Tempo, 52/XXXVII 16 Februari 2009
Israel antara Shakespeare dan Chekov
Sastrawan Israel, Amos Oz, pernah menyebut konflik Israel dan Palestina
sebagai tragedi dalam arti yang sesungguhnya, karena yang terjadi adalah
benturan dua klaim yang sama-sama tidak mau mengalah. Untuk mengakhiri tragedi
semacam ini, kata Oz, hanya dikenal dua cara: penyelesaian model Shakespeare
atau Chekov. Pada model Shakespeare, konflik berakhir ketika semua pihak yang
terlibat saling menghabisi, sehingga pada akhir cerita semua mati terbunuh.
Ingat babak akhir lakon Hamlet? Duel antara Hamlet dan Laertes tidak hanya
berujung pada kematian keduanya, tapi juga menyeret ibunda Hamlet, Gertrude,
dan Raja Claudius ke liang lahad. Sebaliknya, pada model Chekov, konflik
diselesaikan melalui resolusi yang sama sekali tidak memuaskan siapa pun,
mengecewakan, bahkan mungkin menyisakan sakit hati, tapi semua yang terlibat
tetap hidup.
Selain sebagai novelis, Amos Oz adalah pendiri gerakan Shalom Achshav (Damai
Sekarang), yang gencar menentang kebijakan pemerintahnya menyangkut wilayah
pendudukan. Wajar kalau kemudian dia berharap negerinya memilih model Chekov
dan bukan Shakespeare dalam menangani perseteruan dengan Palestina. Artinya
melalui jalan perundingan dan bukan jalan militer. Sebab, menurut dia,
sejelek-jeleknya kompromi tetap lebih baik daripada perang habis-habisan ala
duel Hamlet.
Namun harapan Oz tampaknya tenggelam oleh semakin kuatnya arus kanan, yang
disertai dengan menyusutnya arus kiri di Israel . Harap diingat, dikotomi
kanan-kiri dalam nomenklatur politik Israel lebih banyak terkait dengan isu
keamanan nasional ketimbang ekonomi. ”Kanan” di sini bukan berarti liberalisme,
melainkan sikap hawkish yang mengandalkan jalan militer dan antikompromi
menyangkut tanah pendudukan. Sedangkan ”kiri” tidak mengacu pada sosialisme,
tapi pada sikap dovish yang mengutamakan negosiasi, dan juga kesediaan melepas
Gaza dan Tepi Barat kepada rakyat Palestina demi perdamaian.
Gejala ”kananisasi” itu secara nyata tecermin dalam pemilu Israel pada 10
Februari ini. Lepas dari siapa yang akhirnya memimpin Israel , fakta bahwa
tokoh seperti Benjamin Netanyahu atau Avigdor Lieberman semakin meroket
popularitasnya menunjukkan betapa sikap hawkish sedang laku keras di Israel.
Netanyahu, yang kini memimpin Partai Likud, jelas-jelas menyatakan hendak
mempertahankan wilayah pendudukan. Sedangkan Lieberman, pemimpin partai baru
Yisrael Beitenu, merupakan politikus ultranasionalis yang tema kampanyenya
memojokkan warga Arab-Israel sebagai musuh dalam selimut karena dianggap lebih
loyal terhadap Palestina. Selain itu, perang Gaza yang didukung mayoritas warga
Yahudi Israel bisa juga dibaca sebagai taktik Olmert atau Livni atau Barak
untuk ”tampil kanan” agar bisa menang dalam pemilu. Dengan kata lain, pemilu
Israel sekarang adalah semacam perlombaan menjadi kanan.
Dalam pandangan Israel , ”kananisasi” ini dipicu oleh militansi Hamas yang
bertekad menghancurkan Israel . Karena itulah Israel berdalih serangannya ke
Gaza baru-baru ini adalah perang demi membela diri. Tapi argumen membela diri
ini sebenarnya absurd karena Hamas pun bisa mengklaim hal yang sama, misalnya
dengan berdalih serangan roketnya ke Israel juga demi membela diri dari blokade
ekonomi dan sosial yang diberlakukan Israel atas Gaza . Lagi pula militansi
Hamas bukanlah gejala yang bisa dilepaskan dari rangkaian sejarah panjang
konflik Israel dan Palestina.
Akar masalahnya sebenarnya sudah muncul jauh sebelum Hamas lahir, tepatnya
setelah Israel menang perang melawan Mesir, Yordania, dan Suriah pada Perang
1967. Sebelum 1967, Israel praktis mengacu pada konsep ”tembok besi” yang
dirumuskan oleh salah seorang perintis Zionis bernama Vladimir Jabotinsky. Nama
ini memang sering diasosiasikan dengan Zionisme revisionis yang menjadi sumber
inspirasi partai sayap kanan Likud. Tapi esainya berjudul ”Tembok Besi: Kita
dan Arab” yang terbit pada 1920-an menunjukkan pandangan Zionis kelahiran Rusia
ini lebih kompleks daripada yang selama ini dikira.
Dalam esai tersebut, Jabotinsky pertama-tama mengakui adanya pertautan alamiah
antara bangsa Palestina dan tanah kelahiran mereka, ”seperti halnya pertautan
bangsa Aztecs pada Meksiko atau suku Sioux pada tanah rerumputan mereka.”
Karena itu, bisa dimaklumi kalau mereka menentang berdirinya negara Yahudi di
Palestina, yang mereka anggap sebagai kolonisasi. Kata Jabotinsky, ”Seandainya
kita Arab, kita akan menentangnya juga.”
Dari situ ia kemudian menegaskan bahwa bangsa Arab tidak akan dengan sukarela
mengakui kehadiran negara Yahudi di Palestina. Karena itu, menurut dia, untuk
merealisasi proyek Zionisme, kaum Yahudi mesti membangun kekuatan militer yang
betul-betul kokoh laksana tembok besi, sehingga setiap usaha bangsa Arab untuk
menghancurkannya akan berakhir dengan sia-sia. Jabotinsky meyakini kegagalan
terus-menerus yang diderita bangsa Arab akan membuat mereka lambat-laun jadi
kompromistis dan akhirnya menerima kehadiran Israel . Dengan kata lain, buat
Jabotinsky, kekuatan militer bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, melainkan
sarana pemaksa agar pihak Arab bersedia berunding dengan Israel .
Tapi, setelah Israel berhasil menduduki Gaza , Tepi Barat, dan wilayah Arab
lain menyusul kemenangannya pada Perang 1967, strategi tembok besi pun segera
ditinggalkan. Israel tidak lagi menempatkan kompromi sebagai tujuan akhir
seperti disarankan Jabotinsky. Sikap antikompromi ini menjadi semakin keras
dengan adanya dukungan dari kelompok yang senantiasa bersinergi. Yang pertama
adalah kelompok fundamentalis Yahudi yang tergabung dalam Gush Emunim, yang
meyakini Tepi Barat, Gaza, dan Yerusalem sebagai anugerah Tuhan kepada bangsa
Yahudi di Israel dan, karena itu, ”haram” hukumnya dikembalikan ke bangsa Arab.
Yang kedua adalah Partai Likud, yang sejak awal getol memperjuangkan gagasan
tentang ”Israel Raya” yang mencakup keseluruhan wilayah Israel dan Palestina.
Sikap antikompromi inilah yang terbukti selalu menjadi batu sandungan bagi
setiap pembicaraan damai antara Israel dan pihak Arab sampai sekarang. Pada
2002, misalnya, Liga Arab dengan juru bicara Pangeran Abdullah dari Arab Saudi
menawarkan hubungan penuh dengan Israel asalkan Israel mau kembali ke
wilayahnya sebelum Perang 1967. Tapi dengan ketus Israel menolaknya. Bahkan
Hamas juga pernah menawarkan gencatan senjata 30-40 tahun dengan catatan Israel
menarik diri dari pendudukan. Israel lagi-lagi menampiknya.
Dengan begitu, yang mengandaskan harapan Amos Oz agar Israel menempuh jalan
Chekov ketimbang Shakespeare bukanlah terutama pengaruh faktor luar, melainkan
produk dalam negeri Israel sendiri.
Parahnya lagi, perang Gaza baru-baru ini menunjukkan Israel kini didera oleh
mentalitas terkepung, yang senantiasa melihat sekelilingnya sebagai ancaman.
Ini terjadi karena Israel adalah negara dengan kekuatan militer yang tak
tertandingi di Timur Tengah dan mendapat dukungan yang hampir total dari
Amerika. Namun, pada saat yang sama, negara Yahudi ini selalu memposisikan diri
sebagai korban. Problemnya, kombinasi kekuatan yang tak tepermanai yang
dimiliki Israel plus persepsi diri sebagai korban pada akhirnya menyebabkan
responsnya terhadap apa yang disebut ancaman sering sangat tidak proporsional.
Rasanya ungkapan ”Jika yang Anda punya hanya palu, segalanya akan tampak
seperti paku” tepat sekali melukiskan perilaku Israel . Tidak aneh kalau Israel
ngotot menumpas Hamas dengan cara menggempur Gaza , meski ini berarti 1,5 juta
penduduk kawasan itu menderita.
Dilihat dari sudut pandang Zionisme, apa yang terjadi pada Israel sekarang
terasa ironis. Ketika Theodor Herzl mencetuskan ide negara Yahudi pada akhir
abad ke-19, ia mencita-citakan bangsa Yahudi bisa hidup normal ”seperti
bangsa-bangsa lain”. Menurut Herzl, 2.000 tahun lamanya bangsa Yahudi hidup
abnormal, yakni terpencar dalam diaspora tanpa negara. Karena itu, mereka
rentan menjadi target serangan antisemitisme di Eropa. Ide negara Yahudi oleh
Herzl dimaksudkan agar bangsa Yahudi keluar dari abnormalitas kehidupan
diaspora dan mulai hidup normal sebagai bangsa yang mempunyai negara sendiri.
Harapannya adalah agar ancaman antisemitisme menghilang.
Tapi, setelah 60 tahun lebih berdiri, Israel mengidap sindrom mentalitas
terkepung yang akut. Apakah itu hidup normal seperti bangsa-bangsa lain seperti
diimpikan Herzl? Entahlah. Yang pasti, mentalitas terkepung dan ”kananisasi”
mendorong Israel condong kepada model Shakespeare dan menjauhi model Chekov.
Akhmad Sahal
· Peneliti Freedom Institute
New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
[Non-text portions of this message have been removed]