http://www.suaramerdeka.com/
WACANA
27 November 2008
Menjual Tradisi Muludan
* *Oleh Yanuar Fitriaji*
BEBERAPA waktu lalu diselenggarakan acara Muludan ala Kajen, Kabupaten
Pekalongan. Acara kali kedua yang diselenggarakan sebagai agenda tahunan
tersebut dimaksudkan untuk ’’memberi warna’’ terhadap perayaan Maulud
Nabi Muhammad SAW, yang khas menurut aroma lokal (Kajen).
Perayaan Muludan itu menyangkut suatu prosesi ritual keagamaan yang juga
melibatkan elemen birokrat (pejabat pemerintahan daerah) dan masyarakat
yang menyebar hingga ke pelosok daerah pegunungan. Kelompok kesenian
yang ada di Kabupaten Pekalongan juga ikut berperan aktif memeriahkan
acara tersebut.
Ada sesuatu yang unik manakala para pejabat diharuskan memakai baju
pesisiran berupa ikat kepala, celana 3/4 hitam, baju koko, serta sarung
diikatkan di badan.
Adapun urutan prosesi diawali dengan penampilan drumband untuk gebyar
kesenian dengan menampilkan secara beruntun juara I tingkat TK, SD, SMP,
dan SMA. Diikuti dengan kuda lumping sebagai bentuk kesenian rakyat,
sintren, dan ronggeng; juga sebagai simbol Kejawen.
Simbol Partisipasi
Selanjutnya, arak-arakan gunungan, terdiri atas 19 jenis gunungan yang
berasal dan berisi hasil bumi khas kecamatan dan satu gunungan dari
bupati. Gunungan dari camat merupakan simbol partisipasi camat/
kecamatan dalam pembangunan daerah.
Adapun gunungan bupati berupa nasi, merefleksikan tugas bupati untuk
mengolah hasil bumi menjadi makanan yang siap saji guna dapat dinikmati
masyarakat. Dengan kata lain, semua itu sebagai bentuk rasa syukur
pimpinan daerah.
Dilanjutkan dengan arak-arakan kesenian kuntulan yang menggambarkan
perpaduan budaya Jawa dan Islam. Diikuti dengan kesenian ronce-ronce,
sebagai bentuk sumbangan pejabat di dalam rangka menyejahterakan
masyarakatnya.
Ronce-ronce berupa tongkat bambu yang di atasnya diberi bendera hias
kecil dan ujungnya diberi bendera yang menyimbolkan kesejahteraan.
Masing-masing tongkat diisi dengan minimal 20 bendera hias.
Barisan selanjutnya terdiri atas barisan camat, pejabat, muspida, dan
tokoh agama. Iringan prosesi berangkat dari pendopo rumah dinas Bupati
Pekalongan menuju Masjid Al-Muhtarom, kompleks Alun-alun Kajen.
Sesampainya di masjid, seluruh peserta masuk tempat ibadah tersebut.
Kemudian gunungan dibawa ke dalam masjid guna didoakan; sedangkan
ronce-ronce dipegang pembawa tidak masuk ke masjid atau berada di luar
(di depan masjid), berbaur dengan masyarakat (sebagai lambang
kesejahteraan).
Gunungan nasi dihidangkan kepada peserta prosesi, sedangkan gunungan
hasil bumi dibawa keluar masjid dan diserahkan kepada masyarakat guna
diperebutkan bersama ronce-ronce.
Aset Budaya
Walaupun masih memerlukan kajian lagi dikaitkan dengan nuansa khas yang
menjadi kebiasaan masyarakat Kabupaten Pekalongan, ada aset budaya dan
pariwisata yang ’’tersimpan’’ di dalam acara Muludan tersebut.
Jika dikemas secara lebih menarik dalam bentuk yang ’’khas’’ dan ada
daya tarik yang menawan serta melibatkan pihak investor, bukan tidak
mungkin ajang budaya sudah ditradisikan setiap tahunnya tersebut akan
menjadi ’’lahan baru’’ bagi penambahan pendapatan asli daerah (PAD).
Dengan demikian, ada peluang yang bisa dimanfaatkan guna pengembangan
Kota Kajen sebagai ibu kota Kabupaten Pekalongan ke depan.
Fleksibelitas Birokrasi
Satu hal utama menyangkut ’’kelenturan birokrasi’’ adalah dalam soal
mengemas masalah perizinan. Apa yang tergambar dari pelayanan prima di
Kabupaten Sragen, sudah sepatutnya menjadi semacam contoh yang baik,
dengan menerapkan prinsip tidak malu belajar dari kabupaten lain.
Fakta membuktikan bahwa dengan adanya pelayanan prima yang diwujudkan
dalam bentuk pelayanan yang praktis, efektif, serta tidak melalui
’’banyak pintu’’, terbukti turut mengantarkan terciptanya
’’produk-produk layanan’’ yang memuaskan bagi pengguna, dalam kaitan itu
kalangan dunia usaha.
Di sisi lain mencakup aspek manajerial profesional agar kemasan budaya
tersebut dapat berbentuk sajian yang menarik dan membuat rasa penasaran
guna mengetahui lebih jauh “aroma” kemasan budaya itu bagi penggunanya
(penerima jasa).
Sudah barang tentu Pemkab Pekalongan akan menuai imbas positif dari
pementasan budaya itu. Bukan tidak mungkin nama Kajen sebagai ibu kota
kabupaten akan lebih ’’kondang’’ dan dikenal masyarakat luas di luar
Kabupaten Pekalongan.
Bentuk Kemajuan
Pengalaman membuktikan, lewat ajang-ajang spektakuler yang menggugah
rasa keingintahuan masyarakat, membuat kota lebih mudah dikenali.
Terlebih jika jalan Kajen ke Banjarnegara sudah dibuka secara optimal,
memungkinkan masyarakat kabupaten lain melihat bentuk-bentuk kemajuan
dari Kabupaten Pekalongan.
Penggunaan dua jalur kendaraan lalu lintas di sepanjang Jalan Diponegoro
Kajen, sudah barang tentu akan lebih menertibkan kelancaran lalu lintas.
Sentra kemacetan di bekas terminal lama, depan pasar Kajen, juga
membutuhkan solusi yang tepat agar tidak memunculkan riak-riak
permasalahan di kemudian hari.
Dibutuhkan iktikad baik Pemkab Pekalongan guna duduk bersama dengan para
sais, tukang becak, dan pedagang emperan, agar jalan depan Pasar Kajen
tidak senantiasa macet. Juga termasuk di dalamnya adalah para tukang
ojek dan sopir omprengan.
Jika pertunjukan budaya itu menggelegar, membuka kemungkinan masuknya
investor perhotelan di Kajen. Tentunya pengembangan itu juga harus
diikuti dengan pengembangan objek-objek wisata yang sudah ada untuk
mendukung agenda wisata yang digelar pihak perhotelan.(68)
– Yanuar Fitriaji, alumnus Sastra Sejarah Undip Semarang, karyawan
Pemkab Pekalongan.
------------------------------------
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/