Buku Tim Weiner Pisau Bermata Dua bagi Indonesia
29/12/2008
Oleh Hendrajit

Ada satu etos di kalangan akademisi dan para penulis di Amerika
Serikat (AS) yang sebenarnya patut dicontoh di Indonesia, yaitu
dorongan yang cukup kuat dari para sejarawan maupun wartawan senior
di negara Paman Sam tersebut, untuk membongkar sejarah kelam
bangsanya sendiri. Buku karya Tim Weiner bertajuk Membongkar
Kegagalan CIA, merupakan salah satu bukti nyata bagaimana sang
penulis mengungkap habis-habisan sepak-terjang beberapa presiden AS
untuk menggulingkan suatu pemerintahan di negara dunia ketiga yang
dianggap tidak sejalan dengan kepentingan strategis Washington.

Dari sudut pandang kepentingan masyarakat AS yang ingin membuka kedok
konspirasi jahat para mantan presiden sekaligus pentolan-pentolan CIA
yang melekat dengan persekongkolan klik presiden yang sedang
berkuasa, tentu saja buku seperti yang ditulis Tim Weiner menjadi
satu hal yang cukup positif untuk membongkar sejarah kejahatan
politik para mantan presiden AS itu sendiri.

Namun, bagi Indonesia, fenomena Tim Weiner dan karyanya bisa menjadi
"pedang bermata dua." Pada satu sisi, buku Weiner memang bisa memberi
inspirasi maupun petunjuk bagi para pihak di Indonesia yang masih
mengagendakan suatu pengungkapan tuntas seluruh kejahatan politik
Orde Baru Rezim Soeharto.

Namun, ada sisi lain yang cukup mengkhawatirkan dari berbagai temuan
sejarah sebagaimana buku Weiner yang cukup menghebohkan tersebut.
Bahwa dengan dalih untuk mengungkap sejarah, kemudian karya semacam
Weiner ini bisa dikembangkan dan dibelokkan oleh para pemegang
otoritas keamanan nasional di Washington, sebagai sarana pendukung
untuk mendiskreditkan (mencemarkan) seseorang tokoh penting di suatu
negara yang dianggap tidak bisa sejalan dengan Amerika jika si tokoh
tersebut menjadi presiden, atau memegang suatu posisi strategis di
negaranya.

Katakanlah Adam Malik, sekadar sebagai contoh yang nyata ada dalam
karya Weiner itu. Buku itu memang cukup komprehensif mengungkap habis-
habisan berbagai operasi rahasia CIA di Indonesia, khususnya
berkaitan dengan situasi pasca-gerakan 30 September 1965, yang
bermuara pada kejatuhan presiden Soekarno, dan tampilnya jenderal
Soeharto sebagai presiden kedua RI.

Adam Malik agen CIA? Dalam suatu jaringan kerja sama strategis
menyingkirkan Partai Komunis Indonesia (PKI), siapa pun yang dalam
garis politiknya menyetujui agenda tersebut, tentu bukan hal yang
luar biasa jika Adam Malik dalam penilaian CIA merupapakan mitra
potensial. Dan, karenanya, wajar-wajar saja jika kemudian dia
mendapat dana sebesar Rp 50 juta ketika itu.

Namun, jika kita memandang kasus Adam Malik dalam perspektif yang
lebih jernih, mengapa jika agenda utama Tim Weiner adalah mengungkap
jaringan pendukung strategis CIA di seluruh dunia, termasuk
Indonesia, yang dimunculkan hanya Adam Malik?

Kalangan CIA itu sendiri pasti tahu persis, bahwa Adam Malik pada
dasarnya bukan agen binaan mereka secara langsung seperti Julius
Tahiya, Soemitro Djojohadikusumo, atau yang sempat disebut-sebut
majalah Tempo baru-baru ini, Suhaimi Munaf.

Artinya, bagi kepentingan strategis AS maupun dari segi kerahasiaan
yang harus tetap dilindungi oleh CIA, mengungkap fakta bahwa Adam
Malik pernah mendapat uang dari CIA, tidak bisa dianggap merugikan
bagi AS maupun CIA.

Justru sebaliknya. Bahwa pengungkapan keterlibatan Adam Malik dalam
bekerja sama dengan CIA mengganyang PKI, pada praktiknya malah
merupakan bagian dari skema AS dan CIA untuk mengorbankan elemen yang
paling tidak penting dalam operasi mereka pada 1965, yaitu Adam Malik.

Inilah sisi yang mencemaskan dari karya Weiner. Pertama, dari segi
pengungkapan sejarah kejahatan politik rezim Suharto, tetap tidak
mengungkap jaringan sesungguhnya yang ditanam AS di Jakarta.

Kedua, karya Weiner ini bisa menjadi pilot project yang akan
dikembangkan terus di masa depan sebagai modus operandi untuk
mendiskreditkan tokoh-tokoh Indonesia yang di dalam penilaian mereka,
bisa menggangu kepentingan strategis Amerika dan para sekutunya dari
Eropa Barat.

