Salam,

Bung Mubarok, coba anda japri ke: [EMAIL PROTECTED] Perihal hasil Tadarus, 
nanti kawan-kawan Lakpesdam akan mencoba membuat transkripnya.

Ramadhan Kareem,

 Muhammad Mawhiburrahman
http://www.mmawhib.blogspot.com
--- berbicara dari hati, dengan hati, demi ketenangan hati ---



----- Original Message ----
From: lapar makassar <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, September 10, 2008 2:49:41 PM
Subject: Re: [kmnu2000] Re: TADARUS LAKPESDAM: Telaah Kritis Karya-karya KH. 
Hasyim Asy'ari


nama saya mubarok idrus, alumni PP. madrsatulquran "el-hufadz" tebuireng, sama 
seperti Cak Romli. sekarang aktif di Lakspesdam Mks. saya sebnarnya berharap 
hasil dari tadarus itu dishare di sini. ato barangkali ada yang bisa memberitau 
email Cak Romli.
trima kasih

mubarok, makassar

----- Original Message ----- 
From: --::Irwan Masduqi::-- 
To: [EMAIL PROTECTED] s.com 
Sent: Tuesday, September 09, 2008 9:03 AM
Subject: Bls: [kmnu2000] Re: TADARUS LAKPESDAM: Telaah Kritis Karya-karya KH. 
Hasyim Asy'ari

Bung Anam,
Secuil pengetahuan saya, hanya ada dua karya KH. Hasyim Asy'ari yang sering 
dikaji di pesantren. Dulu saya mengkaji Adab al-Alim wa al-Mutaalim di kilatan 
pondok Lirboyo Kediri dan Risalah Ahl Sunnah wa al-Jamaah di pengajian kilatan 
puasa pondok Tegalrejo Magelang. Tetapi, di kalangan santri Tebuireng, 
karya-karya yang lain konon juga sudah dikaji. Sayangnya kajian itu bersifat 
tradisional dan dogmatis sekali.
Untuk karya Mahfud Termas, saya melihat beberapa kali telah dijadikan ibarat 
dalam Bahtsul Masail. Dulu saya sendiri sering merujuknya untuk dijadikan 
ibarat Bahtsul Masail antar pondok pesantren Jawa-Madura. Menurut saya, Mahfud 
Termas lebih kritis dan berani dibanding KH. Hasyim Asy'ari. KH. Hasyim Asy'ari 
dalam karya-karyanya hanya "mengutip-ngutip" pendapat-pendapat ulama klasik 
tanpa kritik. Pembacaan KH. Hasyim bersifat tautologis, pengulang-ulangan. 
Sedangkan Syaikh Mahfudz, setahu saya, acap melakukan kritik terhadap pandangan 
fuqaha klasik-skolastik. Contohnya, dalam bab Jual Beli, Syaikh Mahfudz dengan 
argumentasi kuat mengkritik pendapat Imam Syarwani, Ibn Hajar, dll.
Nah, kalau karya Nawawi Bantani, di Indonesia sudah ada kajian kritis terhadap 
kitab Uqud al-Lujayyin (orang Jawa Tengah menyebutnya 'Uqudulijen) . Saya 
berharap kajian kritis karya Nawani Bantani tidak berhenti di sini. Perlu 
tindak lanjut mengkaji secara kritis karyanya yang lain, seperti  Fathu Shamad 
al-Alimi, Tashdiq si Syarh Sulam Taufiq, Syarh Maraqi al-Ubudiyyah ala Matan 
Bidayah, Tanqih al-Qaul al-Hatsits bi Syarh Lubab al-Hadits, fi Syarh Mandhumah 
Aqidatul Awam, dan Tafsir Munir li Ma'alim Tanzil.

Ala kulli hal, makasih atas masukannya. Kajian di NU Mesir memang masih 
berkutat dalam perdebatan belaka, belum ada sosialosasi di lapangan, sebab kami 
tak dapat menjangkau Indonesia selain melalui dunia maya.

Ngomong-ngomong, aku rindu nongkrong bersamamu di warung pecel Ciganjur. hehehe

salam 
Irwan Masduqi

----- Pesan Asli ----
Dari: Kh Anam <[EMAIL PROTECTED] com>
Kepada: [EMAIL PROTECTED] s.com
Terkirim: Senin, 8 September, 2008 12:13:11
Topik: Re: [kmnu2000] Re: TADARUS LAKPESDAM: Telaah Kritis Karya-karya KH. 
Hasyim Asy'ari

Bung Erwan,
Bukan hanya kitab karya Mbah Hasyim saja yang tidak dikaji di pesantren,
tetapi juga kitab-kitab karya ulama Nusantara lainnya sekaliber Kiai Ihsan
Jampes, atau Kiai Mahfudz Termas. Kecuali kitab Kiai Nawawi Banten yang
sudah banyak bereda di Timur Tengah. Konon itu karena kurikulum pesantren
pada mulanya diadopsi dari Yeman (apa benar begitu ya?) dan sudah terlanjur
begitu sampai sekarang, dan "plus tradisi pesantren" kurikulum itu kemudian
menjadi dogma.

Wah menarik sekali kalau hasil "TELAAH KRITIS" dengan metode yang
"ndakik-ndakik" itu dipresentasikan di sini, agar bisa menjadi diskusi yang
menarik, dan Lakpesdam Mesir tidak hanya melakukan apa yang anda sebut
sebagai "onani ilmiah". Syukur-syukur "telaah kritisnya" bisa memicu agenda
bersama yang bisa dikomunikasikan secara jarak jauh, atau hasil kreasi
pikirannya bisa ditularkan kesana-kemari. Selama ini beberapa agenda kajian
Lakpesdam Mesir hanya meriah di "dasar pemikiran" dan "agenda acara" tapi
kemudian berlalu begitu saja tanpa hasil, atau istilah anda "ejakulasi dini
tanpa hasil". Sementara itu laporan kegiatan di situs www.nu.mesir juga
sebatas kronologi acara yang serba formal, diawali dengan sambutan,
ditengahi dengan kemeriahan dan diakhiri dengan doa; sama seperti sholat
yang muftatahatun bit takbiri mamukhtatamatun bit taslimi. Setelah itu ya
sudah. Tidak ada itu apa yang anda sebut sebagai amukan-amukan metodologis
disana.

Salam semuanya,
Anam

2008/9/8 Anis Masduki <anismasduki@ softhome. net>

> Bung, saya baru ingat bagaimana mungkin menggunakan epistemological
> rupture Gaston Bachelard yang dipinjam Jabiri untuk kita pinjam juga
> menganalisis epistem Al Rais Al Akbar Hasyim Asy'ari dan lawan
> polemisnya. Dalam kategorisasi Jabiri, dua-duanya masuk dalam satu
> nalar bayani bukan? ;PP
>
> Owh tapi tidak juga karena lawan polemisnya biasanya tidak
> mengapresiasi epistem irfan dan ini berbeda dengan Al Rais Al Akbar
> dan penerus-penerusnya yang mengapresiasi dua hal sekaligus.
> Barangkali ini letak bedanya. Dalam konseptualisasi Al Rais itu, nalar
> bayani dan irfani justru didamaikan dalam satu konsep epistemis. Dan
> kita bisa merujuk pada tokoh-tokoh klasiknya yang coba mendamaikan
> keduanya seperti Al Ghazali.
>
> Dalam analisis Jabiri memang terkesan memperlawankan ketiganya,
> sedangkan fakta sejarah seorang filsuf juga seorang fakih seperti Ibn
> Rusyd, seorang fakih tapi di satu waktu juga sufi seperti Al Ghazali.
> Mungkin juga Al Alusi itu seorang mufassir dan tentunya punya tradisi
> literer yang kuat tapi dianya seorang sufi. Al Syafi'i itu fakih dan
> tentu bayani tapi mengajarkan istiqra (ini burhani). Jadi memang dalam
> Islam tidak ada epistem yang kontradiktif, barangkali wilayah
> ketiganya sendiri-sendiri atau mungkin sinergis dan kembali kepada
> karakter para pemikir mendialogkan ketiganya ketika harus saling terkait.
>
> Salam,
> anismasduki
>
> Salam,
> anismasduki
>
> --- In [EMAIL PROTECTED] s.com <kmnu2000%40yahoogr oups.com> , "--::Irwan
> Masduqi::--"
>
> <irwan_masduqi@ ...> wrote:
> >
> > TADARUS LAKPESDAM
> > Tema: Telaah Kritis Karya-karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari
> > Â
> > KH. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdhatul Ulama, sejatinya adalah
> penulis prolifik. Untuk sekadar menyebut, beliau telah menulis
> al-Tibyân fi al-Nahyi 'an Muqâtha'at al-Arhâm wa al-Ikhwân,
> al-Tanbihât al-Wajibât, al-Nûr al-Mubîn fi Mahabat Sayid
> al-Mursalîn, Dhau` al-Mishbâh fîma Yata'alqu bi al-Nikâh,
> Ziyadâd al-Ta'liqât, Miftâh al-Falâh, Awdhah al-Bayân fîma
> Yata'alaqu bi Wadhâif Ramadhân, Irsyâd al-Mu`minîn, Adab
> al-'Alim wa al-Muta'alim, Risâlah Ahl Sunnah dan lain-lain.
> > Tak dapat disangkal, rentetan sepuluh "anggitan" (baca: karya)
> ini cukup menjadi bukti produktivitas KH. Hasyim Asy'ari. Namun,
> sayang seribu sayang, karya-karya yang berharga itu belum
> terpublikasikan secara luas, sehingga apresiasi dalam bentuk
> "pembacaan kritis kontemporer" (al-qiraah al-naqdiyyah
> al-mu'ashirah) terhadapnya masih sangat minim. Memang tak dapat
> dipungkiri, Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah dan Adab al-'Alim
> wa al-Muta'alim merupakan dua karya beliau yang terkadang dikaji di
> pesantren-pesantren , tetapi kajian tersebut kurang memadai lantaran
> hanya sekadar kajian "kilatan" dengan sistem "maknoni kelawan
> makno gandul utawi iki iku". Pembacaan ini bersifat tradisional
> (qira`at al-turâtsi li turâts) dan acap mengabaikan historisitas
> pemikiran KH. Hasyim Asy'ari.
> > Di bulan yang mulia ini Lakpesdam PCI-NU Mesir akan menyelenggarakan
> Tadarus Inklusif mengkaji secara kritis sepuluh karya KH. Hasyim
> Asy'ari. Tanpa menafikan pentingnya makno gandul ala pesantren
> salaf, kajian kritis ini akan mendapuk amukan-amukan metodologis cara
> baca turâts yang ditawarkan oleh para pemikir Arab kontemporer,
> seperti Muhammed Arkoun, Husain Muruwah, Mahmud Ismail, Khalil Abd
> al-Karim, Abed al-Jabiri, Hasan Hanafi, Adonis, Nashr Hamid Abu Zaid
> dan seterusnya.
> > Untuk sekadar contoh, misalnya, dari Arkoun kita dapat meminjam
> pendekatan antropologisnya yang konon juga concern pada aspek
> mitologi. Pendekatan ini mungkin akan berguna jika diterapkan
> menganilisis pergulatan realitas dengan mitos, takhayul, bid'ah dan
> khurafat yang menjadi discource pada masa KH. Hasyim Asy'ari. Teori
> dialektika-material is-historis yang digelindingkan Husain Muruwah,
> Khalil Abd al-Karim dan Mahmud Ismail diandaikan guna menguak
> historisitas karya-karya KH. Hasyim Asy'ari.
> > Metodologi pembacaan kontemporer Abed al-Jabiri, seperti
> fashl-washl, objektivitas, analisa epistemologis, analisa historikal,
> analisa ideologikal, teori epistemological break (al-qathi'ah
> al-ma'rifiyyah) dan sebagainya juga sangat membantu. Epistemological
> break yang diaplikasikan oleh Altuser sebagai pisau analisis tajam
> guna mengiris dan merobek-robek relasi konseptual Hegel dan Karl Marx
> pasca penulisan Das Kapital, kemudian diadopsi al-Jabiri guna
> memisahkan corak pemikiran Andalusia-Maghribi dengan Masyriq,
> misalnya, dapat kita fungsikan untuk mengalisis retakan epistemologis
> antara KH. Hasyim Asy'ari dengan pemikiran lawan-lawan ideologisnya.
> Tipologisasi "Kanan dan Kiri dalam Pemikiran Islam" milik Hasan
> Hanafi pun membantu kita untuk memposisikan pemikiran KH. Hasyim
> Asy'ari; apakah beliau kanan atau kiri? Teori Tsabit wa
> al-Mutahawwil milik Adonis ikut andil bagian dalam menerawang
> pertarungan antara pihak-pihak yang menghendaki
> > kemapanan dan pihak yang menghendaki perubahan yang terjadi pada
> era KH. Hasyim Asy'ari.
> > Dengan model pembacaan ini, kami tidak bermaksud su`ul adab dan
> neko-neko kepada KH. Hasyim Asy'ari, melainkan sebagai bentuk
> apresiasi dan upaya kita mereaktualisasikan pemikiran beliau dalam
> konteks kekinian. Kajian ini juga bertujuan mengkorelasikan pemikiran
> KH. Hasyim Asy'ari dengan perkembangan pemikiran kontemporer Arab.
> Universitas Al-Azhar, misalnya, tengah mengkampanyekan upaya
> pendekatan Sunni-Syiah dan komparasi empat madzhab dengan madzhab
> Syiah serta Dhahiriyyah. Namun, di sisi lain, KH. Hasyim Asy'ari
> mewajibkan taqlid hanya kepada empat madzhab. Sejauh mana relevansi
> pandangan KH. Hasyim Asy'ari dalam hal ini? Dalam persoalan tasawuf,
> misalnya, KH. Hasyim Asy'ari sangat menggandrungi al-Ghazali,
> sementara, di pihak lain, Abed al-Jabiri dan beberapa pemikir Arab
> kontemporer menilai tasawuf al-Ghazali terpengaruh Hermetisme dan
> menjadi penyebab kemunduran kebudayaan Arab-Islam. Dalam teologi,
> Hasan Hanafi mengatakan bahwa
> > Asy'ariyyah adalah kanan, regresif dan tidak revolusioner,
> sedangkan, di sisi lain, KH. Hasyim Asy'ari adalah pengikut setia
> Asy'ariyyah. Untuk mengkaji diskursus ini secara detail, maka
> hadirilah acara ini.
> > Â
> > Â
> > Pembicara:
> > 1. Romli Sarqawi, S.Ag (Alumni Tebuireng dan Pakar Pemikiran KH.
> Hasyim Asyari)
> > 2. Irwan Masduqi (Koordinator Lakpesdam)
> > 3. Faiq Ihsan Anshori (Aktivis Lakpesdam & Mizan Study Club)
> > Â
> > Hari/Tanggal: Rabu, 10 September 2008
> > Waktu: 15. 00 WK.
> > Tempat:Sekretariat PCI-NU Mesir
> > Â
> > Rangkaian Acara:
> > 1. Pembacaan Ayat Suci Al-Quran
> > 2. Sambutan Panitia
> > 3. Sambutan Tanfidhiyyah
> > 4. Bedah Karya-karya KH. Hasyim Asy'ari
> > Â
> > Contact Person:
> > M. Abdul Rouf: 0103393873
> > Faiq Ihsan Anshari: 0169398877
> > Irwan Masduqi: 0108248859
> >
> >
> >
> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
> > Nama baru untuk Anda!
> > Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan
> @rocketmail.
> > Cepat sebelum diambil orang lain!
> > http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>
> 
>

[Non-text portions of this message have been removed]

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]

    


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke