MENYONGSONG GERHANA MATAHARI CINCIN 2009
Oleh : Ibnu Zahid Abdo el-Moeid
23 Muharrom 1430 H. / 20 Januari 2009 M
Tahun ini adalah tahun istimewa bagi ahli astronomi/falak Indonesia, karena
di tahun ini kita bisa menyaksikan dua kali gerhana matahari, yaitu tanggal
26 Januari 2009 dan 22 Juli 2009.
Yang pertama adalah Gerhana Cincin yang terjadi pada hari Senin Wage, 26
Januari 2009 M. bertepatan dengan 29 Muharrom 1430 H. Fonemena gerhana
matahari ini tentu punya arti tersendiri bagi warga Tionghoa karena terjadi
tepat pada tahun baru Imlek 2560 yakni tahun Kerbau
Gerhana ini meliputi wilayah Asia Tenggara, Australia, India Selatan,
Madagaskar dan Afrika Selatan. Dari wilayah tersebut tidak semuanya
mengalami gerhana cincin, gerhana cincin hanya bisa disaksikan dari sebagian
wilayah Indonesia. Tepatnya dari kota Tanjungredep Kalimantan Timur
memanjang ke barat agak serong ke selatan, menuju kota Ketapang Kalimantan
Barat dan melintasi kota Bandar Lampung. Gerhana cincin juga bisa disaksikan
dari ujung barat pulau Jawa tepatnya daerah Banten dan sekitarnya.
Diantara wilayah Indonesia yang paling banyak dilintasi gerhana cincin ini
adalah Kalimantan sedangkan Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, Bali, sebagian
besar pulau Jawa dan Sumatera hanya mengalami gerhana sebagian. Adapun
Maluku Utara dan Irian tidak bisa menikmati fonemena ini secara utuh karena
pada saat tengah gerhana matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Berikut ini
kronologi gerhana dilihat dari beberapa kota besar di Indonesia.
Kronologi Gerhana Matahari Kota Besar Di Indonesia
Dengan Waktu Setempat (local time)
NO
MARKAS
GERHANA
STATUS
WAKTU MAGHRIB
AWAL
TENGAH
AKHIR
1
AMBON
17:45
18:45
19:44
Parsial
18:46
2
BALIKPAPAN
16:43
17:49
18:55
Parsial
18:31
3
BANDA ACEH
15:41
16:51
18:02
Parsial
18:48
4
BANDAR LAMPUNG
15:29
16:42
17:55
Cincin
18:23
5
BANJARMASIN
16:39
17:47
18:54
Parsial
18:42
6
BENGKULU
15:28
16:43
17:58
Parsial
18:33
7
DENPASAR
15:33
16:40
17:47
Parsial
17:47
8
GORONTALO
16:47
17:50
18:52
Parsial
18:03
9
JAKARTA
15:29
16:42
17:54
Parsial
18:18
10
JAMBI
15:34
16:47
17:59
Parsial
18:23
11
JAYAPURA
17:48
18:44
19:40
Parsial
17:51
12
MANADO
16:48
17:50
18:52
Parsial
17:55
13
MANOKWARI
17:47
18:45
19:43
Parsial
18:22
14
MATARAM
16:34
17:40
18:46
Parsial
18:44
15
MEDAN
15:39
16:51
18:03
Parsial
18:37
16
MERAUKE
17:43
18:35
19:28
Parsial
18:06
17
PADANG
15:32
16:46
18:00
Parsial
18:36
18
PALANGKARAYA
16:40
17:48
18:55
Parsial
18:44
19
PALEMBANG
15:32
16:45
17:58
Parsial
18:21
20
PALU
16:45
17:49
18:52
Parsial
18:18
21
PONTIANAK
16:48
17:50
18:59
Parsial
18:59
22
SAMARINDA
16:44
17:50
18:55
Semi Cnc
18:28
23
SEMARANG
15:31
16:41
17:51
Parsial
18:04
24
SORONG
17:47
18:46
19:45
Parsial
18:33
25
SURABAYA
15:33
16:42
17:50
Parsial
17:55
26
TERNATE
17:49
18:50
19:51
Parsial
18:44
27
UJUNG PANDANG
16:40
17:45
18:49
Parsial
18:26
28
YOGYAKARTA
15:30
16:40
17:50
Parsial
18:06
Adapun gerhana matahari yang kedua yaitu Gerhana Total yang terjadi pada
hari Rabu Legi, tanggal 22 Juli 2009 M. bertepatan dengan tanggal 29 Rojab
1430 H.
Gerhana meliputi Laut Pasifik, Asia tenggara Jepang, China, Nepal dan India.
Adapun wilayah Indonesia yang dilintasi gerhana ialah Irian Jaya, Malauku,
Sulawesi bagian utara, Kalimantan bagian tengah dan utara serta Sumatera
tengah dan utara. Secara umum gerhana berlangsung mulai pukul 07 WIB sampai
09 WIB. Sementara untuk pula Jawa, Bali, Lombok dan Nusa Tenggara tidak
mengalami gerhana. Dari Indonesia gerhana matahari ini hanya bersifat
parsial alias tidak total, kurang lebih 20%, sedangkan yang mengalami
gerhana total hanyalah China, Banglades dan India.
AJANG KALIBRASI METODE HISAB
Momen gerhana matahari kali ini sangat dinanti-nantikan para pegiat hisab,
khususnya yang berkecimpung dengan rukyat hilal di akhir bulan qomariyah.
Karena gerhana ini terjadi pada sore hari menjelang maghrib, saat dimana
rukyat hilal dilaksanakan.
Baik gerhana matahari maupun bulan adalah momen yang sangat bagus untuk
mencocokkan hasil perhitungan hisab dengan kenyataan yang nyata. Akan tetapi
dengan gerhana bulan kita sedikit kesulitan karena terjadinya gerhana bulan
adalah saat dimana cahaya matahari yang masuk ke bulan terhalang oleh bumi.
Jadi kalau dilihat dari bumi, walaupun terjadi gerhana bulan sebenarnya
pandangan kita ke bulan tidak terhalang oleh benda apapun. Lebih-lebih jika
kita mengamatinya dengan bantuan teleskop optik, batas permukkan bulan yang
terkena cahaya matahari dengan permukaan yang terhalang bumi semakin kabur,
sehingga kita sangat kesulitan mengidentifikasikan awal gerhana maupun akhir
gerhana dalam momen gerhana bulan dengan tepat.
Lain halnya dengan gerhana matahari, karena gerhana matahari adalah saat
dimana permukaan matahari benar-benar terhalang oleh bulan. Batas permukaan
matahari yang terhalang oleh bulan dengan yang tidak terhalang akan terlihat
jelas, dan semakin jelas jika kita menggunakan teleskop optik saat
observasi.
Ilmu hisab adalah ilmu eksak yang dibangun berdasarkan observasi yang
berkesinambungan dari ratusan tahun yang silam sehingga menghasilkan data
empirik yang digunakan sebagia dasar perhitungan hisab. Hisab bukanlah ilmu
yang bersifat dogmatis seperti Al-Qur'an dan Al-Hadits, yang tidak bisa
diutak-atik.
Dengan observasi gerhana matahari yang cermat dan tepat akan menghasilkan
data-data empirik baru yang bisa kita jadikan input dalam perhitungan hisab
selanjutnya, sehingga hisab yang kita hitung benar-benar terkalibrasi dan up
to date. Dengan bantuan gerhana matahari ini kita bisa menjustifikasi, mana
hisab yang akurasinya tinggi dan mana hisab yang akurasinya rendah.
Seringkali kita dihadapkan pada banyaknya perbedaan ahli hisab dalam
menentukan ketinggian hilal di akhir bulan qomariyah, terutama menjelang
puasa dan hari raya. Dari satu metode dengan metode yang lainnya kadang
terdapat perbedaan yang sangat signifikan, 2 sampai 4 derajat. Dan kita
sangat kesulitan untuk menjustifikasi sebuah metode hisab karena dari semua
metode hisab tentu akan membenarkan metodenya sendiri dengan menafikan
metode yang lainnya. Seakan-akan dari semua perhitungan itu benar adanya,
seperti permasalah fiqih yang bersifat Ijtihadi.
Pada perhitungan akhir bulan Muharrom 1430 H. ini juga terdapat perbedaan
diantara metode-metode hisab. Tinggi hilal pada sore hari tanggal 26 Januari
2009 M. berdasarkan hisab Taqribi (dalam arti tidak menggunakan rumus
Trigonometri) berada pada kisaran 2°, bahkan ada yang mencapai 4°. Sedangkan
berdasarkan hisab Tahqiqi, berada pada kisaran 1° sampai 1° 30'. Sementara
untuk hisab Kontemporer berkisar -0° 50' sampai 0° 07'.
Semua metode hisab sepakat bahwa Ijtimak akhir bulan Muharrom 1430 H.
terjadi pada hari Senin Wage, 26 Januari 2009 M. ba'da zawal/dhuhur dalam
jam yang variatif, sedangkan ketingiian hilal saat maghrib juga variatif
sebagaimana tabel di bawah ini yang dihitung dengan markas CONDRODIPO
GRESIK, Lintang 7° 10' 11,1" LS, Bujur 112° 37' 2,5" BT, Ketinggian 120
meter.
Tinggi Hilal Saat Maghrib (17:56:45)
Senin Wage, 26 Januari 2009
NO
NAMA METODE
TINGGI HILAL
1
Accurate Times 5.1.7
-0° 48' 09''
2
Ascript Astronomy
-0° 50' 32''
3
Badi'atul Mitsal
1° 17' 54''
4
Ephimeris DEPAG RI
-0° 45' 13''
5
Fathur Roufil Mannan
2° 00' 45''
6
Irsyadul Murid
-0° 45' 05''
7
Ittifaqu Dzatil Bainy
1° 19' 37''
8
Ittifaqu Dzatil Bainy Revisi
-0° 08' 06''
9
MoonCal 6
-0° 11' 41''
10
Nurul Anwar
0° 07' 40''
11
Red Shift
-0° 13' 00''
12
Sulamun Nayyiroiny
2° 15' 21''
13
Tadzkirotul Ihwan
1° 59' 25''
Selisih waktu antara berakhirnya gerhana dengan waktu maghrib di Condrodipo
Gresik kurang lebih 7 menit. Azimut bulan saat lepas dari piringan matahari
251° 38' 56'' sedangkan matahari berada pada azimut 251° 17' 01''. Jadi
azimut bulan saat lepas dari piringan matahari adalah 00° 21' 55' utara
matahari. Dengan demikian maka secara horisontal pada saat bulan terlepas
dari piringan matahari, piringan bagian bawah bulan masih lebih rendah dari
piringan atas matahari. Mungkinkan 7 menit kemudian (saat tiba waktu
maghrib) hilal sudah mencapai 2 derajat ?.
Mari kta tunggu bersama-sama, dari beberapa metode hisab tersebut di atas,
metode hisab mana yang mendekati kenyataan dan metode hisab mana yang jauh
dari kenyataan. Selanjutnya untuk kedepan, metode hisab apapun yang
melenceng jauh dari kenyataan diharapkan tidak dipakai lagi dalam menentukan
awal bulan qomariyah sehingga tidak menambah perbedaan yang akan timbul.
GERHANA MATAHARI ZAMAN NABI
Sholat gerhana disyari'atkan pertama kali pada tahun ke-5 hijrah, ketika
terjadi gerhana bulan total yaitu malam Rabu 14 Jumadil Akhir 4 H.
bertepatan dengan 20 Nopember 625 M.
Sebuah riwayat menyebutkan bahwa kesedihan menimpa Rosululloh SAW
dikarenakan wafatnya sayyid Ibrohim, putra beliau yang saat itu baru berusia
16 bulan, pada malam Selasa, 10 Robi'ul Awwal tahun 10 hijriyah. Ibrohim
adalah putra rosululloh dari Maria Al-Qibtiyah binti Syam'un (Istri Jariyah
rosul hadiah dari penguasa Mesir, Juraij bin Mina Al-Mukaukis).
Bersamaan dengan wafatnya sayyid Ibrohim, di hari yang sama terjadi gerhana
matahari. Para sahabat pada kasak-kusuk, karena biasanya gerhana matahari
terjadi pada akhir bulan qomariyah (penileman), akan tetapi kenapa kok
tanggal 10?. Maka para sahabat akhirnya berkesimpulan bahwa terjadinya
gerhana matahari tersebut adalah karena wafatnya sayyid Ibrohim.
Kasak-kusuk tersebut akhirnya terdengar oleh Rosululloh. Demi mendengar
perbincangan para sahabat yang demikian akhirnya Rosululloh mencounter opini
tersebut pada saat khutbah setelah sholat gerhana, beliau bersabda :
????? ????????? ??????????? ???????? ???? ?????? ??????? ??? ?????????????
???????? ?????? ????? ??????????? ??????? ???????????????? ????????? ???????
????????? ?????? ?????????? (???? ???????)
"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua diantara tanda-tanda kekuasaanya
Alloh SWT, tidaklah keduanya mengalami gerhana karena mati atau hidupnya
seseorang, jika kamu menyaksikan keduanya (gerhana) maka berdo'alah dan
dirikanlah sholat gerhana sehingga terbuka (usai gerhana)" HR Bukhori.
WAFATNYA SAYYID IBROHIM BERDASARKAN HISAB
Dari penelusuran hisab, sejak tahun 8 (tahun lahirnya sayyid Ibrohim) sampai
10 hijriyah hanya terjadi satu kali gerhana matahari, yaitu gerhana cincin
yang terjadi pada hari Senin Pon, 29 Syawal 10 H. Bertepatan dengan 27
Januari 632 M. Terjadi pada pagi hari jam 07:23 dan berakhir pada jam 10:04.
waktu Madinah
Dengan demikian maka kemungkinan besar wafatnya sayyid Ibrohim adalah malam
Senin, 29 Syawwal 10 H. Adapun mengenai hadits yang menyebutkan bahwa
wafatnya sayyid Ibrohim adalah tanggal 10 Robi'ul Awwal 10 H. tidaklah salah
karena saat itu masyarakat arab belum punya kalender baku yang menjadi
patokan secara umum. Saat itu system kalender masih sering berubah, kabilah
arab seringkali menambah atau mengurangi bilangan bulan dalam setahun untuk
kepentingan perang, kadang dalam setahun ada 13 bulan. Kalender qomariyah
mulai tertib setelah nabi menyampaikan ayat ke 36 surat At-Taubah. Pada
waktu khutbah hari Tasyrik di Mina.
????? ??????? ?????????? ?????? ??????? ?????? ?????? ??????? ??? ???????
??????? ?????? ?????? ???????????? ??????????? ??????? ?????????? ??????
?????? ???????? ?????????? ????? ?????????? ???????? ????????????
??????????? ?????????????? ???????? ????? ???????????????? ????????
??????????? ????? ??????? ???? ????????????? )?????? 36)
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam
ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat
bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu
menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum
musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan
ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." )A-Taubah
36)
Sebelum dan sa'at berkembangnya Islam di jazirah arab, baik kalender
Qomariyah (Lunar Calendar) maupun Syamsiyah (Solar Calendar) sudah dikenal
akan tetapi belum ada patokan tahunnya serta kaidah-kaidah yang baku yang
menjadi ketetapan kalender sehingga baik awal tahun maupun awal bulan serta
jumlah bulan dalam setahun tidak beraturan sehingga seringkali kalender
qomariyah diselaraskan dengan peredaran matahari dengan kata lain Luni
Solar.
Baru pada masa kholifah Umar bin Khottob beliau mengumpulkan segenap sahabat
serta elit-elit pemerintahan pada hari Rabu 20 Jumadil Akhir tahun 17 dari
hijrah yang bertepatan dengan 8 Juli 638 M, untuk membahas perlunya sebuah
kalender yang baku. Akhirnya disepakati sebuah kalender yang berbasis bulan,
Lunar System. Diputuskan bahwa awal tahun hijri dimulai pada sa'at nabi
berangkat hijrah ke Madinah yaitu tahun 622 M. sedangkan awal bulannya
dimulai dari Muharrom, karena pada sa'at itu berakhirnya aktivitas ibadah
haji dan menuju kehidupan yang baru. 1 Muharrom 1 H. bertepatan dengan 16
Juli 622 M. tepat pada hari Jum'at Legi. Wallohu A'lam
>>>>Download Artikel
.
Ibnu Zahid Abdo el-Moeid
Staf Lajnah Falakiyah NU Gresik
Koordinator Rukyat Hilal Indonesia Gresik
http://moeidzahid.site90.net/