salam,

Mas Mukhlisin, sekali-kali tidak apa-apa jika warga NU agak sedikit radikal.. 
Itung-itung balas dendam untuk pembantaian masal oleh jama'ah wahhabi 
dulu...hehe. karena mau dialog seribu kalipun tak akan menghasilkan perubahan 
apapun. 

Fahmi

--- On Mon, 2/23/09, Mukhlisin <[email protected]> wrote:

From: Mukhlisin <[email protected]>
Subject: [kmnu2000] Singgung Warga, Rumah Jamaah Salafi Diserang
To: [email protected]
Date: Monday, February 23, 2009, 1:44 AM











    
            

Singgung Warga, Rumah Jamaah Salafi Diserang

Senin, 23 Februari 2009 12:28



Mataram, /*NU Online*/

Sedikitnya lima rumah warga jamaah Salafi di Gerung, Lombok Barat, Nusa 

Tenggara Barat (NTB) diserang masyaraka, karena dinilai telah menyingung 

masyarakat yang menganut faham Ahlisunnah Waljamaah.



Rumah-rumah tersebut hancur sementara rumah yang lainnya atapnya 

dipenuhi batu bekas lemparan sehingga mereka harus mengungsi ke rumah 

keluarga dan tetangga terdekat.



Hasbiallah (45) salah seorang jamaah Salafi Ahad mengatakan, masyarakat 

dengan tiba-tiba menyerah rumah warga Salafi sehingga membuat warga 

Salafi ketakutan.Alasan menyerang adalah karena Salafi dituduh 

menerbitkan buku yang menyingung jamaah Ahlisunnah Waljamaah.



Dia mengatakan, Jamaah Salafi adalah sama dengan jamaah Ahlisunnah 

Waljamaah, karena sama-sama berkiblat ke Iman Syafii meskipun sedikit 

ada perbedaan tentang bidaah.



Penyerangan terhadap jamaah Salafi tidak hanya terjadi di Gerung, Lombok 

Baran, namun pernah terjadi di Kota Mataram dan Walikota Mataram segera 

mengambil tindakan dengan mengumpulkan jamaah Salafi.



Setelah diberikan pengertian maka jamaah Salafi dan Ahlisunnan Waljamaah 

berdamai sehingga sampai hari ini tidak pernah terjadi salah faham lagi.



Jamaah salafi atau seringkali disebut sebagai kelompok wahabi seringkali 

melakukan kampanye dan dakwah dengan cara-cara yang memojokkan kelompok 

lain sehingga upaya dakwah malah menjadi kontraproduktif berupa 

timbulnya perselisihan di antara umat Islam sendiri.



Di Jawa Timur, kalangan nahdliyyin pernah dikejutkan dengan terbitnya 

buku Mantan Kiai NU Menggugat, yang dengan kasar membidahkan amalan dan 

ibadah warga NU. Namun kedewasaan warga Jawa Timur membuat polemik ini 

bisa diupayakan melelui dialog, meskipun pengarang buku, Mahrus Ali tak 

berani datang dalam forum tersebut. (ant/mad)



[Non-text portions of this message have been removed]




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke