Jurnal Toddopuli
 
 
TAMAN LUXEMBOURG PARIS
  
 
Taman Luxembourg, merupakan salah satu taman terbesar di tengah kota Paris. 
Boleh dibilang berada di kilometer nol,. Tidak jauh dari Universitas Sorbonne. 
Persis di belakang Gedung Senat yang megah. Dari Koperasi Restoran Indonesia, 
hanya berjarak 100 meter. Kurang lebih satu kilometer dari Sungai Seine yang 
membelah Paris yang dibayangi oleh Katedral Nontre Dame dan gedung-gedung 
bersejarah. Cara paling sederhana dan cepat untuk mengetahui  sejarah Paris 
adalah naik kapal menelusuri sungai dan mengitar Pulau Saint Louis yang 
terletak di tengah sungai. Kapzl kalian akan dikawal dibuntutui oleh ratusan 
camar putih.  Selama perjalanan, kalian akan mendengar tuturan sejarah Paris 
yang dituturkan secara garis besar kepada para penumpang. 
 
 
Salah satu yang tercatat di Taman Luxembourg ini  adalah perjumpaan pengarang 
Les Miserables dana Si Bongkok Dari Notre Dame, Victor Hugo , dengan istrinya 
yang setia.  Saya katakan setia, karena jetika Victor Hugo terpaaksa meninggal 
Perancis untuk mencari suaka di Belgia, karena sikap politik Victor Hugo yang 
tegas menyokong Peembrontakan Commune de aris, sang istri turut dengan tegar 
menanggung segala duka-derita dan sepi seorang suaka politik di ngeri orang.  
Sang istri tergolong seorang perempuan yang berprinsip. Bukan perempuan yang 
bersikap "ada uang ada sayang, tak ada uang abang melayang".
 
 
Pada musim panas, taman ini menjadi tempat orang-orang berjemur sambil membaca. 
Ia juga berfungsi sebagai tempat pertunjukan, tempat hiburan dan bermain bagi 
anak-anak. Taman yang mencakup beberapa model taman, seperti taman model 
Inggris, di segala musim dijadikan daerah olahraga: jogging,tenis dan  tai 
chichuan, Sekaligus tempat bersantai dan tentu saja juga tempat berkecan. 
Suasana kemesraan merupakan bagian dari pemandangan taman, apalagi di musim 
panas dan siapapan tidak ambil perduli. Menanggapnya hal demikian sebagai 
urusan pribadi yang bersaangkutan. 
 
Menjelang jam 19:00 petang, penjaga taman yang berseragam seperti pakaian 
polisi, membunyikan sempritannya, mengingatkan para pengunjung bahwa taman 
segera akan tutup. Terlarang untuk bermalam di sini seperti halnya terlarang 
untuk bermaam tidur di dalam stasiun metro -- kereta-api bawah tanah.
 
Adakah para pedagang kecil di dalam taman seperti yang kita saksikan di 
tanahair yang segera mengisi tempat-tempat publik dan trotoar? Di dalam taman 
tidak ada sama sekali. Bahkan rumput hijau, apalagi bunga-bunga, terlarang 
diinj ak. Jika kita melanggar ketentuan ini, polisi akan segera datang menegur. 
Kencing sembarangan pun terlarang. Saya ceritakan soal kencing ini, karena 
pernah seorang teman saya yang sakit,  tidak bisa menahan kencingnya. Daripada 
menahan sakit dan mengencingi celananya, ia berlindung di balik sebuah pohon 
besar taman dan kening. Tiba-tiba ia mendengar suara sempritan polisi penjaga 
taman yang langsung mendekati da menegurnya:"Tuan, Monsieur, terlarang buang 
air kecil sembarang". Teman saya itu meminta maaf sambil  mengmenjelaskan 
keadaannya. Polisi taman itu tersenyum maklum,  kemudian berlalu.[Pamusuk 
Eneste ketika melihat ada orang buang air kecil di Saint Michel, setelah 
kembali dari Paris, menulis ketercengangan akan
 kejadian ini sama  membuat tercengangnya Dr. Masud ketika ia diminta ua,g oleh 
pengemis New York. "Bulé minta uang dari seorang Ilander", ujarnya sambil 
tertawa]. 
 
Taman besar yang berpagar besir berujung lancip seperti mata tombak 
setinggi kurang lebih 10 meter, diurus dengan baik oleh petugas khusus. 
Merekalah yang menyapu dedaunan rontok di musim gugur, menggunting dan 
membentuk tanaman-tanaman, menanam bunga. Mendangirnya. Menyirmanya . Sehingga 
taman senantiasa terawat dan asri Memberikan kenyamanan bagi para pengunjung. 
 
Hal unik, satu-satunya di Paris, bahwa pagar besi taman ini sejak 
bertahun-tahun dimanfaatkan sebagai pameran foto permanen. Berlangsung 
siang-malam selama dua bulan dengan tema berbeda-beda. Pagar yang digunakan 
adalah bagian yang menghadapi jalan teramai yaitu simpang tiga Rue de Vaugirard 
yang menuju Universitas Sorbonne dan jalan Saint Michel mengarah ke Pntheon, 
tempat pemakaman atau perisirahatan putera-puteri terbaik Perancis --vbyang 
sebagian besar terdiri dari orang-orang kiri dengan segala tendensinya, 
termasuk anggota Partai Komunis, seperti Madame Curie;, saastrawan Andre 
Malraux yang pernah Trotskis, Vixtor Hugo yang penyokong konsekwen kaum 
Komunard, dan lain-lain.... Keadaan dan kenyataan ini menimbulkan pertanyaan 
pada diri saya: Mengapa banyak orang kiri yang mengisi Pantheon sebagai tempat 
berisitrahat terpandang bagi putera-puteri terbaik Perancis? Apa hubungan dan 
adakah hubungan antara orang kiri dan putera-puteri terbaik? Atau
 sekedar suatu kebetulan belaka?.Tapi yang jelas tidak ada orang kanan, apalagi 
kanan ekstrim.
  
Pameran foto bersarna dan artistik berukur 2 X 4 meter ini diprakarsai dan 
disponsor oleh Senat dengn tujuan edukatif.  Beberapa tema foto yang pernah 
dipamerkan antara lain memperkenalkan kepada masyarakat tentang Perancis, 
Afrika, Tibet, sejarah politik dunia, laut dan kerusakan laut,  tentang 
Tiongkok, bumi dilihat dari langit,  dan lain-lain.....
 
Senati sebagai sebuah lembaga tertinggi negara Perancis memprakarsai pameran 
seni foto permanen begini dan sudah berlangsung beberapa tahun, bagi saya 
sungguh merupakan suatu gejala yang menarik. Ia seperti memperlihat bahwa para 
politisi di Senat memahami peran seni bagi masyarakat, terutama makna 
edukatifnya. Di samping pameran permanen ini secara finansial membantu nyata 
kehidupan para fotograf.  Prakarsa Senat ini juga , dari segi lain, 
memperlihatkan adanya politikus yang mengerti sastra-seni, paham akan budaya. 
Secara singkat bisa disebut sebagai politikus yang berbudaya yang bisa 
berdampak bahwa pendekatan politik mereka pun bisa lebih berbudaya. Hal yang 
berbeda dengan pendekatan militeristik para politisi yang bersandar pada cara 
"main gebuk", iika menggunakan istrilah Presiden Soeharto dalam wawancaranya 
dengan Majalah Times beberapa dasawarsa silam .
 
Adanya barisan politisi berbudaya bahkan sekaligus seniman, di Perancis 
bukanlah hal-ikhwal baru. Presiden George Pompidou telah menerbitkan antologi 
puisi Perancis, François Mitterrand  adalah budayawan yang dikenal sebagai 
penulis yang mempunyai gaya dan bahasa yang kenidahannya diakui oleh semua 
orang, termasuk oleh Presiden Sarkozy sekarang. Sarkozy dalam salah satu 
waxwancaranya mengatakan bahwa pengetahuan sastra François Mitterrand sangat 
luas yang sempat membuatnya merasa rendah diri.  Mantan Perdana Menteri 
Villepin adalah seorang esais yang terkemuka, Luc Ferry, mantan menteri 
pendiikan adalah seorang filosof dan penulis terpandang. Ini hanya untuk 
menyebut beberapa contoh saja. Politikus yang berbudaya agaknya merupakan hal 
yang perlu dipertimbangkan oleh para politisi di negeri kita.Siapakah politikus 
berbudaya di negeri kita? Soekarno barangkali. Tan Malaka, Sjahrir, Njoto, dan 
µSusilo Bambang  Yudhoyono,Jenderal
 Wiranto [barangkali]  yang selain menulis antologi puisi juga menciptakan 
lagu? 
 
Tapi pertanyaan saya dengan mengangkat masalah politisi berbudaya ini adalah 
apakah dalam praktek politik praktis, pendekatanbudaya dan berbudaya ini sudah 
diterapkan? Apakah masakre demi masakre, nyawa manusia dan anak negeri yang 
tidak dihargai sama sekali termasuk ujud dari pendekatan politik yang 
berbudaya? Sementara di Perancis, matinya seorang gelandangan karena 
kedinginan  saja sudah menjadi isu politik besar secara nasional.
 
Pertanyaan-pertanyaan demikianlah yang saya lihat ketika saban hari melalui Rue 
de Vaugirard dan melihat foto-foto pamran permanen di pagar Taman Luxembourg 
yang dielenggarakan oleh Senat sebagai salah satu lembaga tertinggi negara. 
Ketika menyaksikan bagaimana taman sebagai salah satu wahanan pelayanan 
masyarakat.
 
Dari Taman Luxembourg dan pameran foto permanen  taman raya di jantung Paris, 
saya melihat jalan berliku dan pnjang yang masih perlu kita tapaki. Jalan yang 
jika meminjam istilah Mochtar Lubis adalah  "jalan tak punya ujung", 
"perjalanan tak punya sampai", ujar pelukis Salim almarhum. Jalan pemausiawian 
diri, manusia, kehidupan dan masyarakat. Jalan singkat itu memang ada tapi 
hanya bagi yang mengidap pola pikir dan mentalitas "mie instan"" -- jenis 
budaya yang agaknya  jamak di negeri kita. Bagaimana kita merawat, memaknai 
taman-taman, warisan budaya kita? Barangkali jawaban pertanyaan-pertanyan ini, 
membantu kita berkaca melihat wajah diri negeri,terutama wajah pola pikir dan 
mentalitas penyelenggara negeri dan negara serta diri kita sendiri.****  
 
 
Perjalanan Kembami, Musim Dingin 2008.
---------------------------------------------------------
JJ. Kusni 
 
 
Keterangan foto:
Pagar besi Taman Luxembourg yang digunakan oleh Senat Perancis sebagai wahana 
pameran foto permanen  sejak bertahun-tahun [Dari Dok. JJK].


      Yahoo! Toolbar is now powered with Search Assist.Download it now!
http://sg.toolbar.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke