Kang Said: Tak Ada Ayat Al-Quran tentang Pendirian Negara Islam
Selasa, 16 Desember 2008 04:45

Surabaya, */NU Online
/*Tak ada satu pun ayat dalam Al-Quran yang memerintahkan muslim untuk 
mendirikan negara Islam. Umat Islam hanya diwajibkan membangun tatanan 
masyarakat yang harmonis, berkeadilan dan berkesejahteraan.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj 
mengatakan hal itu saat menjadi narsumber pada seminar bertajuk Refleksi 
Kebangsaan Indonesia Menuju 2009, di Kampus Institut Agama Islam Negeri 
(IAIN) Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur, Senin (15/12).

"Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi (Muhammad) tidak ada satu pun 
memuat perintah tentang mendirikan negara Islam, apalagi partai Islam," 
ujar Kang Said---begitu panggilan akrabnya, seperti dilaporkan 
Kontributor */NU Online/*, Maulana Lana.

Menurut alumnus Universitas Ummul Qurra', Mekah, Arab Saudi, itu, 
manusia adalah khalifah yang bertugas sebagai 'mandataris' Tuhan untuk 
membangun bagi seluruh alam semesta raya.

Dia menerangkan, perjalanan Nabi Muhammad masuk Yastrib (Madinah) 
membentuk masyarakat plural. Semua warga berhak beraktivitas dan 
merupakan keluarga, bukan musuh. ''Yang musuh bersama adalah pejabat 
yang zalim, pejabat yang korup, dan lain-lain,'' tandasnya.

Dalam konteks ke-Indonesia-an, imbuhnya, nasionalisme Soekarno dibangun 
juga berlandaskan agama. Dua anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan 
Kemerdekaan Indonesia: KH Agus Salim dan KH Wahid Hasyim, sebagai produk 
pesantren, juga mendukung kebangsaan, bukan negara Islam.

''Jadi, satu-satunya yang dapat membangun kita adalah jati diri 
kebangsaan, yang akan menjadi dasar mempersatukan kita. Kenyataannya, 
kita masih primordial. Kuncinya adalah pendidikan. Sayangnya pendidikan 
kita masih rutinitas, jadi pendidikan juga belum berhasil," terang Kang 
Said.

Hal yang sama dikatakan Direktur Reform Institute Yudi Latif yang juga 
hadir pada kesempatan itu. Menurutnya, komitmen kebangsaan memuat 
tentang konsep umat yang dikembangkan Nabi Muhammad di Madinah. Sehingga 
memperjuangkan nilai kebangsaan berdasarkan agama.

Guru Besar IAIN Sunan Ampel Nur Syam mengatakan, era reformasi 
memunculkan gerakan radikalisme. Islam garis keras sangat merisaukan, 
bahkan kemudian akan merugikan NU dan Muhammadiyah.

''Agama seharusnya menjadi sumber legitimasi dan menjadi solusi. Dalam 
situasi krisis, agama kembali kepada kekuatan aslinya, sebagai kekuatan 
moral. Agama seharusnya menyampaikan pesan-pesan moral. Sehingga akan 
dicapai suatu perdamaian,'' katanya. (rif)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke