Bagimu Surgamu, Bagiku Surgaku 




Friday, 05 September 2008 

INI bukan kolom agama, melainkan catatan kecil kekaguman seorang nenek kepada 
cucunya yang sekolah di Barat, yang mayoritas temannya beragama 
Kristen,sementara dia muslim. 


Jadi lebih tepat kolom ini diposisikan sebagai refleksi psikologi beragama, 
bukan pembahasan doktrin agama. Dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta ke 
Jakarta dengan pesawat Garuda,saya duduk bersebelahan dengan salah seorang ibu 
anggota legislatif yang anak dan cucunya tinggal di Kanada. Dia menceritakan 
bagaimana rasanya sebagai warga minoritas, baik dari segi bangsa maupun agama 
(Islam).Rasa tertekan dan malu itu sangat dirasakan setelah gencarnya 
pemberitaan sekian banyak gerakan kekerasan dan terorisme yang dilakukan umat 
Islam. 

Perasaan ini dirasakan terutama oleh cucunya yang masih sekolah di tingkat 
sekolah dasar di negara yang mayoritas beragama Kristen,sementara dia seorang 
muslim. Ada semacam beban bagi seorang muslim saat ini yang tinggal di 
Barat.Lawan politik Barack Obama pun berusaha membangun citra bahwa Obama 
merupakan keturunan keluargamuslimagarperjuangannya ke GedungPutihterganjal. 
Jadi, tidak hanya bagi imigran muslim yang berkulit cokelat atau hitam, problem 
serupa dirasakan oleh keluarga kulit putih yang memeluk Islam, terutama oleh 
anakanaknya. 

Di lingkungan sekolah, teman-temannya ada yang bertanya bercampur sinis, 
mengapa kamu memeluk agama Islam, agama para teroris itu? Bagi umat Islam di 
Indonesia, mungkin tidak pernah merasakan problem itu karena merasa mayoritas. 
Tetapi bagi keluarga muslim di Barat,sungguh jadi persoalan tersendiri ketika 
hendak mengirimkan anak-anaknya yang masih kecil ke sekolah lantaran khawatir 
persoalan agama jadi bahan cemoohan.

 

Tertawa dan Terperanjat 

Ibu tadi,sebut saja Bu Tuti, suatu saat berkunjung ke Kanada. Di antara obrolan 
dengan cucunya yang membuat Bu Tuti tertawa bercampur kaget adalah ketika teman 
sekelas cucunya mengatakan bahwa sang cucu nanti akan masuk neraka karena tidak 
memeluk Kristen, mengikuti ajaran Yesus.Islam adalah agama teroris yang suka 
membunuh orang dan nanti akan masuk neraka. 

Menerima ejekan dan tuduhan itu sang cucu menjawab, Islam tidak mengajarkan 
terorisme dan kekerasan. ”Saya tidak akan masuk surgamu, kami punya surga 
sendiri. Masing-masing agama punya surga dan neraka.Nanti kamu akan masuk 
surgamu, dan aku akan masuk surgaku,” cerita Bu Tuti mengulangi apa yang 
dikatakan sang cucu kepada teman sekolahnya. 

Dia tertawa sekaligus kaget,dari mana gagasan jawaban itu bisa muncul. Cerita 
tadi kelihatannya sepele, hanya berkisar soal kasih sayang dan kekaguman nenek 
kepada cucunya. Namun sesungguhnya guyonan serupa kerap muncul dalam berbagai 
forum seminar dan dialog agama,baik ditingkat nasional maupun internasional. 
Memang terdapat ayat Alquran yang menyatakan ”Bagimu agamamu, bagiku 
agamaku.”Ayat ini berkaitan dengan etika dan relasi sosial antarpemeluk 
keyakinan agama yang berbeda. 

Jika memang tidak seiman, tidak ada paksaan dalam memeluk suatu agama,namun 
mari kita jaga perdamaian dan ciptakan tatanan sosial yang baik. Urusan akhirat 
biarlah Allah yang menyelesaikan nanti. Sekali lagi, ini adalah refleksi 
psikologis.Adapun apakah masing-masing agama di akhirat nanti memiliki surga 
dan neraka yang berbeda, realitanya di luar jangkauan manusia yang masih 
samasama hidup di dunia ini. Kita semua belum mati.

Sebagai sebuah doktrin dan keyakinan agama,tampaknya setiap agama memiliki 
doktrin adanya surga dan neraka.Tetapi apakah nantinya hanya ada satu surga dan 
neraka,pertanyaan ini sering dilemparkan sambil lalu dalam berbagai forum 
dialog lintas agama. Ada sekelompok teman yang yakin sekali bahwa orang yang 
berbeda agama pasti akan masuk neraka, dengan keyakinan surga dan neraka hanya 
ada satu bagi seluruh manusia.

 

Ada yang berpandangan, jika di dunia saja terdapat beragam agama, apa susahnya 
Tuhan menciptakan beragam surga dan neraka di akhirat nanti. Bukankah alam 
akhirat jauh lebih luas dan sanggup menampung seluruh manusia andaikan mereka 
semua dibangkitkan dengan jasadnya sekalipun? Ada lagi yang berkomentar, yang 
paling penting kita semua yakin dan konsekuen dengan agama kita masing-masing, 
lalu memperbanyak amal kebajikan. 

Urusan surga-neraka itu hak prerogatif Allah. Lalu seorang teman lain nyeletuk, 
janganlah berandai-andai dan bercanda dengan doktrin dan keyakinan agama.Itu 
bisa merusak iman. Kita jadi ragu akan keyakinan agama kita. Demikianlah, 
ketika penduduk bumi semakin banyak, perjumpaan lintas bangsa dan kelompok umat 
beragama yang berbeda semakin intens, maka perdebatan,tukar menukar gagasan 
serta guyonan seputar pengalaman dan pemahaman agama tidak terhindarkan. 

Apa yang semula dianggap peka dan tabu,dalam forum-forum tertentu menjadi cair 
dan ringan untuk dikemukakan. Oleh sebagian, perjumpaan antarpemeluk agama 
dirasakan sebagai sumber keresahan beragama. Berbagai hujatan terhadap mereka 
yang berbeda tak jarang kita temukan. Soal guyonan paham keagamaan, mungkin Gus 
Dur merupakan salah satu tokoh yang paling cerdas mencairkan dialog dan 
produktif menciptakan bermacam anekdot seputar kehidupan beragama. 

Belum lama berselang saya sendiri memperoleh pengalaman baru. Dalam sebuah 
seminar antar-iman tingkat internasional,di mata saya wakil dari Protestan gaya 
bicaranya lebih asertif dan bersemangat layaknya seorang ahli pemasaran. 
Sementara wakil dari Katolik bicaranya datar dan dingin. Soal isi,keduanya 
sama-sama berbobot.Lalu saya bertanya kepada teman Protestan tadi, mengapa Anda 
tampak lebih bersemangat layaknya seorang penginjil di depan ribuan massa? 
Teman tadi menjawab sambil bercanda.

 

”Kalau seorang pastur (Katolik) pindah tugas ke kota lain, bekalnya sangat 
sederhana. Cukup membawa tas tangan. Tapi kalau pendeta Protestan, dia mesti 
membawa semua keluarganya, anak dan istri. Mungkin itu yang membuat berbeda 
dalam penampilan kami.” Tentu itu sebuah guyonan. 

Dan guyonan seputar keberagamaan kalau disampaikan pada tempat dan waktu yang 
tidak tepat, bisa mendatangkan persoalan serius karena dianggap melecehkan 
martabat agama. Padahal tidak selaludemikian.Bisajadisuatu yang dianggap tabu 
oleh sebagian malah jadi pencair suasana bagi yang lain,mengingat yang beragama 
adalah manusia dengan beragam emosiyangselaluberubah- ubah.(*) 

*)Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 
 
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama/bagimu-surgamu-bagiku-surgaku.html


[EMAIL PROTECTED]
http://groups.yahoo.com/group/santrikiri
 


      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke