Jawa Pos, Sabtu, 31 Januari 2006
Refleksi Harlah NU Bangkit, Apanya Yang Bangkit?
Oleh Ahmad Tohari *
Kang, satu tahun lagi
muktamar NU pada Januari 2010. Mbok sampeyan mulai membuat pemanasan
dengan menulis di Japos. Intinya, NU musti berubah, khusyuk melayani
umat ketimbang jadi alat ambisi politik para petingginya. Memalukan!
Terima kasih.
Itu pesan singkat yang saya terima kemarin dari seorang teman.
Ketika itu, saya sedang merasa amat masygul karena mendengar ada
bacok-bacokan antarsesama warga NU di Madura. Gara-garanya adalah ekses
perebutan kursi kekuasaan di Jawa Timur antara Khofifah Indar Parawansa
dan Saifullah Yusuf, ya, sama-sama petinggi NU. Saya dengar ketua umum
PB NU menjenguk korban bacok-bacokan itu. Namun, saya tidak yakin
apakah dia datang dengan hati nurani atau hanya dengan raga belaka.
Dengan
mengutip sepenuh SMS itu, sesungguhnya saya tidak perlu menulis lebih
lanjut. Sebab, pesan itu sudah amat jelas: bila kita benar-benar setia
kepada cita-cita awal, NU harus segera putar haluan. Tinggalkan
penghambaan kepada kepentingan politik dan kekuasaan para petingginya.
Cukup
sudah umat menjadi korban. Kembalikan NU ke jalan yang benar, yakni
jalan berbakti dengan sungguh-sungguh kepada umat, bukan kepada siapa
pun selainnya.
Ini peringatan blak-blakan model Jawa Timuran yang hanya bisa disampaikan oleh
arekyang bebas kepentingan dan tidak takut akan ''kutukan'' para petinggi
NU, baik yang ada dalam struktur maupun di luarnya, karena mereka telah
menjadikan umat sebagai modal meraih kekuasaan. Peringatan ini juga
terasa lahir karena kecenderungan pemanfaatan kepatuhan umat oleh
petinggi NU sudah sampai ke taraf yang memalukan.
Kehilangan Orientasi
Di Indonesia, masyarakat NU dikenal punya dalil bagus sekali sebagai prinsip
dasar perjuangan mereka. Dalil tersebut berbunyi almuhafadhoti 'alal
qodimisholih wal ahdu bil jadidil ashlah.Atau, mempertahankan hal-hal lama yang
baik dan menerima hal-hal baru
yang lebih baik. Ini prinsip dasar perjuangan yang hebat. Di dalamnya
jelas terkandung sifat cerdas, visioner, dan inovatif.
Tidaklah
suatu kaum memilih prinsip dasar perjuangan seperti itu bila pada
mereka tidak ada kemampuan analisis sosial keagamaan yang canggih serta
tanggung jawab yang besar terhadap umat di dunia dan akhirat; jelasnya
tidak punya wawasan ke depan yang amat cerdas.
Karena memiliki
prinsip perjuangan itu, maka orang membayangkan masyarakat NU hidup
dalam kondisi maju dan sejahtera. Mereka berada di barisan depan dan
menjadi teladan di segala bidang; ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi,
dan tentu saja akhlak serta moralitas sosial. Perkiraan demikian tidak
mengada-ada. Sebab, dengan prinsip perjuangan itu, siapa saja jelas
bisa menjadi yang terbaik dan terdepan.
Tapi, bagaimana nyatanya? Petinggi NU membanggakan kaumnya sebagai nahdliyin,
kaum yang bangkit. Tapi, apanya yang bangkit? Mayoritas warga NU malah
tertinggal dalam segala hal. Kebanyakan mereka miskin, kurang terdidik,
jumud, dan yang kelewatan, ada juga yang suka bacok-bacokan.
Kenyataan
yang pahit itu seharusnya cukup untuk menyadarkan para pengurus NU dari
tingkat terbawah hingga yang tertinggi untuk segera banting stir.
Jangan kehilangan orientasi perjuangan karena menggejalanya keningratan
baru yang berkembang sekarang ini dalam sisi struktural maupun kultural
NU adalah jahiliah yang nyata.
Dan salah satu manifestasi
keningratan baru itu muncul sebagai gejala yang menguat akhir-akhir
ini, yakni pengabdian kepada para petinggi NU dengan mengorbankan umat.
NU untuk Siapa?
Pertanyaan ini pernah muncul dalam pertemuan para kiai di
Cilacap ketika mereka membahas isu APBD yang pro umat. Jawaban yang
disepakati atas pertanyaan itu adalah, NU dipersembahkan sebagai bakti
kepada Allah. Namun, jawaban itu dikritisi dengan pertanyaan lanjutan:
bagaimana konkretnya?
Saat itu, Rais Syuriyah PC NU Cilacap
Kiai Su'ada mengatakan, ada kaum yang secara simbolis menjadi alamat
Allah. Kaum itu adalah para tetangga yang sakit, baik sakit jasmani,
sakit mental, sakit sosial-ekonomi, dan seterusnya.
Barang
siapa tidak menjenguk (membantu, menolong, berpihak kepada) mereka
berarti orang tersebut tidak menjenguk Allah. Dan neraka adalah imbalan
yang adil bagi siapa yang tidak mau menjenguk tetangga yang sakit itu.
Kemudian, Kiai Su'ada membacakan sebuah hadis qudsi yang panjang. Jadi,
konkretnya, demi Allah, NU untuk umat, bukan untuk para petinggi.
Rasanya,
tak seorang pun pengurus NU yang tidak percaya akan kebenaran dan
kandungan hadis qudsi yang dimaksud. Artinya, tak ada seorang juga di
antara mereka yang mau masuk neraka karena mengabaikan para tetangga
yang sakit alias umat yang masih miskin dan serbakurang itu.
Bila
benar demikian, perahu NU yang besar ini seharusnya berisi muatan
program-program untuk perbaikan kehidupan umat. Wujudnya bisa berupa
perbaikan mutu dan sarana pendidikan, pelatihan peningkatan
perekonomian dan kesehatan keluarga, dan peningkatan kualitas sumber
daya insani secara umum. Hal-hal itulah yang sudah lama menjadi
kebutuhan nyata umat, dan seharusnya ke sanalah kemudi kapal besar NU
diarahkan.
Berpolitik adalah hak setiap orang, termasuk warga
NU. Namun, seorang petinggi NU yang bermental ksatria hanya akan
memasuki dunia politik dalam kapasitas sebagai pribadi seorang warga
negara. Dia tidak akan menggunakan struktur NU dengan cara apa pun
untuk kepentingan pribadinya. Dan, sebenarnya dia tidak usah khawatir.
Kalau dia memang bermutu dan pantas dipercaya, tentu orang NU akan
memilihnya juga; memilih karena mutu, bukan karena ke-NU-annya.
Demikian idealnya.
Sayang, kondisi ideal itu belum dibangun,
dan para pengurus NU harus memulainya sekarang. Mumpung kapal besar NU
baru oleng, belum sama sekali tenggelam oleh gelombang sejarah karena
nakhoda dan awaknya tidak lagi mengutamakan keselamatan penumpang.
* Ahmad Tohari, budayawan tinggal di Banyumas, Jawa Tengah
Wajib militer di Indonesia? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!
http://id.answers.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]