilantik oleh
>
> > utusan Allah.
>
> > Sungguh,
>
> > > suatu pemakaian istilah yang tidak masak
>
> > diperhitungkan oleh Mas
>
> > Trisno.
>
> > >
>
> > > Salam,
>
> > > Ioanes
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > [Non-text portions of this message have been
>
> > removed]
>
> >
>
> >
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke