Anis, sebelum menjawab pertanyaan sampeyan, saya ingin menggaris bawahi catatan sampeyan terlebih dahulu. Pertama, menurut saya kurang tepat kalau sampeyan menganggap al-Ghazali hanya menggunakan episteme bayani dan irfani saja, sebab, dalam pandangan Jabiri, al-Ghazali dinilai mengharmonisasikan secara eklektik (al-mushalahah al-talfiqiyyah) antara tiga episteme sekaligus; bayani, irfani dan burhani (logika Aristo). Akumulasi tiga episteme ini disebut dengan istilah binyah muhashalah. Tiga episteme ini diharmonisasikan oleh al-Ghazali demi tujuan politis, yakni guna mengukuhkan ideologi Dinasti Saljuk yang menganut madzhab Syafi’iyyah, Asy’ariyyah, dan tasawuf Sunni. Kedua, siapapun yang membaca proyek Kritik Nalar Arab al-Jabiri, mula-mula pasti akan berasumsi bahwa al-Jabiri mempertentangkan antara tiga episteme, sebab ia memang menganalisis tiga episteme tersebut secara terpisah-pisah. Analisis terpisah ini hanyalah teknis analisa yang sengaja dipilih oleh al-Jabiri guna mengetahui mekanisme kinerja masing-masing tiga episteme secara independent. Tetapi, di bagian akhir Takwin al-Aql al-Arabi dan Binyah al-Aql al-Arabi, al-Jabiri menyatakan bahwa tiga episteme tersebut saling bergulat dan bergelut dalam perseteruan antagonis di tengah-tengah kebudayaan Arab-Islam. Perseteruan ini merupakan ekspresi fenomena krisis pondasi pemikiran (azmah asas). Sebagai solusi dari pertarungan episteme tersebut, maka para sarjana Islam menggalakkan proyek harmonisasi eklektik; al-Harits al-Muhasibi mengharmonisasikan bayan dan irfan, al-Kindi mengharmonisasikan bayan dan burhan, Ikhwan Shafa dan filosof-filosof Ismailiyyah mengharmonisasikan burhan dan irfan, kemudian al-Ghazali mengharmonisasikan ketiga-tiganya. Ketiga, dapatkah teori retakan epistemologis kita gunakan untuk memenggal system pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dengan lawan polemisnya? Retakan episteme ini saya kira dapat dilihat dalam Risalah Ahli Sunnah wa al-Jamaah karya beliau. Untuk sekedar menyebut satu contoh, dalam kitab yang oleh kalangan Nahdliyyin dianggap kanonikal itu, KH. Hasyim Asy’ari tidak hanya mengkritik dan membid’ahkan penganut gerakan reformasi Abduh dan purifikasi Wahabiyyah yang anti sufisme, tetapi juga mengkritik tasawuf falsafi. Beliau bahkan mengkafirkan para penganut konsep ittihad dan hulul hanya bertendensi pada pendapat al-Alamah al-Amir dalam Hasyiah Abd al-Salam. Dengan demikian, KH. Hasyim Asy'ari memiliki retakan episteme dengan lawan-lawan pemikirannya. Keempat, bagi saya paket pemikiran yang direkomendasikan KH. Hasyim Asy’ari dalam karya-karyanya perlu dilampaui. Satu contoh, dalam ranah teologis, saya yakin KH. Hasyim Asy’ari hanya membaca al-Ibanah karya Asy’ari dan tidak mengenal al-Kasyfu ‘an Manahij Adilah fi ‘Aqaidil Milah karya Ibn Rusyd. Padahal karya Ibn Rusyd ini berhasil meruntuhkan konsepsi teologis Asy’ariyyah. Semasa KH. Hasyim Asy’ari hidup (1875-1947), karya Ibn Rusyd ini belum tersebar luas di dunia Arab, apalagi Indonesia. Pasca runtuhnya kebudayaan Arab-Islam Andalusia, karya tersebut diboyong ke Eropa. Pada tahun 1859, karya Ibn Rusyd masih berada di Jerman di tangan orientalis bernama Muller dengan judul Philosophie und Theologie von Averroes. Bersamaan dengan wafatnya KH. Hasyim Asy’ari (1947), Manuel Alfonso menerjemahkannya ke bahasa Spanyol dengan judul Teologia de Averroes (Madrid-Granada, 1947). Pada tahun 1967, buku tersebut diterjemahkan ke bahasa Prancis oleh Abd Majed Gnose dan disimpan di perpustakaan Sorbonne. Terjemahan Arabnya baru beredar di Cairo pada tahun 1959 setelah disunting oleh Mahmud Qasim. Saya berpikir, andaikan KH. Hasyim Asy’ari membaca buku ini, mungkin beliau tidak akan fanatik mengikuti Asy’ariyyah. Saya jadi berandai-andai, jika di Eropa telah muncul gerakan Averroisme Latin, mungkinkah di kalangan Nadhatul Ulama muncul Neo-Averroisme yang mengapresiasi konsepsi teologis Ibn Rusyd? Salam Kangen Irwan Masduqi
----- Pesan Asli ---- Dari: Anis Masduki <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Senin, 8 September, 2008 09:59:06 Topik: [kmnu2000] Re: TADARUS LAKPESDAM: Telaah Kritis Karya-karya KH. Hasyim Asy'ari Bung, saya baru ingat bagaimana mungkin menggunakan epistemological rupture Gaston Bachelard yang dipinjam Jabiri untuk kita pinjam juga menganalisis epistem Al Rais Al Akbar Hasyim Asy'ari dan lawan polemisnya. Dalam kategorisasi Jabiri, dua-duanya masuk dalam satu nalar bayani bukan? ;PP Owh tapi tidak juga karena lawan polemisnya biasanya tidak mengapresiasi epistem irfan dan ini berbeda dengan Al Rais Al Akbar dan penerus-penerusnya yang mengapresiasi dua hal sekaligus. Barangkali ini letak bedanya. Dalam konseptualisasi Al Rais itu, nalar bayani dan irfani justru didamaikan dalam satu konsep epistemis. Dan kita bisa merujuk pada tokoh-tokoh klasiknya yang coba mendamaikan keduanya seperti Al Ghazali. Dalam analisis Jabiri memang terkesan memperlawankan ketiganya, sedangkan fakta sejarah seorang filsuf juga seorang fakih seperti Ibn Rusyd, seorang fakih tapi di satu waktu juga sufi seperti Al Ghazali. Mungkin juga Al Alusi itu seorang mufassir dan tentunya punya tradisi literer yang kuat tapi dianya seorang sufi. Al Syafi'i itu fakih dan tentu bayani tapi mengajarkan istiqra (ini burhani). Jadi memang dalam Islam tidak ada epistem yang kontradiktif, barangkali wilayah ketiganya sendiri-sendiri atau mungkin sinergis dan kembali kepada karakter para pemikir mendialogkan ketiganya ketika harus saling terkait. Salam, anismasduki Salam, anismasduki --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, "--::Irwan Masduqi::--" <irwan_masduqi@ ...> wrote: > > TADARUS LAKPESDAM > Tema: Telaah Kritis Karya-karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari > � > KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama, sejatinya adalah penulis prolifik. Untuk sekadar menyebut, beliau telah menulis al-Tibyân fi al-Nahyi ‘an Muqâtha’at al-Arhâm wa al-Ikhwân, al-Tanbihât al-Wajibât, al-Nûr al-Mubîn fi Mahabat Sayid al-Mursalîn, Dhau` al-Mishbâh fîma Yata’alqu bi al-Nikâh, Ziyadâd al-Ta’liqât, Miftâh al-Falâh, Awdhah al-Bayân fîma Yata’alaqu bi Wadhâif Ramadhân, Irsyâd al-Mu`minîn, Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim, Risâlah Ahl Sunnah dan lain-lain. > Tak dapat disangkal, rentetan sepuluh “anggitan” (baca: karya) ini cukup menjadi bukti produktivitas KH. Hasyim Asy’ari. Namun, sayang seribu sayang, karya-karya yang berharga itu belum terpublikasikan secara luas, sehingga apresiasi dalam bentuk “pembacaan kritis kontemporer” (al-qiraah al-naqdiyyah al-mu’ashirah) terhadapnya masih sangat minim. Memang tak dapat dipungkiri, Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dan Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim merupakan dua karya beliau yang terkadang dikaji di pesantren-pesantren , tetapi kajian tersebut kurang memadai lantaran hanya sekadar kajian “kilatan” dengan sistem “maknoni kelawan makno gandul utawi iki iku”. Pembacaan ini bersifat tradisional (qira`at al-turâtsi li turâts) dan acap mengabaikan historisitas pemikiran KH. Hasyim Asy’ari. > Di bulan yang mulia ini Lakpesdam PCI-NU Mesir akan menyelenggarakan Tadarus Inklusif mengkaji secara kritis sepuluh karya KH. Hasyim Asy’ari. Tanpa menafikan pentingnya makno gandul ala pesantren salaf, kajian kritis ini akan mendapuk amukan-amukan metodologis cara baca turâts yang ditawarkan oleh para pemikir Arab kontemporer, seperti Muhammed Arkoun, Husain Muruwah, Mahmud Ismail, Khalil Abd al-Karim, Abed al-Jabiri, Hasan Hanafi, Adonis, Nashr Hamid Abu Zaid dan seterusnya. > Untuk sekadar contoh, misalnya, dari Arkoun kita dapat meminjam pendekatan antropologisnya yang konon juga concern pada aspek mitologi. Pendekatan ini mungkin akan berguna jika diterapkan menganilisis pergulatan realitas dengan mitos, takhayul, bid’ah dan khurafat yang menjadi discource pada masa KH. Hasyim Asy’ari. Teori dialektika-material is-historis yang digelindingkan Husain Muruwah, Khalil Abd al-Karim dan Mahmud Ismail diandaikan guna menguak historisitas karya-karya KH. Hasyim Asy’ari. > Metodologi pembacaan kontemporer Abed al-Jabiri, seperti fashl-washl, objektivitas, analisa epistemologis, analisa historikal, analisa ideologikal, teori epistemological break (al-qathi’ah al-ma’rifiyyah) dan sebagainya juga sangat membantu. Epistemological break yang diaplikasikan oleh Altuser sebagai pisau analisis tajam guna mengiris dan merobek-robek relasi konseptual Hegel dan Karl Marx pasca penulisan Das Kapital, kemudian diadopsi al-Jabiri guna memisahkan corak pemikiran Andalusia-Maghribi dengan Masyriq, misalnya, dapat kita fungsikan untuk mengalisis retakan epistemologis antara KH. Hasyim Asy’ari dengan pemikiran lawan-lawan ideologisnya. Tipologisasi “Kanan dan Kiri dalam Pemikiran Islam” milik Hasan Hanafi pun membantu kita untuk memposisikan pemikiran KH. Hasyim Asy’ari; apakah beliau kanan atau kiri? Teori Tsabit wa al-Mutahawwil milik Adonis ikut andil bagian dalam menerawang pertarungan antara pihak-pihak yang menghendaki > kemapanan dan pihak yang menghendaki perubahan yang terjadi pada era KH. Hasyim Asy’ari. > Dengan model pembacaan ini, kami tidak bermaksud su`ul adab dan neko-neko kepada KH. Hasyim Asy’ari, melainkan sebagai bentuk apresiasi dan upaya kita mereaktualisasikan pemikiran beliau dalam konteks kekinian. Kajian ini juga bertujuan mengkorelasikan pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dengan perkembangan pemikiran kontemporer Arab. Universitas Al-Azhar, misalnya, tengah mengkampanyekan upaya pendekatan Sunni-Syiah dan komparasi empat madzhab dengan madzhab Syiah serta Dhahiriyyah. Namun, di sisi lain, KH. Hasyim Asy’ari mewajibkan taqlid hanya kepada empat madzhab. Sejauh mana relevansi pandangan KH. Hasyim Asy’ari dalam hal ini? Dalam persoalan tasawuf, misalnya, KH. Hasyim Asy’ari sangat menggandrungi al-Ghazali, sementara, di pihak lain, Abed al-Jabiri dan beberapa pemikir Arab kontemporer menilai tasawuf al-Ghazali terpengaruh Hermetisme dan menjadi penyebab kemunduran kebudayaan Arab-Islam. Dalam teologi, Hasan Hanafi mengatakan bahwa > Asy’ariyyah adalah kanan, regresif dan tidak revolusioner, sedangkan, di sisi lain, KH. Hasyim Asy’ari adalah pengikut setia Asy’ariyyah. Untuk mengkaji diskursus ini secara detail, maka hadirilah acara ini. > � > � > Pembicara: > 1. Romli Sarqawi, S.Ag (Alumni Tebuireng dan Pakar Pemikiran KH. Hasyim Asyari) > 2. Irwan Masduqi (Koordinator Lakpesdam) > 3. Faiq Ihsan Anshori (Aktivis Lakpesdam & Mizan Study Club) > � > Hari/Tanggal: Rabu, 10 September 2008 > Waktu: 15. 00 WK. > Tempat:Sekretariat PCI-NU Mesir > � > Rangkaian Acara: > 1. Pembacaan Ayat Suci Al-Quran > 2. Sambutan Panitia > 3. Sambutan Tanfidhiyyah > 4. Bedah Karya-karya KH. Hasyim Asy’ari > � > Contact Person: > M. Abdul Rouf: 0103393873 > Faiq Ihsan Anshari: 0169398877 > Irwan Masduqi: 0108248859 > > > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ > Nama baru untuk Anda! > Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. > Cepat sebelum diambil orang lain! > http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/ > > [Non-text portions of this message have been removed] > ___________________________________________________________________________ Dapatkan alamat Email baru Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/ [Non-text portions of this message have been removed]
