Bisakah Kita (Ummat) Bersatu?


Menyambut Tahun Baru 1430 Hijriyah
Oleh: TIFATUL SEMBIRING
PRESIDEN PKS

Tahun baru hijriyah diyakini banyak pemikir Islam sebagai tahun 
kebangkitan Islam, bahkan menjadi titik balik kemenangan perjuangan 
Rasulullah saw. dan para shahabat. Setiap tahun kita memperingati 
tahun baru Islam ini, namun sudahkah secara substansial ada 
pencerahan di tubuh ummat dengan berlalunya tahun baru demi tahun 
baru? Sudahkah semangat energizing berhasil kita serap dari momentum 
yang  menjadi titik balik kemenangan tadi…?. Masih banyak 
permasalahan ummat yang belum tuntas kita upayakan solusinya, 
termasuk masalah persatuan ummat dan pemunculan sosok-sosok pemimpin 
yang berkualitas.

Perpecahan selalu membawa malapetaka dan kerusakan besar di tengah-
tengah ummat. Kurang percayakah kita? Kurang yakinkah kita setelah 
demikian banyak bukti sejarah memberi pelajaran? Perpecahan, 
perselisihan di perang Uhud misalnya, mengakibatkan gagalnya 
kemenangan yang semula sudah diraih. Rasulullah saw. tembus di 
pipinya karena dilempari dengan pecahan besi, yang ketika dicabut 
menyebabkan dua gigi beliau patah. Bahkan ketika para sahabat memapah 
beliau ke tempat yang lebih tinggi, Rasulullah saw terperosok ke 
dalam lubang jebakan yang berisi senjata tajam, sehingga paha beliau 
sobek dan jatuh pingsan karena begitu banyaknya darah yang keluar. 

Kurang yakinkah kita akan efek dari perpecahan? Tengoklah perang 
Shiffin yang disebabkan oleh konflik antara Ali dan Mu'awiyah. Perang 
yang menelan korban 80.000 muslimin. Sebuah tragedi kelam dalam 
sejarah Islam. Belum paham jugakah kita bagaimana pedihnya 
perpecahan? Di Iraq, ratusan orang menjadi korban ketika kaum Syi'ah 
menyerang kaum Sunniy. Selanjutnya kaum Sunniy menyerang kaum Syi'ah 
sehingga meninggal pula sejumlah orang, dan seterusnya tak 
berkesudahan. Padahal sunniy bukanlah musuh syi'ah dan syi'ah 
bukanlah musuh sunniy? Musuh mereka adalah sang penjajah Amerika. 
Belum sadarkah kita tentang apa yang terjadi di Palestina? Ketika 
Presiden Palestina—Mahmud Abbas—berkunjung ke Indonesia dan 
mengundang untuk berdiskusi, dengan tegas saya sampaikan kepada 
beliau, bahwa bangsa Palestina tidak akan meraih kemenangan kecuali 
mereka bersatu melawan Israel. 
Benarlah kata Imam Ali dalam pesannya, "Kebenaran yang tidak 
terorganisir akan dapat dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir".

Sesungguhnya modal kita untuk bersatu sangat sederhana. Ialah ketika 
kita sepakat untuk mengucapkan "Asyhadu an laa ilaha illallah, wa 
asyhadu anna Muhammadurrasulullah". Bagi kami, ketika seseorang 
menyatakan komitmennya untuk taat pada Allah dan Rasul-Nya, cukuplah 
itu. Soal fiqh, furu', cabang-cabang, pendapat, mari kita bicarakan, 
mari kita diskusikan, mari kita perdalam. Wong niatnya sama-sama mau 
masuk surga kok, kenapa harus cek-cok?


TANTANGAN & VISI KE DEPAN

Sebetulnya apakah persoalan pokok ummat? Agenda mendesak apa yang 
perlu kita selesaikan bersama? Hal terberat yang sedang dihadapi 
ummat kini adalah kemiskinan, yang nyaris mendekatkan mereka kepada 
kekufuran. Ada beberapa contoh kasus, di Bandung misalnya, seorang Ibu
(berkerudung pula) sampai hati membunuh anaknya karena khawatir anak-
anaknya miskin. Juga di Makassar, seorang Ibu yang sedang hamil 
meninggal karena kelaparan. Tiga hari dia tidak makan, demikian pula 
anak-anaknya.
Kelemahan ekonomi ummat adalah penyebabnya. Hingga saat ini kemampuan 
ummat untuk berekonomi belumlah memadai. Bagai menjadi budak di 
negeri sendiri. Baik dari sisi akses terhadap sumber daya maupun 
skill-nya. Ekonomi masih dikuasai oleh sistem, konvensional ribawi. 
Lalu datanglah krisis ekonomi, masalah semakin berat. Akibatnya 
langsung dapat dilihat. Untuk menyelamatkan keluarga, para gadis dan 
ibu-ibu berangkat menjadi TKW diluar negeri. Dimana `izzah ummat ?, 
martabat bangsa.  Begitu kerap kita mendengar kasus-kasus yang 
menyayat hati: ada yang diperkosa, dihukum mati, ada yang terjun dari 
tingkat empat lantaran tidak tahan disiksa majikan. Dan kita tidak 
mampu melindungi mereka. 
Masalah moral juga menorehkan catatan menyedihkan. Kita dapati tokoh-
tokoh muslim  yang namanya seperti nama Nabi, seperti gelar Nabi, 
seperti nama orang sholeh namun ditangkap KPK. Mereka menjadi harapan 
ummat, menyandang nama terpercaya, namun ternyata korupsi. Seberapa 
kuatkah komitmen moral kita? Moral Islam.

Agenda berikutnya adalah pendidikan. Soal penyiapan SDM unggul, yang 
dapat diandalkan menjalankan roda pembangunan ummat. Apalagi 
persiapan kepemimpinan nasional dimasa mendatang. Sekarang saja, 
bangsa besar ini seperti kebingungan mencari calon pemimpinnya. Kita 
masih saling bertanya satu sama lain, padahal kita berdoa "waj'alna 
lil muttaqiina imaman". Kita mohon pada Allah swt. agar menjadikan 
anak-anak kita sebagai pemimpin orang-orang bertaqwa.
Memang kita memiliki banyak pesantren. Namun setelah kami riset, 
pesantren-pesantren tersebut dapat kita bagi dalam dua kategori. 
Kategori pertama adalah pesantren yang memiliki metode pengajaran dan 
kurikulum bagus, namun sarananya amat memprihatinkan. Di sebuah 
pesantren kami pernah menemukan sebuah ruang 3x4 m2 yang dihuni oleh 
30 anak. Sanitasinya tidak terawat, bak penampung air mandi yang tak 
pernah diganti sehingga menyebabkan penyakit kulit. Bahkan ada sebuah 
pemeo, tidak sah menjadi santri kalau tidak kudisan. 
Kelompok kedua adalah pesantren yang memiliki sarana bagus, namun 
kurikulumnya tidak memiliki keunggulan. Penyiapan kwalitas SDM ummat 
ini perlu pembenahan, dengan sinergi dan persatuan dan keuatan 
bersama tentunya.


SIAPA YANG HARUS BERBUAT?

Dalam konteks ummat Islam Indonesia setiap orang tentu merujuk kepada 
NU dan Muhammadiyyah dengan segenap elitenya. Pertanyaannya adalah, 
bisakah kita menurunkan tensi jurang pemisah. Saling adzillatin, 
menjalin tali asih. Saling merendah dan bukannya saling gengsi. 
Bisakah kita sesama ummat BERHENTI saling mencurigai(su'uzhan), 
saling mengintai(wa laa tajassasu), saling membelakangi dan saling 
menggunjing(ghibah). Kita membutuhkan persatuan dalam kesejukan 
ikatan kasih sayang persaudaraan. Bila bersatu, maka kita akan kuat 
dan insya Allah sanggup untuk menghadapi kekuatan kebathilan apapun 
bentuknya. 

Sangat mungkin dan sangat layak ummat ini bersatu. Pak Din, Pak 
Hasyim dan Pak Hidayat—tokoh-tokoh harapan ummat--sama-sama alumni 
Gontor dan sama-sama menduduki posisi strategis. Dengan seringnya 
tokoh-tokoh yang dicintai ummat ini bersilaturahim, syak wasangka 
akan terhapus, keakraban akan kian kokoh dan berbagai pemikiran untuk 
kemajuan ummat dan bangsa akan mengalir deras. Terbayang betapa 
bahagia dan sejuknya hati ummat menyaksikan para pemimpinnya kokoh 
bersatu. Sesuatu yang sudah amat kita rindukan.

Tak ada ghill secuilpun dari kami terhadap NU dan Muhammadiyyah. Kami 
tidak memiliki rencana negatif apapun terhadap saudara-saudara kami 
NU dan Muhammadiyyah. Kami bergerak di ranah politik, sama dengan 
saudara-saudara kami parpol Islam lainnya. Membenahi eksekutif dan 
legislatif, mengadvokasi ummat di ranah pembuatan kebijakan publik. 
Bila perjuangan di ranah politik ini mendapat dukungan dari saudara-
saudara kami yang lain, khususnya ormas-ormas, tentu kita akan 
memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. 
Demikianlah harapan kita, ummat ini menjadi kuat, karena kita saling 
merunduk, saling merangkul, bagaikan satu tubuh. Sehingga kita 
(ummat) ini bisa dan harus bersatu untuk maju. Selamat Tahun Baru 
1430 Hijriyah !

Kirim email ke