http://www.suaramerdeka.com/ WACANA
31 Oktober 2008 GAGASAN Diskusi Syariah Islam Menarik sekali acara diskusi yang ditayangkan TVOne bebrapa waktu lalu antara perwakilan Hizbuthtahir dengan Anas Urbaningrum (salah satu tokoh '98). Perwakilan ormas tersebut menawarkan/mengajak untuk menegakkan syariah Islam sebagai solusi optimis untuk mengatasi kondisi negeri yang masih saja belum menggembirakan rakyat. Saya sangat setuju, andai setiap orang telah menegakkan syariah Islam dan juga pemeluk agama lain menaati perintah agamanya sehingga akan ada perubahan signifikan seperti masalah korupsi. Sebab saya yakin tidak mudah masalah tersebut. Ada yang spontan mengajukan ketidaksetujuannya dengan menunjukkan fakta sejarah. Dinasti Abbasiyah atau dinasti Ottomaniah yang pernah berjaya pun terbelenggu masalah korupsi walau berlandaskan syariah Islam. Saya salut dengan pengangkatan tema diskusi tersebut karena memberi pencerahan luar biasa. Semoga hal ini menumbuhkan kesadaran bahwa idealisasi informasi dalam sebuah buku harus jujur kita relakan untuk dikonfrontasi dengan kenyataan sejarah sehingga tidak mudah terbelenggu dengan pemikiran subyektif dan hegemonistik. Menurut saya, yang harus disadari bangsa Indonesia adalah pertama, fitrah bangsa ini merupakan masyarakat plural /majemuk /bhinneka secara sosial terutama budaya. Kondisi fitrah ini telah disadari oleh para founding father termasuk para beliau yang Islam. Kedua, tragedi konflik sosial yang terjadi beberapa waktu lalu ternyata masih terlalu mudah untuk diopinikan/dimanipulasi sebagai konflik agama atau suku. Hal ini jelas menunjukkan kita belum cerdas apalagi bijak menerjemahkan sabdaTuhan bahwa perbedaan adalah rahmat. Ketiga, landasan ideologi atau dasar konstitusi sangat menjamin/melindungi hak setiap warga negara dalam menjalankan syariah/aturan agama yang dianutnya. Tentu juga sesuai dengan tingkatan atau keterbatasan orang dalam memahami agama itu sendiri. Guna mencegah munculnya ide, pemahaman atau gerakan de-Pancasilaisasi secara ideologi dan budaya yang akan memecah belah bangsa, mari selalu tanamkan/tumbuhkan dan suburkan dalam jiwa setiap anak bangsa bahwa ibarat pohon maka oleh atau kokohnya negeri karena berakarkan Bhinneka Tunggal Ika. Juga ber-galih-kan Pancasila, ber-batang-kan UUD 1945, ber-dahanranting-kan nasionalisme patriotisme sehingga rimbun ber-daun-kan ketenteraman, indah ber-bunga-kan keharmonisan dan lebat ber-buah-kan kebersamaan. Di sana tempat lahir beta ... dibuai dibesarkan bunda ... tempat berlindung di hari tua sampai akhir menutup mata. Salam Indonesia. Drg Toto Hermawan Puskesmas Kebondalem , Pemalang [Non-text portions of this message have been removed]