Bayangkan saja, jika suatu hari kelak, Prabowo Subianto terpilih
menjadi presiden, lalu tiba-tiba muncul suatu buku karya seorang
wartawan senior atau bahkan seorang sejarawan terkenal dari
Universitas Cornel atau Ohio, yang mengungkap adanya kerja sama
Prabowo dengan CIA. Yang dalam konteks sesungguhnya, indikasi atau
bahkan fakta semacam itu, memerlukuan klarifikasi dan penjelasan
lebih lanjut.

Dan sialnya, meskipun seseorang seperti Adam Malik atau siapa pun
yang disebut-sebut namanya dalam suatu bagian dari operasi intelijen
CIA dan bahkan yang masih hidup, bisa memberi klarifikasi serta bukti-
bukti tandingan, namun pada praktiknya seringkali tidak mungkin untuk
mengklarifikasi temuan penulis tersebut secara terbuka di depan umum.

Mengapa? Karena mengklarifikasi suatu temuan seorang penulis seperti
Weiner untuk membantah atau mematahkan temuan Weiner, akan membawa
konsekuensi terungkapnya jaringan mereka sendiri di Indonesia, yang
bisa jadi CIA dan otoritas keamanan di Washington tidak tahu sama
sekali.

Bahkan, dalam contoh kasus kerusuhan Mei 1998, yang kita tahu sering
dikaitkan dengan keterlibatan Prabowo Subianto yang ketika itu,
selain menantu presiden Soeharto, juga sekaligus seorang Panglima
Komando Strategis Angkatan Darat.
Meski Prabowo punya data dan fakta untuk mematahkan temuan bahwa
dirinya terlibat, dia tidak kuasa untuk mengungkap itu semua di depan
publik. Bahwa dirinya sejak awal berada dalam target operasi para
perwira intelijen kubu Jenderal Benny Moerdani.

Prabowo juga sulit untuk membuka sebuah fakta bahwa dirinya pernah
menginformasikan kepada Soeharto ketika masih seorang kapten, bahwa
Benny sempat mengumpulkan senjata secara rahasia di suatu tempat
tertentu. Cerita ini sempat penulis dengar secara langsung dari
mantan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Rudini. Waktu itu, penulis
dipercaya untuk mengolah dan menyusun biografi dari petinggi Angkatan
Darat (AD) yang kelak dikenal sebagai menteri dalam negeri RI.

Namun, Prabowo tidak mungkin sekarang ini mengungkap fakta seperti
penulis paparkan di atas. Karena itu berarti, dirinya akan memicu
pertentangan antar-faksi di AD. Setidaknya, antara faksi Benny
Moerdani dan faksi Prabowo. Di samping itu, klarifikasi dari pihak
Prabowo mau tidak mau akan berimplikasi pada perlunya untuk
membongkar jaringan intelijen dirinya di tubuh AD. Satu hal yang
tidak mungkin dilakukan.

Kalau suatu kasus Mei 1998 yang pada hakikatnya bersifat domestik
saja, seorang Prabowo punya berbagai hambatan untuk membela diri
membuka fakta-fakta tandingan untuk mematahkan fakta-fakta sejarah
yang diajukan pihak-pihak yang tidak suka kepada dirinya, maka
mustahil bagi seseorang yang didiskreditkan sebagai agen CIA, untuk
memberi klarifikasi atau mengungkap fakta tandingan dalam rangka
membantah tuduhan penulis buku semacam Weiner. Karena itu berarti,
membuka kedok atau informasi yang menyangkut jaringan yang dia bina
bertahun-tahun di Indonesia.

Nah, ketika seseorang yang dikambing-hitamkan CIA tersebut tidak
kuasa untuk memberi bantahan atau klarifikasi yang akan membuka jati
diri dia sebenarnya, maka buku semodel karya Weiner ini, akhirnya
akan dimanfaatkan para pengambil kebijakan luar negeri dan keamanan
nasional di Washington, untuk membentuk opini publik bertujuan
membangun ketidakpercayaan sebagian penduduk Indonesia, utamanya
kalangan terdidik dan intelektual di kota-kota besar, terhadap
integritas dan kredibilitas para pemimpin Indonesia yang tidak
disukai Washington.

Karena itu, karya semodel Tim Weiner, harus menjadi topik pembahasan
yang dampaknya harus dikaji dan dicermati secara khusus, dan harus
diagendakan sebagai isu strategis dalam bidang keamanan nasional.

Tentu saja dalam era kebebasan pers seperti di Indonesia sekarang
ini, tidak boleh ada pelarangan atau menarik buku semacam ini dari
peredaran. Namun, buku Weiner dan yang sejenis dengan itu, perlu
dikaji pola dan modus operandinya sebagai bagian dari strategi
penyebaran informasi Amerika bertujuan membunuh karakter seorang
tokoh penting di Indonesia.

Bahkan, dalam berbagai pola operasi rahasia yang diterapkan Mosad,
terungkap bahwa upaya mendiskreditkan seorang tokoh pada suatu
negara, merupakan pola baku sebagaimana halnya juga dengan konsep
black propaganda untuk menjelekkan seorang tokoh terkenal dan
berpotensi menjadi penentu kebijakan politik di suatu negara. Tak
terkecuali di Indonesia.

Ini penting untuk segera diagendakan oleh seluruh jaringan pemikir
strategis di Indonesia, apalagi menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) di
Indonesia pada April dan Juli 2009 mendatang. Tidak tertutup
kemungkinan bahwa saat menjelang Pemilu April atau Juli mendatang,
tiba-tiba terbit buku atau artikel dengan modus operandi ala Weiner,
sehingga seseorang tokoh politik yang dianggap berpotensi untuk
melawan kepentingan strategis AS namun berpeluang besar untuk menjadi
presiden atau menteri dalam posisi strategis, bisa-bisa langsung
jatuh reputasi dan kredibilitasnya.

Jika buku atau informasi yang mengungkap seorang tokoh politik
Indonesia itu benar dan valid, tentu saja itu merupakan keuntungan
bagi seluruh masyarakat Indonesia yang mendambakan terungkapnya
sebuah kebenaran. Karena ada pepatah mengatakan, bahwa yang namanya
kebenaran itu tidak pernah memihak.

Namun, jika informasi atau fakta yang diungkap sebuah buku atau
artikel tersebut masih bersifat sumir, subyektif dan spekulatif, maka
sulit untuk tidak bercuriga bahwa artikel atau buku semacam ini
dijadikan sebagai sarana pendukung untuk aksi informasi
mendiskreditkan seseorang tokoh politik nasional agar tidak terpilih
menjadi presiden atau menteri dalam pos strategis di kabinet. Dengan
kata lain, pola informasi yang dikembangkan dengan menggunakan modus
ala Tim Weiner, bisa menjadi sarana untuk melancarkan fitnah kepada
seseorang tokoh penting di Indonesia.

Sekadar ilustrasi. Di jajaran kabinet Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono sekarang, terdapat Menteri Kesehatan yang cukup
membanggakan, yaitu Siti Fadila Supari. Pada 2007 lalu, ia memelopori
perlawanan terhadap World Health Organization (WHO) yang ternyata di
belakangnya adalah AS. Supari berhasil menggalang dukungan banyak di
negara dari berbagai kawasan, yang intinya adalah menolak mengirim
virus kepada AS, yang disinyalir telah dikirim ke Los Alamo, untuk
dijadikan obat antivirus, dan diperjualbelikan kembali ke negara-
negara berkembang yang terkena flu burung.

Bayangkan, kalau pola informasi yang dikembangkan dalam buku Weiner
kemudian digunakan CIA untuk mendeskreditkan Fadila Supari, apa pun
isu yang akan mereka ungkap maupun kembangkan.

Karena itu, sudah saatnya pemerintah, mengagendakan masalah semacam
itu menjadi isu strategis keamanan nasional. Sayangnya, kita belum
memiliki dewan keamanan nasional sebagai payung hukum untuk membahas
ini, sehingga presiden dan para menteri terkait bidang keamanan
nasional seperti menteri dalam negeri-menteri luar negeri-menteri
pertahanan-kejaksaan agung, bisa membahas ini dalam kesatupaduan
kebijakan dan langkah strategis.

Kedua, berkaitan dengan buku Weiner, sebaiknya kita meminta
pertanggungjawaban dia namun dengan cara yang cukup elegan, yaitu
mengundangnya dalam suatu forum akademis namun dengan melibatkan
jaringan pemikir strategis di Tanah Air.

Setidaknya untuk memberi suatu versi lain dari sisi pandang Weiner.
Bahwa meski suatu fakta itu memang benar adanya, namun belum tentu
tepat seperti yang terlihat. Maklum, dalam dunia intelijen seringkali
kita berhadapan dengan suatu fakta yang tersamar yang bertujuan
menyesatkan lawan.

Bahwa seseorang yang berdekatan atau bertemu orang AS yang kelak
dikenal sebagai agen CIA, belumlah tentu bahwa seseorang seperti Adam
Malik memang benar-benar agen CIA. Dalam operasi intelijen, bertemu
atau berdekatan dengan orang asing yang kemudian dikenal sebagai agen
CIA dari Langley, Washington, bisa saja justru untuk tujuan
menyesatkan pihak lawan bahwa dirinya memang ingin dikesankan sebagai
agen binaan CIA, padahal bukan.

Penulis yakin, inilah fakta sesungguhnya tentang mantan Wakil
Presiden Adam Malik yang disadari betul oleh para pemegang otoritas
keamanan nasional di Washington, sehingga tidak ada ruginya bagi
mereka untuk mengorbankannya dengan cara menggunakan mulut Clyde
McAvoy, salah seorang agen CIA yang menjalin kontak dengan Adam
Malik ketika itu, dan mengklaim bahwa Adam Malik merupakan pejabat
Indonesia tertinggi yang mereka rekrut."

Benarkah Adam Malik merupakan pejabat tertinggi Indonesia yang CIA
rekrut? Rasa-rasanya bukan. Masih banyak yang sebenarnya justru
merupakan jaringan kunci dari CIA, dan namanya tetap terlindungi
hingga sekarang. Dan, bahkan, telah mewariskan jaringan ini kepada
anak dan cucunya.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Global Future Institute

Kirim email ke