Gus Mus Ingatkan Perilaku Berpolitik Warga NU
Selasa, 13 Januari 2009 04:04

Semarang, */NU Online
/*Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Mustafa Bisri (Gus 
Mus) mengingatkan seluruh warga NU untuk menerapkan sembilan pedoman 
berpolitik dalam menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) 2009.

Sembilan pedoman berpolitik warga NU tersebut, di antaranya, berpolitik 
bagi NU, mengandung arti keterlibatan warga negara dalam kehidupan 
berbangsa dan bernegara secara menyeluruh sesuai dengan Pancasila dan 
UUD 1945.

Politik, bagi NU, kata Gus Mus, adalah pengembangan nilai-nilai 
kemerdekaan yang hakiki dan demokratis, mendidik kedewasaan bangsa untuk 
menyadari hak kewajiban dan tanggung jawab untuk mencapai kemaslahatan 
bersama.

"Berpolitik, bagi NU, juga harus dilakukan dengan kejujuran nurani dan 
moral agama, konstitusional, adil, sesuai peraturan dan norma-norma yang 
disepakati serta dapat mengembangkan mekanisme musyawarah dalam 
memecahkan masalah bersama," kata Gus Mus dalam Silaturahmi Nasional 
Ulama NU di Pesantren Edi Mancoro, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, 
Senin (12/1).

Gus Mus mengingatkan bahwa dalam pedoman berpolitik bagi warga NU juga 
menyebutkan bahwa berpolitik, bagi NU, dengan dalih apa pun, tidak boleh 
dilakukan dengan mengorbankan kepentingan bersama dan memecah belah 
persatuan.

"Sembilan butir pedoman berpolitik itu sebenarnya indah dan ternyata 
nasibnya sama dengan sembilan butir Khitah NU. Di luar NU, mendapat 
sambutan dan sanjungan luar biasa, tetapi di kalangan NU sendiri sekadar 
dibaca," katanya.

Warga NU, tambah Gus Mus, seolah-olah enggan dan malas menerapkan 
pedoman berpolitik yang telah dimiliki, sehingga kelakuan politik warga 
NU yang terjun di politik tidak dapat dibedakan dengan politikus lain 
yang tidak memiliki pedoman.

Menurut Gus Mus, jika warga NU yang tidak melek huruf dan tidak membaca 
pedoman berpolitik mungkin bisa dimaklumi, karena mereka belum terbiasa 
dengan budaya baca dan tidak tertarik dengan persoalan politik.

"Jika elit NU yang memiliki semangat politik tidak membaca pedomannya 
sendiri, sama dengan elit NU yang berjalan tidak di atas Khitah-nya. 
Sebenarnya, mereka awam tentang NU atau awam tentang politik, atau 
justru awam tentang keduanya," tegasnya.

Acara Silaturahmi Nasional Ulama NU itu, diikuti sekira 300 kiai, di 
antaranya, dari Jawa Barat KH Mukhlas Dimyati dan KH Tantowi Musadad; 
dari Jawa Timur KH Miftakhul Akhyar dan KH Aziz Mansur; dari Yogyakarta 
KH Asyhari Abta dan KH Najib Abdul Qodir; dan dari Jateng KH Dimyati 
Rois, KH Mahfud Ridwan, dan KH Masruri Mugni. (ant/man)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke