http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/14/01371429/dari.penguasa.ke
.peradaban


Oleh Aguk Irawan MN

Ibnu Al-Nadim dalam kitabnya, Al-Fihrist, mengisahkan, suatu malam 
khalifah Al-Ma'mun (813-833) bermimpi melihat sosok berkulit putih 
kemerah-merahan, keningnya lebar, matanya biru, sikapnya gagah, 
sedang duduk di atas singgasana. Orang itu tidak lain adalah 
Aristoteles.

Percakapan yang berlangsung di antara mereka —dalam mimpi itu—
memberi inspirasi kepada Al-Ma'mun untuk menyosialisasikan literatur 
Yunani di lingkungan akademinya. Setelah mengadakan hubungan surat-
menyurat dengan penguasa Byzantium, Al-Ma'mun mengutus sebuah tim 
kerja ke Yunani. Tak lama berselang utusan itu kembali dengan 
membawa sejumlah buku untuk diterjemahkan.

Inilah awal mula gerakan penerjemahan di dunia Arab pada abad 
pertengahan. Langkah ini membuat akademi Bait Al-Hikmah (dar al-ilm)—
yang dirintis Al-Ma'mun—semakin tersohor. Dalam kerja penerjemahan 
literatur Yunani, Al-Ma'mun mengundang para fisikawan, 
matematikawan, astronom, penyair, ahli hukum, ahli hadis dan mufasir 
dari berbagai penjuru.

Mereka diberi fasilitas dan perlindungan negara agar dapat 
mencurahkan seluruh perhatian pada pengembangan ilmu pengetahuan. 
Sir John Glubb dalam Moslem Heroes in The World—dikutip oleh M 
Atiqul Haque (1995)—mencatat bahwa Hunain Ibn Ashaq, seorang 
Kristiani, telah menerjemahkan karya-karya Aristoteles dan Plato 
dari karya-karya Hippocrates dan Galen dalam bidang fisika. Karya 
itu beberapa tahun kemudian menyebar sampai ke Eropa Barat melalui 
Sisilia dan Spanyol.

Setelah menjamurnya karya- karya terjemahan itu, semakin lengkaplah 
koleksi buku di perpustakaan akademi Bait Al-Hikmah. Sebagaimana 
dicatat juga oleh Al-Nadim, perpustakaan itu telah mempekerjakan 
sarjana- sarjana brilian, seperti Al-Kindi (801-873), filsuf Arab 
pertama yang juga banyak menerjemahkan karya-karya Aristoteles. 
Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi (775-835), matematikawan terkemuka, 
penemu Al-Jabar juga bekerja di perpustakaan ini. Selama masa 
tugasnya di perpustakaan itu, ia menulis karya monumental Kitab Al-
Jabr wa Al-Muqabillah.

Para penguasa di kurun itu dinilai sebagai pribadi-pribadi yang 
memiliki perhatian penuh terhadap pertumbuhan ilmu pengetahuan. Ini 
dibuktikan dengan keterlibatan mereka secara langsung dalam 
membangun perpustakaan.

Pentingnya perpustakaan

Pada tahun 1065, perdana menteri pemerintahan Saljuk, Malik Shah—
dalam sejarah dikenal dengan nama Nizam Al- Mulk—mendirikan 
perpustakaan Nizamiyah sebagai sentral penyimpanan buku-buku bagi 
kelangsungan aktivitas keilmuan di Madrasah Nizamiyah.

Menariknya, peningkatan jumlah koleksi di perpustakaan ini 
diselenggarakan dengan program wakaf besar-besaran. Ibn Al-Thir 
menyebutkan, Muhib Al-Din An-Najjar Al-Baghdadi mewakafkan koleksi 
pribadinya dalam jumlah relatif banyak. Khalifah An-Nashir juga ikut 
ambil bagian dalam program pewakafan tersebut.

Perpustakaan itu mempekerjakan pustakawan reguler sebagai karyawan 
yang digaji tinggi. Di antara pustakawan terkenal seperti Abu 
Zakariyyah Al-Tibrizi dan Yaqub Ibn Sulaiman Al-Askari bekerja di 
perpustakaan ini. Di sana pula Nizam Al-Mulk Al-Tusi (wafat 1092) 
menghabiskan sebagian besar waktunya dan menulis buku tentang 
hubungan internasional, Siyar Mulk yang terkenal itu. (Sardar, 2000).

Masih di kawasan Baghdad, pada tahun 1227, khalifah Muntasir Billah 
mendirikan sebuah perpustakaan megah guna memfasilitasi berbagai 
diskursus keilmuan di madrasah Musthansiriyah.

Pengeliling dunia Ibn Batutah menceritakan tentang Musthansiriyah 
dan perpustakaannya dengan jelas. Dikerahkan 150 unta untuk membawa 
buku-buku langka dari istana sehingga perpustakaan itu memiliki 
koleksi 80.000 judul buku.

Melihat kekayaan khazanah intelektual yang tersimpan di setiap 
perpustakaannya, wajarlah jika Baghdad masa itu menjadi pusat 
berbagai aktivitas keilmuan. Pelajarnya datang dari berbagai penjuru 
dunia.

Pertumbuhan dan perkembangan perpustakaan yang dipelopori langsung 
oleh penguasa tidak saja terkonsentrasi di dalam satu wilayah 
seperti Baghdad, tetapi juga tumbuh pesat di belahan wilayah lain 
seperti di Kairo. Menurut catatan Sardar, di daerah ini terdapat 
Khazain Al-Qusu, sebuah perpustakaan megah yang didirikan oleh salah 
seorang pejabat Fatimiyah, Al- Aziz Ibn Al-Muizz. Perpustakaan itu 
terdiri atas 40 ruangan yang diisi lebih dari 1,6 juta buku dan 
sudah tersusun dengan sistem klasifikasi canggih.

Sebagai implikasi dari tingginya sense of science para penguasa masa 
itu, sampai pada periode sejarah kerajaan-kerajaan kecil (malakut 
thawaif), kultur semacam ini masih tetap terpelihara. Kerajaan-
kerajaan kecil juga sibuk membangun perpustakaan, seperti 
perpustakaan Nuh Ibn Mansur, salah seorang sultan Bukhara.

Sebagaimana digambarkan Ibnu Sina: "Setelah memohon dan mendapat 
izin dari Nuh bin Mansur untuk mengunjungi perpustakaan ini, saya 
menemukan banyak ruangan yang penuh dengan buku-buku. Sebuah ruangan 
berisi buku-buku filsafat dan puisi, sementara ruangan lainnya 
yurisprudensi. Saya membaca katalog dari pengarang kuno dan 
mendapatkan semua buku yang diperlukan. Di sana banyak sekali buku-
buku yang tidak pernah saya temukan sebelumnya," (Bibliophilism in 
Medieval Islam, 1938).

Ajang keilmuan

Model-model perpustakaan abad pertengahan yang telah menjadi salah 
satu tiang penyangga peradaban di era golden age. Bukan hanya 
berfungsi sebagai tempat penyimpanan literatur, tetapi juga berperan 
sebagai wahana bagi sejumlah aktivitas keilmuan, termasuk riset dan 
polemik keilmuan. Begitu juga pengunjung perpustakaan, bukan hanya 
kalangan keluarga kerajaan, juga terbuka untuk seluruh pelajar dari 
berbagai tingkatan keilmuan.

Sebuah peradaban, sukar dibayangkan bila tanpa buku. Dan, distribusi 
ilmu pengetahuan akan cepat bergulir bila para penguasa terlibat 
langsung dalam mendirikan perpustakaan.

Sejak lama, hubungan penguasa dengan buku telah menjadi 
semacam "syarat-rukun" dalam menegakkan tiang-tiang penyangga sebuah 
peradaban. Perhatian yang sungguh-sungguh terhadap dunia perbukuan 
itu sendiri adalah juga sebuah lelaku yang beradab sehingga Sardar 
menyebutnya sebagai civilization of book (peradaban buku). Lalu, 
sudahkah para penguasa (juga calon penguasa kita hari ini yang sibuk 
berkampanye) menyadarinya?

Aguk Irawan MN Pengarang, Penerjemah, dan Pengasuh Pesantren Kreatif 
Baitul Kilmah

Kirim email ke