Krisis Finansial Global yang
terjadi sejak dua bulan lalu kini kian menjadi-menjadi raungannya. Walaupun 
krisis
finansial mulanya hanya terjadi di negri Paman Sam, namun tidak satu Negara pun
yang luput terkena imbasnya.. Hal ini disebabkan, posisi Amerika sendiri sabagai
salah satu konsumen terbesar dunia mengurangi permintaannya di pasar
Internasional.
Bagi Indonesia, Walaupun krisis
saat ini tidak separah apa yang pernah terjadi sepuluh tahun lalu (krisis
ekonomi Indonesia), namun dampaknya kian merebak keseluruh elemen masyarakat. 
Hal
dikarenakan Indonesia yang notabene sebagai salah satu pemasok produk-produk
yang dibutuhkan oleh Amerika baik mentah maupun yang telah jadi, kini menjadi
salah satu negara yang kalang kabut menghadapi masalah ini. Bagaimana tidak,
dengan pengurangan permintaan pasar Internasional atas komoditi-komoditi
Indonesia mengakibatkan banyak Perusahaan Swasta, BUMN  dan UKM yang 
memproduksi produk ekspor gulung
tikar yang mengakibatkan bertambahnya angka pengangguran di Indonesia.
Tidak bisa dipungkiri bahwa
Mahasiswa Luar Negri(LN) sebagai salah satu elemen masyarakat Indonesia
merasakan betapa dampak krisis ini menghantui kehidupannya. Penulis meyakini,
bahwa keberadaan elemen terkecil Masyarakat Indonesia ini kurang mendapat
perhatian dari Pemerintah saat kondisi seperti ini. Ini dikarenakan adanya
sebuah statemen yang mengeklaim bahwasanya Mahasiswa LN merupakan masyrakat
Indonesia yang tidak pernah mempunyai permasalahan ekonomi alias elemen 
berduit. 
Penulis berani mengatakan bahwa
ini adalah statemen yang sepihak dari pihak yang tidak pernah tahu kondisi
lapangan Mahasiswa LN. Sejauh yang penulis ketahui, mayoritas mahasiswa
Indonesia LN berasal dari keluarga menengah kebawah, dan dari golongan ini
mayoritasnya dari keluarga ekonomi bawah pula. Mereka yang menjadi Mahasiswa LN
rata-rata dibiayai oleh Shoolarship penuh -seperti di Amerika dan Eropa-  dan 
sebagian lagi dikarenakan biaya kuliah
rendah seperti di Timur Tengah.
Beasiswa penuh yang pada
teknisnya mencakup biaya kuliah dan biaya hidup, pada prakteknya mahasiswa juga
harus merogoh biaya sendiri untuk menambahi kekurangan biaya hidupnya. Mahasiwa
Indonesia di Eropa misalnya, jika mereka mendapatkan beasiswa sebesar $ US
1000, sedangkan kebutuhan mencapai $ US 1.300 maka mereka harus menambahi $ US
200 lagi untuk mendapatkan hidup yang layaknya disana. Angka $ US 300 memang
sangatlah kecil dibanding dengan beasiswa yang mereka peroleh, namun ketika
mereka berasal dari keluarga menengah kebawah dari mana mendapatkan uang dengan
angka sebesar itu ditengah-tengah krisis Finansial seperti sekrang ini.
Dari Eropa, sekarang kita
meneropong kondisi Mahasiswa Indonesia timur Tengah dan penulis memilih
Mahasiswa Indonesia Mesir (yang popular dengan nama Masisir)sebagai contohnya.
Masisir terbangun dari keluarga berstatus ekonomi menengah kebawah  dan ini 
sangat bebeda dengan Mahasiswa LN
yang lain. Selain kualitas yang tidak ada duanya, biaya hidup dan biaya kuliah
yang tidak terlalu jauh dengan Indonesia, membuat Mesir menjadi salah satu
trend andalan Mahasiswa Indonesia. 
Beberapa waktu lalu, setelah
terbitnya novel Ayat-Ayat Cinta berikut filmnya yang menurut penulis  sama 
sekali tidak mewakili apa yang
sebenarnya dilapangan termasuk masalah perekonomian Mahasiswa membuat nama
Masisir popular dan laris manis di tanah air. Namun penulis sediikit lega
ketika sebuah novel “Ketika Cinta Bertasbih” yang ditulis oleh penulis yang
sama akhirnya diterbitkan dan sedang digarap filmnya. Karena setahu penulis,
isi dari novel tersebut cukup mewakili bagaimana keadaan ekonomi Mahasiswa LN
yang berada di Tim-Teng.
Sejauh yang penulis ketahui
rata-rata mahasiswa Indonesia Mesir mendapat jatah dari orang tua sebesar Rp.
1.000.000,- dan banyak pula yang dibawah angka itu bahkan ada yang tidak
mendapatkan kiriman sama sekali dari tanah air. Untuk memenuhi biaya hidup yang
layak, mahasiswa mayoritas mengandalkan beasiswa dan mengejar bantuan-bantuan
lokal. Namun tidak sedikit mahasiswa yang menutup kebutuhan tersebut dengan
menjadi kuli, koki restoran-restoran asia, traveling, catering dan bahkan
membuat tempe dan krupuk khas Indonesia. 
Sebelum Krisis Finansial Global
terjadi dan nilai tukar rupiah masih berkisar Rp. 9.000,-, dengan kiriman satu
juta rupiah dari orang tua, mahasiswa bisa mendapatkan kurang lebih Le.
600,-(enam ratus pound). Namun sekarang, saat penulis membuat artikel ini,
nilai tukar rupiah terhadap dolar sangat melemah sekitar, Rp. 12.800,-
Mahasiswa Indonesia LN ala Mesir hanya mendapatkan Le, 420,- (empat ratus
pound). Sedangkan dalam waktu yang bersamaan, Krisis Finansial Global juga
melanda Negri Fir`aun itu dan secara otomatis semua harga beranjak meroket.
Jika sebelumnya ada sebuah
kalimat yang mengungkapkan “Akhir bulan, kantong kering”, kini bagi mahasiswa
LN ala Mesir kalimat itu telah berganti menjadi ”Tengah bulan, Kantongnya sudah
kering”. kalau dahulu Mahasiswa bisa makan 2 atau 3 kali dalam sehari, maka
sekarang mahasiswa harus rela dan sabar serta selalu bersyukur untuk makan
sekali atau paling banyak 2 kali dalam sehari  dan itupun dengan menu kentang 
goreng, sambal terong atau telor mata
sapi. Dan tak heran jika restoran-restoran Asia terutama Indonesia sepi oleh
pelanggan dalam kurun terakhir ini.
Melihat kondisi sperti ini,
penulis teringat potongan lyric lagu “Groningen” yang dibuat oleh teman-teman
mahasiswa Belanda yang menggambarkan betapa mereka harus beremat untuk
mencukupi perekonomian mereka.
Walau tinggal di
Belanda tetap makan nasi
Walau tinggal di Belanda,
tahu tempe tak lupa
Walau tinggal
dibelanda tetap makan indomie
Walau...(lupa), masih genjot sepeda
Kalau saja
Masisir membuat lagu dengan tema yang sama, semoga diatara potongan lyricnya
berbunyi seperti ini;
Walau makan sekali, aku tetap bersyukur
Walau badan tambah kurus, hati akan tetap lurus
Sebagai catatan
akhir, penulis ingin memberitahukan kepada seluruh elemen masyarakat Indonesia
dimanapun dan dari golongan apapun bahwa Mahasiswa Luar Negri juga Masyarakat
Indonesia biasa. Jangan lantas karena kuliah di luar negri, kemudian dicap 
berduit
dan kemudian tidak didengarkan jeritannya.
Artikel asli ditulis dan dipublikasikan oleh:

MJ Institute - Education is Struggle | Muhammad Jamzuri Khasbullah
www.mjinstitute.com


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke