Terima kasih pak rizqi atas artikelnya..

Informasi yang sangat berguna bagi umat islam pada umumnya dan anggota milis
ini pada khususnya...
Mudah2an bisa membantu dalam ber-*tabayyun* dan *melihat suatu masalah
secara lebih objektif* tanpa mendzolimi yang lain...
Lebih baik kita gunakan energi kita untuk li i'laai kalimatillah dan melawan
musuh islam yang sebenarnya daripada berperang melawan teman sendiri...
kalau tujuan kita satu, yaitu li i'laai kalimatillah, pasti kita akan
bertemu....
karena sejatinya : *Nahnu min jamaa'atil muslimin.....*

Yang perlu diingat..kebenaran tidak akan pernah dikalahkan oleh
kebathilan....


salam perdamaian...[?]

2008/12/11 Muhammad Rizqi Ramadlan <[email protected]>

>   --- In [email protected] <cipasung%40yahoogroups.com>, "Muhammad
> Rizqi Ramadlan"
> <mr_romd...@...> wrote:
>
> BAYAN DEWAN SYARI'AH PUSAT PKS
> TETAP PARTAI DA'WAH, MESKI PKS TERUS DIFITNAH
>
> Bismillahirrahmanirrahim
>
> Alhamdulillahirabbil alamina wasshalatu'ala sayyidil mursalin,
> nabbiyina Muhammadin wa'ala alihi washahbihi ajma'in. Wa ba'du.
>
> Fenomena partai da'wah PKS dalam blantika perpolitikan nasional telah
> mengundang banyak hal. Ada ketercengangan, ada pertanyaan, ada pula
> kekhawatiran bahkan kecurigaan. Menghadapi laju PKS di ranah politik
> sekaligus ranah da'wah, berbagai pihak melakukan berbagai ragam cara.
> Bertambah banyak yang simpati lalu mendukung, tapi tidak sedikit yang
> menebar halang rintang dengan langkah politis, bahkan ada yang
> menebar kedustaan dengan isu keagamaan. Cara yang terakhir ini
> berulangkali dimunculkan berbarengan dengan perjuangan politik PKS
> melalui pemilihan legislatif dan pilkada. Sebagai partai da'wah yang
> berfungsi memberikan pencerahan kepada masyarakat luas, PKS harus
> menjelaskan siapa ia sebenarnya. Sesuai AD/ART partai, lembaga yang
> berkompeten menjelaskan pandangan dan sikap keagamaan PKS adalah
> Dewan Syari'ah. Sedangkan pandangan atau sikap keagamaan kader PKS
> secara individual tidak mencerminkan pandangan dan sikap partai.
> Berikut ini pandangan resmi Dewan syari'ah Pusat PKS tentang beberapa
> masalah keagamaan yang telah dipolitisir.
>
> 1. PKS dan Ahlussunah Wal Jama'ah
> Sebagai partai da'wah PKS berpegang teguh pada aqidah Ahlussunah Wal
> Jama'ah dengan sumber rujukan utama sebagaimana termaktub dalam
> Ittijah Fiqih PKS, berupa Mashdir Asasiyah ( Sumber hukum Primer )
> yang disepakati oleh Jumhur Ahlussunah Wal Jama'ah, yaitu Al-Qur'an
> yang suci, ijma' dan qiyas.
>
> 2. PKS dan 'Wahabisme'
> Tidak ada hubungan antara PKS dengan 'Wahabisme', yaitu gerakan yang
> dipimpin oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahab di negeri Hijaz yang
> bertujuan untuk memurnikan 'aqidah dari Takhayul, Bid'ah dan Khurafat
> (TBC), bekerja sama dengan Malik Abdul Azis yang menggunakan berbagai
> cara yang sifatnya halus sampai yang radikal. Jelas tidak ada
> hubungan historis karena PKS lahir pasca reformasi 1998. Tidak ada
> hubungan struktural organisatoris antara PKS dengan organisasi
> keagamaan di Saudi Arabia. Bahwa di antara pimpinan PKS pernah studi
> di Saudi Arabia, hal yang sama berlaku juga pada ormas Islam yang
> lain. Bahkan ada yang pendirinya pernah mukim di sana. Tapi tidak
> lantas ormas-ormas tersebut boleh dituduh sebagai 'Wahabiyah'.
>
> 3. Kolektivitas dan Keberagaman PKS
> Sebagai partai da'wah yang berprinsip kejama'ahan, maka sifat
> kolektifitas menjadi ciri PKS yang mewadahi keberagaman, baik dalam
> rekruting kader maupun pandangan keagamaan dan politiknya.
>
> - Ketua Majelis Syura PKS, KH. Hilmi Amminuddin alumni Universitas
> Islam Madinah, dekat dengan kalangan Persis.
>
> - Duta Besar RI di Saudi Arabia, DR. Habib Salim Segaf Al Jufri
> adalah seorang habib cucu pendiri Al Khairat dan salah satu seorang
> pendiri Partai Keadilan. Beberapa Habib yang lain fungsionaris PKS
> seperti Habib Abu Bakar Al Habsy, Habib Nabil Al Musawwa, dan Habib
> Fahmi Alaydrus.
>
> - Presiden Pertama Partai Keadilan, DR. H. Ir. Nurmahmudi Ismail,
> MSc. Lulusan Amerika berlatang belakang Pesantren di Kediri yang
> kental ke NU-annya.
>
> - Presiden kedua Partai Keadilan PKS yang kini ketua MPR RI, DR. H.
> M. Hidayat Nurwahid, MA lulusan Universitas Islam Madinah, berlatar
> belakang Muhammadiyah.
>
> - Presiden PKS yang sekarang, Ir. H. Tiffatul Sembiring Alumni
> Sekolah Tinggi Teknik di Indonesia dan kursus Manajemen Politik di
> Pakistan yang punya latar belakang organisasi di PII.
>
> - Ketua MPP-nya, Drs. H. Suharna Surapranata, MT lulusan UI dan
> Jepang berlatar belakang aktivis masjid kampus.
>
> - Ketua Dewan Syari'ah PKS, H. DR. Surahman Hidayat, MA tamatan
> Universitas Al-Azhar Mesir yang bermahzhab Syafi'i, latar belakangnya
> NU dan PUI, sebelumnya PII dan HMI.
>
> - Beberapa anggota Dewan Syari'ah Pusat juga berlatar belakang NU
> seperti, KH. DR. Muslih Abdul Karim, MA murid kesayangan KH. Abdullah
> Faqih, Langitan. H. Bukhari Yusuf, MA, sekretaris DSP, murid
> kesayangan KH. Noer Ahmad S ahli ilmu falak NU. H. Bakrun Syafi'i, MA
> Alumni Pesantren Al Munawwir, Krapyak Yogyakarta adalah murid
> kesayangan KH. Ali Ma'shum. H. Amang Syarifuddin, Lc,M.Si Alumnus
> Pesantren NU Cipasung, Tasikmalaya yang sering dipuji sebagai murid
> nomor 1.
>
> - Beberapa Ulama seperti Prof. DR. KH.Didin Hafidhuddi, MS (Ketua
> BAZNAZ), DR. Ahzami Samiun, MA (putera Tokoh NU, KH.Samiun Jazuli),
> Prof.DR.Ahmad Syathori (Alumni Pesantren babakan Ciwaringin dan
> Buntet), adalah tempat bertanya dan rujukan kader PKS.
>
> 4. Furu'iyah di PKS
> Da'wah PKS menekankan pada tema-tema besar yang bersifat prinsip
> (qadhya ushuliyah). Ini supaya da'wah PKS bersifat mempertemukan
> mempersatukan (jami'ah-tajmi'ah) dan tidak menimbulkan perselisihan/
> perpecahan (tafriqiyah). Ittijah Fiqh (Orientasi Fiqih) Dewan
> Syari'ah PKS mendahulukan fiqh persatuan (i-tilaf) daripada fiqh
> perbedaan (ikhtilaf). Menggali dan mengambil faidah dari khazanah
> fiqhiyah yang ada dengan prinsip "Almuhafazhatu'alal qadimish shalih
> wal akhdzu bil jadidil ashlah' mengambil pendapat klasik yang masih
> cocok dan pendapat baru yang lebih maskahat. Tapi dalam praktik
> keseharian memperhatikan harmoni dengan mazhab yang banyak
> dipraktikan yaitu mazhab Syafi'i. Mengedepankan cara kompromi
> (thariqatul jam'i) atas tarjih, dan menggunakan prinsip keluar dari
> khilafah (khuruj'anil khilaf) sejauh dimungkinkan. Kemudian terhadap
> perbedaan dalam masalah cabang (furu') mengedepankan sikap toleran
> (tasamuh). Prinsip yang dipegang "NATA'AWANU FIMA ITTAFAQNA'ALAIHI WA
> YA'DZURU BA'DHAN FIMA IKHTALAFNA FIHI" bekerja sama dalam hal-hal
> yang disepakati dan saling menghormati dalam hal-hal yang
> diperselisihkan.
>
> 5. Sikap PKS dalam masalah Khilafiyah
> Berikut ini beberapa masalah khilafiyah/furu'iyah yang sering
> dijadikan alat untuk menfitnah PKS dan pandangan resmi Dewan Syari'ah
> Pusat PKS tentang itu.
>
> a. Do'a Qunut
> Bagaimanapun do'a qunut status hukumnya adalah sunat. Yang disepakati
> adalah do'a qunut dalam shalat witir, qunut nazilah dalam shalat
> fardhu yaitu memohon tolak bala dari kaum muslimin dan mendo'akan
> bencana bagi musuh Islam. Adapun qunut subuh tetap saja merupakan
> masalah khilafiyah. Masalah pilihan, paling tinggi porsinya antara
> rajih dan marjuh, bukan antara sunnah dan bid'ah. Jadi tidak ada
> bid'ah dalam qunut shalat fajar. Dan mengamalkan yang marjuh bisa
> menjadi pilihan jika membawa kemaslahatan dalam mu'amalah. Jadi bukan
> sikap pilihan plin plan, tapi cerminan sikap bijak dan cerdas.
> Secerdas Imam Muhammad bin Al Hasan Al Syaibani murid Imam Abu
> Hanifah yang melakukan qunut ketika ziarah ke mesir dan menjadi Imam
> shlat shubuh. Ini karena beliau menghormati Imam Syafi'i imam madzab
> yang dominan di Mesir. Dan sebijak Imam Syafi'i yang tidak qunut
> shubuh ketika beliau ziarah ke Imam Muhammad di Baghdad. Dalam
> pengamalan di acara-acara PKS kadang qunut shubuh kadang juga tidak,
> tergantung imamnya. Dan itu tidak pernah ada masalah.
>
> b. Membaca Do'a dan Tahlil untuk yang meninggal
> Pada dasarnya membaca do'a untuk mayit dianjurkan (sunat). Berkat
> ikatan 'aqidah tauhid tidak terputus hubungan sesama muslim dengan
> yang sudah mati sekalipun. Dalam Al-Qur'an ada do'a "Rabbanagfirlana
> wa li-ikhwanina alldzina sabaquna bil imani, wala taj'al fi qulibina
> ghilan lilladzina amanu...rabbana innaka raufurrahim" (QS 59:10).
> Menghadiahkan bacaan surah al fatikhah atau lainnya untuk mayit, atau
> mewaqafkan/menshadaqahkan sesuatu atas nama atau menujukan pahalanya
> untuk mayit merupakan amal shalih yang diterima, sesuai pendapat
> jumhur ulama. Istighfar, tasbih, tahmid dan tahlil merupakan bagian
> dari keseluruhan do'a yang dibaca. Waktu berdo'a untuk mayit tidak
> harus dibatasi pada waktu atau hari-hari tertentu, dan tidak boleh
> disyaratkan, sehingga pilihan waktunya lebih luang dan leluasa sesuai
> kesempatan atau kemampuan..
>
> c. Perayaan Maulid Nabi SAW
> Perayaan memperingati maulid Nabi Muhammad Saw menurut sebagian
> riwayat, digagas oleh Sultan Salahuddin al Ayyubi di Mesir dalam
> rangka meningkatkan ruhul jihad umat Islam. Sampai hari ini
> Universitas Al Azhar sendiri mensyi'arkan peringatan maulid Nabi Saw.
> Bagi kepala pemerintahan seperti Sultan Salahudin, hal itu merupakan
> kebijakan yang sesuai syari'ah (siyasah syari'ah), yang didefinisikan
> Imam Ibnu Uqail sebagai perbuatan yang dilakukan karena lebih
> maslahat bagi masyarakat dan lebih menghindarkan mereka dari
> mafsadat, meskipun tidak pernah disabdakan atau dicontohkan oleh Nabi
> Saw. Adapun bagi masyarakat muslim, peringatan maulid Nabi Saw
> dipertimbangkannya adalah semata-mata kemaslahatan (mashalah
> mursalah). Dasar pertimbangan maslahat ini juga yang menyeleksi ragam
> acara yang dipandang membawa maslahat. Tentu saja dalam konteks ini
> ada ruang bagi tradisi dan kreasi yang baik, sehingga ada variasi
> dari tempat ke tempat lain dan dari waktu ke waktu yang lain. Jika
> dibarengi niat yang lillah, untuk meninggikan Dinullah dan tidak ada
> sesuatu yang melanggar syari'ah dalam mata acaranya, insyaAllah
> bernilai ibadah. Di lingkungan PKS, biasa diadakan peringatan maulid
> Nabi Saw oleh DPP maupun struktur di bawah. Bahkan dianjurkan agar
> pelaksanaannya bekerja sama dengan masjid, lembaga keagamaan atau
> masyarakat sekitar. Para Kepala pemerintahan kader PKS biasa
> memprakarsai atau mensponsori para Da'i atau asatidz kader PKS biasa
> menjadi penceramah dalam peringatan ini.
>
> d. Yasinan
> Disebutkan dalam sebuah riwayat Imam Ahmad bahwa Surah Yasin
> merupakan qalbunya al-Qur'an. Membacanya merupakan ibadah. Disepakati
> aturan membacanya di samping orang yang sakit parah. Boleh dibaca
> untuk pengobatan dengan ruqyah syar'iyah. Boleh membacanya untuk yang
> sudah meninggal, menurut jumhur ulama. Sejauh ada pendapat yang
> membuka peluang amal adalah tidak bijak menutupnya bagi siapa yang
> ingin melakukannya. Waktu membacanya luas, boleh siang apalagi malam
> dan pada waktu-waktu yang khidmat. Tidak perlu dibatasi waktu
> tertentu. Pertimbangannnya adalah kesempatan dan kekhidmatan.
> Membiasakan acara membaca al-Qur'an atau memilih surat-surat
> tertentu, insya Allah merupakan 'adah shalihah atau tradisi yang
> baik. Memilih surat tertentu untuk dilazimkan dibaca, bukan karena
> mensyaratkan atau membatasi, tapi karena lebih menyukainya atau lebih
> familiar, insya Allah merupakan kabajikan, semoga Allah mempertemukan
> pembacanya dengan surat yang dicintainya.
>
> Secara umum, merupakan kebijaksanaan dalam da'wah PKS untuk
> menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan (ihyaul sunnah al
> mahjurah) dan tradisi Islami yang menyemarakkan syiar Islam sebagai
> cerminan ketaqwaan.
>
> Melalui Bayan ini kami serukan kepada segenap pecinta kebenaran
> dengan semangat iman dan keadaban, agar tidak termakan oleh fitnah
> dan hasutan baik lisan maupun melalui selebaran gelap yang menuduh
> PKS adalah Wahabi dan Bukan Ahlusunnah Al Jama'ah. "Berbuat dusta dan
> menyebarkannya adalah dosa besar" (HR Bukhori)
>
> Hasbunallah wani'mal wakil, wahuwal muwaffiq ila aqwamith thoriq
>
> Jakarta, 21 Syawal 1529/21 Oktober 2008
>
> Dewan Syari'ah Pusat
> Partai Keadilan Sejahtera
>
> KH. DR. Surahman Hidayat, MA
> Ketua
>
> (Dikutip Dari Koran Republika dan Pikiran Rakyat, Tgl 23 Oktober 2008)
>
> --- End forwarded message ---
>
> 
>



-- 
Muhammad Thurisina Choliq


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke