Sudah jamak, setiap mendekati hajatan perebutan kekuasaan, pasti banyak 
bermunculan kejadian -kejadian aneh yang mengguncang akal sehat. Entah sengaja 
dimunculkan atau memang begitu adanya, nyatanya memang selalu demikian.

Masyarakat selalu dididik berita ghaib pepesan kosong. Yang memenuhi media 
selalu isu -isu tehnologi jaman kerajaan. Pusaka, darah biru, titisan, dogma 
leluhur dan armagedon hari akhir adalah brain storming yang di hembuskan ke 
setiap kepala manusia Indonesia. Hingga akhirnya kita tak sempat melihat track 
racord ataupun apa sesungguhnya mizan program kerja nyata antara hak bathil nya 
para perebut kekuasaan.

Maka di balik kesumpekan ketidakjelasan masa depan dan demi mengalihkan 
kekritisan, dibuatlah imajinasi idola tertinggi tentang sosok manusia yang bisa 
menyelesaikan segala keruwetan negara. Muncullah pengharapan akan satrio 
piningit yang tak keluar-keluar dari sarangnya. Bahkan orang yang berpendidikan 
tinggi tak luput dari pengharapan munculnya tokoh ini.

Beruntung, sudah bertahun-tahun lampau saya mengenalnya dengan baik. Walaupun 
terkadang nasehatnya yang super bijaksana sering saya abaikan. Maklumlah, orang 
seperti saya yang masih kepala tiga ini biasanya masih suka ngeyel, merasa 
telah matang dan masih ingin cari pengakuan akan posisi diri.

Untuk inilah saya menulis dan sekedar ingin memperkenalkan siapa dia. Satrio 
piningit itu benar-benar ada, sangat dekat, care dan welas asih dengan 
kehidupan kita. Tapi wong namanya aja satrio piningit, pasti kita jarang bisa 
melihatnya karena kita sibuk dengan urusan isi kepala masing-masing. Akhirnya 
kita tak bisa menjalankan nasihatnya. Dan kacaulah kehidupan kita...

Dalam hal ini saya juga sekedar memberi alamat "ancer-ancer"-kurang lebih di 
mana tinggalnya. Eh, siapa tahu pembaca mau menemuinya secara langsung. 
Biasanya kalau sudah mengantongi ciri-ciri sosoknya dan alamat tinggal, pasti 
bakalan ketemu. Entah dengan cara bertanya pada orang-orang yang dekat dengan 
tempat tinggalnya atau langsung coba ketuk pintu. Nanti kalau dah ketemu 
tinggal betah apa tidak mendengar nasihatnya yang kadang merontokkan ego kita.

Satrio atau satria adalah orang dengan keadaan jiwa yang tenang, sumeleh, ridho 
dan punya keberanian tinggi berperang melawan kegelapan. Ia adalah kecerdasan 
sejati yang melampaui jaman. Piningit bermakna tersembunyi, tak mudah dicari 
dan dilihat. Ia memang benar-benar tak mau menunjukkan sebuah pamrih sosial. Ia 
tak peduli identitas. Mau disebut ustadz atau wong mbambung sudah bukan 
urusannya. Tugasnya hanyalah menunjuk jalan kebenaran tanpa mau ditawar secuil. 
Walaupun ia harus terasing, dipandang sebelah mata dan dianggap gendheng.

" Apalah arti anggapan...yang penting cita-cita mulia ajaran ilahi harus 
tersampaikan dengan amanah...Yah, amanah yang memaknakan aman. Dimana setiap 
orang yang dekat dengan kita harus merasa aman dan nyaman. Sehingga ajaran itu 
benar-benar diterima dengan legowo dan mengakar tanpa kita sibuk mensatpami dan 
menghakimi mereka..." begitu kata sang satria piningit itu.

Dan sesungguhnya satrio piningit itu ada di dalam setiap diri manusia. Ia hanya 
dapat ditempuh bila seseorang mau membuka diri di hadapan Allah. Satrio 
piningit adalah konsep ikhlas yang memang sudah lama semakin menghilang. 
Keberanian dan sifat kesatria menuju ikhlas ini bagaikan kondisi nabi Ibrahim 
yang lagi dibakar raja Namruj. Apabila ia tidak terbakar berkat ketundukan 
doanya, maka loloslah ia meniti karir menjadi satrio piningit.

Kekebalan atas api bukanlah makna sebatas fisik. Kekebalan dari api memaknakan 
orang yang tak terbakar oleh isu-isu, nafsu-nafsu, cemoohan, fitnah dan adu 
domba. Ia tetep adem tak bergejolak. Api tak berbalas api.Kekebalan itu hanya 
bisa didapat dengan sikap kepasrahan total kepada Allah, Sang Maha Pengendali 
Keadaan.

Pertanyaan nalar sehat sederhananya sih mudah ; sepanas apapun api di muka bumi 
ini, kalau sudah bertemu air, selesai sudah urusannya. Lha kalau yang panas itu 
hati, kira-kira gimana ya cara memadamkannya ? air apakah gerangan.

Hanya air ikhlas yang bisa memadamkan. Air yang menyifatkan mengalir ke bawah 
berendah hati. Sifat yang tak tersibukkan oleh prasangka-prasangka beserta 
pembelaannya. Keberanian menghadapi cobaan seperti inilah yang membuat 
seseorang menjadi satria yang ikhlas alias satrio piningit.

Ketika ia tidak tersibukkan oleh anggapan luar diri, otomatis ia tersibukkan 
oleh anggapan dalam diri- biasa disebut suara hati atau nurani. Yah, suara jiwa 
kesatria yang tersembunyi. Suara yang begitu keras perintah dan petunjuknya 
namun tak dapat didengar telinga fisik.

Orang yang bermukim di wilayah ini hidupnya sangat sibuk membaca 
pengajaran-pengajaran diri. Otomatis saking lubernya pengajaran, hikmah-hikmah 
dan ilmu pengetahuan itu ia tumpahkan kepada siapa saja. Tak peduli mendapat 
imbalan atau tidak. Tak memilah status sosial siapa yang harus didahulukan. 
Termanajemeni atau tidak juga bukan urusannya.

Ia bagaikan matahari yang memang harus terbit secara sunatullah walaupun semua 
orang menghendakinya tenggelam. Ia juga setia mengikuti ketenggelaman dirinya 
walau orang tetap menginginkan terbit. Dalam kamus hidupnya sudah tak ada lagi 
ungkapan " apa kata dunia ! ". Tak Kata arek Malang, " Gak direken wong, gak 
patheken...."

Bila sunatullah ini dilanggar, ia akan mengalami kesakitan sendiri. Ia akan 
mengalami penderitaan yang lebih cepat daripada orang yang tak pernah bertemu 
satria piningit. Ibarat orang yang dulunya mandi di sungai kumuh lalu sekarang 
sudah mandi air bersih, kalau balik lagi mandi di sungai pasti badannya lebih 
cepat terkena penyakit daripada orang yang sudah terbiasa mandi di sungai dan 
tak pernah tahu air bersih.

Satrio piningit juga tak dapat diucap minta diakui. Sebab bila terucap ia tidak 
lagi menjadi satrio piningit. Karena posisinya tak lagi sembunyi. Ia berubah 
menjadi satrio sesumbar. Alias orang riya' .

Anda dan saya juga punya potensi kemungkinan menjadi satrio piningit yang 
hidupnya selalu menemani-menyelesaikan kegundahan dan keruwetan bathin orang 
banyak. Walaupun kita tak pernah dianggap dan mendapat imbalan akan hal 
itu.Kata Rasul orang ikhlas itu kehadirannya tak dianggap, tetapi ketidak 
hadirannya dicari.

Kita bisa jadi satria piningit di bidang masing-masing. Seorang pengacara bisa 
memberikan lobi advokasi diam-diam terhadap kasus kampung tergusur. Seorang 
birokrat bisa menjadi wistle blower terhadap kecurangan di departemennya. 
Seorang da'i bisa berceramah diam-diam dipelosok dusun yang jauh dari liputan 
media. Seorang guru bisa memberi pendidikan gratis anak jalanan di kolong 
jembatan. Seorang konglomerat bisa diam-diam mengkoordinir ribuan pedagang kaki 
lima dan memberikan sedikit uang recehnya bagi pengembangan usaha mereka.

Tentu masih banyak lagi ragam kemampuan diri kita yang bisa disumbangkan untuk 
kemajuan. Tak peduli walau hanya setetes keringat...

Sebab bila mereka yang jumlahnya puluhan jutaan ini bisa tersentuh oleh para 
satrio piningit dengan tangan-tangan ikhlasnya, apalah beratnya masalah negara 
ini...dan isu apalagi yang akan bisa dijual perebut kekuasaan untuk mengkadali 
kita ? Toh semua sudah beres...

Atau mungkin kita malah senang jadi satrio sesumbar yang menjelang pemilu ini 
fotonya lagi banyak terpampang di jalan-jalan bak artis produk iklan tanpa 
pernah ada kejelasan product knowledge yang dapat dinalar akal sehat ?....

Kalau saya sendiri , mungkin levelnya masih satrio kepirit....Kalau nggak ada 
masalah sok jago menganalisa dan berkomentar, tapi kalau bener-bener ada 
masalah, lari tunggang langgang nggak karuan dengan berbagai kecanggihan 
alasan...

Ah...tapi nggak apalah asalkan larinya menuju Sang Maha Satria Piningit, Al 
Lathief....
*

Kemarin saya guyonan memel sama anak-anak band tentang berita banyaknya orang 
demo protes nasib, orang mengaku jadi Tuhan, satrio piningit dan sejenisnya. 
Saya hanya melempar guyonan, memberi rasa pede dan berandai -andai,

" Hei rek, paling positif itu sebenarnya ya kita anak-anak band ini...
Lho, kok bisa gitu mas ?
" Lha iyo, hampir semua orang kalau demo isinya kan cuman protes berkoar bising 
dengan langkah yang tak terarah. Karena tak terarah dan ngawur, akhirnya 
anarkhi kan ? Kalau yang nggak pakai jalan anarkhi biasanya bikin kelompok 
sendiri. Lalu pemimpinnya merintis menjadi tuhan wiraswasta kayak yang lagi 
menjamur sekarang ini

"Lha kalau kita kan lain, demo kita positif, demo bikin lagu, menata suara, 
membikin harmoni, membuat struktur kalimat yang indah. Itu bagian dari karunia 
keindahan Tuhan sehingga hidupmu jadi nyaman. Demomu itu demo bertanggungjawab 
dan berilmu...

" Kalau masalah tuhan-tuhan yang di tv itu, coba andai ada kemampuan, iseng 
-iseng kita bikin seminar judulnya " Pertemuan Antar Tuhan ". Kita undang 
narasumbernya seperti Lia Eden, Mossadeq, Bosnya aliran Weteng Buwono, dan 
beberapa yang mengaku Satria Piningit. Kalau perlu mereka kita suruh bikin 
kursus " pelatihan menjadi Tuhan "

" Saya yang jadi moderator akan mengawali pembukaan. Para hadirin...di depan 
anda adalah tuhan-tuhan dan utusannya yang akan menyampaikan kebenaran kepada 
anda. Tapi sebelumnya mari kita simak dulu diskusi mereka..."

Hi...hi...saya hanya membayangkan betapa kacaunya jalan diskusi itu. Para 
narasumber berebut keabsahan legalitas ketuhanan dan kerasulan. Mungkin pertama 
hanya berdebat teosofi dan teologi dengan sedkit mencari-cari benang merah atas 
kemajuan peradaban kelompoknya. Kemudian adu keheranan-keheranan pengalaman 
spiritual. Karena sama-sama kuat, apa boleh buat adu kadigdayan pun terjadi. 
Akhirnya bentrok fisik saling menghancurkan tak terhindarkan.

Nanti kalau ada polisi datang akan menangkap kita karena bikin acara onar, 
tinggal bilang aja " lho pak, ini wilayah ketuhanan, bukan wilayah hukum 
negara. . Anda tidak bisa mencampuri, apalagi menghukum tuhan. Biarkan saja 
tuhan-tuhan itu berkelahi sampai tetes darah penghabisan. Biarkan saling 
menghancurkan sampai tingkat atom alias ghaib. Kalau sudah pada wilayah 
"dugdeng" ini, para tuhan itu kan moksa menghilang. Entah melanjutkan 
perkelahian di alam ghaib gang berapa sudah bukan urusan aparat...

Inti dan tujuan akhir acara ini, agar mereka dan pengikutnya akan wassalam 
dengan sendirinya. " Enak kan pak ? akhirnya tuhan gadungan itu tak ada lagi di 
Indonesia... Kami ini sebenarnya malah membantu sampean lho...

Sampeyan dan organisasi-organisasi agama yang tidak terima akan adanya tuhan 
dan nabi baru tak perlu capek-capek mengurusi lagi. Lha wong mereka sudah pada 
musnah dengan sendirinya tanpa kita capek- capek menggebuki...

Lebih baik tenaga sampeyan dan organisasi agama itu difokuskan untuk mengurusi 
ketidakadilan, tindak kekerasan, TKW yang nasibnya di negeri jiran dan timteng 
nggak pernah termanusiakan, maling negara, kefakiran, keyatiman, dan 
keserakahan. Itu kan sejalan dengan motto mengayomi dan melindungi yang menjadi 
pijakan aparat dan ulama. Bukannya malah lebih gemar mengutamakan menghukum dan 
mencari-cari kesalahan. Nanti masyarakat dan umat nggak mau dekat 
sampeyan-sampeyan lho...takyutch...

Dasar anak band, cara berfikir tentang agama yang tak serumit kita ini cuma 
berkomentar singkat, tapi cespleng, " Dasar orang-orang yang menuhankan diri 
itu memang otaknya pada beset ya ...

Saya cuman mbatin " jangan-jangan saya juga..."

Beset = sedikit tergores permanen



Wassalam

Dody Ide 
 
http://www.padhangjingglang.blogspot.com


      Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari 
Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke