www.pikiran-rakyat.com
 
Seniman & Santri Ciwaringin Menggugat
Jum'at, 20 Februari 2009 , 22:32:00

CIREBON, (PRLM).- Ratusan santri dan seniman dari Komunitas Seniman & Santri 
(KSS) Pondok Pesantren (Ponpes) Babakan Ciwaringin dan "Komite Pemilih 
Indonesia" (Tepi Indonesia), Kabupaten Cirebon, Jumat siang (20/2)berunjuk 
rasa. 
Mereka memprotes pemasangan alat peraga kampanye oleh para calon legislatif 
(caleg) yang dinilai tidak mendidik masyarakat.
"Sebaliknya, baliho, poster, stiker dan spanduk yang terpasang terkesan 
membodohi rakyat. Tidak ada pendidikan politik dari pemasangan alat peraga 
kampanye tersebut," tutur Baiquni, koordinator aksi dari KSS.
Aksi dilakukan melalui adegan tatrikal yang menyindir para caleg. Ratusan 
santri dan seniman mengusung baliho berukuran besar bergambar seorang caleg 
yang berisi kata-kata nyeleneh. Setelah diarak, baliho itu dipasang di pintu 
masuk jalan ke kompleks Ponpes Babakan Ciwaringin.
Baliho berisi sindiran itu cukup unik. Berisi kata-kata yang justru meminta 
agar rakyat jangan memilih, berbunyi "Jangan pilih saya karena saya koruptor, 
saya pembohong, saya pengobral janji, saya munafik, saya suka memperkaya diri, 
saya suka menjual agama. Dan memilih saya dijamin sengsara".
Baiquni yang juga Ketua KSS, menuturkan, pemasangan baliho itu sebagai simbol 
bahwa semua caleg sangat narsis. Lebih suka membangga-banggakan dirinya, 
padahal komitmennya selama ini terhadap rakyat sama sekali tidak terlihat.
"Yang amanah itu orang diminta rakyat, dan meminta-minta untuk dipilih rakyat," 
katanya.
 
Jamaludin dari "Tepi Indonesia" menuturkan, sistim politik yang dibangun 
melalui gerakan reformasi telah gagal total. Dibuktikan dengan lahirnya banyak 
pemimpin korup yang tidak amanah.
"Melihat fenomena karut marut tadi, tidak memilih adalah sebuah pilihan 
politik. Ini sah karena memilih adalah hak, bukan kewajiban, dalam negara 
demokrasi," tutur dia.
Jamaludin juga mengecam model kampanye parpol di media televisi yang 
membanggakan diri sambil mengolok-olok parpol lain. Hal itu menunjukan bahwa 
etika politik sudah hancur, justru oleh parpol yang mengklaim diri sebagai 
paling beretika.
"Belum lagi iklan lain yang sangat manipulatif. Tidak jelas bagaimana 
keberpihakannya terhadap rakyat kecil tiba-tiba mengklaim diri paling peduli 
sama rakyat kecil. Iklan itu sangat manipulatif dan menipu. Negeri ini akan 
hancur bila demokrasi diisi oleh para penipu yang modus penipuannya lewat 
iklan," ujar dia.
Usai memasang baliho, para santri dan seniman membubarkan diri. Mereka juga 
sempat membacakan sejumlah pernyataan sikap yang terangkum dalam sindiran 
bertajuk "Pesta Democrazy".(A-93/A-26).***


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke