---------- Pesan terusan ----------
Dari: paraouh <[email protected]>
Tanggal: 8 Maret 2009 06:52
Subjek: ::: numesir ::: Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Ra ji'un..Gus Muh
Tegalrejo Wafat
Ke: [email protected]

08 Maret 2009
Gus Muh Meninggal, Dongeng Perubahan Dibatalkan

MAGELANG - Pondok Pesantren API Tegalrejo menjadi lautan manusia
ketika ratusan santri mengantarkan kepergian salah satu pengasuh
pondok KH Ahmad Muhammad (Gus Muh), kemarin.

Adik KH Abdurrahman Chudlori, ketua Dewan Syura DPP PKNU, meninggal di
Jogja International Hospital Jumat (6/3) sekitar pukul 23.55. Dia
sudah dirawat tiga hari di rumah sakit tersebut karena menderita
diabetes. Kemarin acara pemakaman berlangsung sakral, ribuan santri
turut mengantarkan jenazah hingga ke liang lahat.

Sabtu (7/3) rencananya akan digelar Orkestra Afalaa Tatafakkaruun oleh
Komunitas Lima Gunung di kompleks tersebut. Namun pada Sabtu (7/3)
pukul 00.00 acara dibatalkan mendadak. Seting panggung dan tratak yang
malam itu sudah jadi langsung di bongkar lagi dan dipindah ke rumah
duka untuk acara lelayu.

Menurut juru bicara keluarga, Kholilul Rohman Ahmad, Gus Muh meninggal
dunia pada usia 67 tahun, setelah menjalani perawatan selama tiga hari
karena penyakit diabetes dan komplikasi.

Kakak dari Gus Yusuf itu meninggalkan seorang istri dan dua anak.
Jenazah dimakamkan di pekuburan keluarga KH Chudlori di kompleks
ponpes tersebut pada pukul pukul 15.00.

''Karena Gus Muh meninggal, semua dibatalkan,'' kata Kholilul, yang
juga ketua Panitia Pentas Seni Orkestra Afalaa Tatafakkaruun.

Lima Gunung

Menurut rencana, pementasan oleh ratusan seniman muda petani lima
gunung Magelang (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) itu
berlangsung di kompleks Ponpes API Tegalrejo pada Sabtu (7/3) mulai
pukul 09.00 hingga 15.00.

Pementasan itu dalam rangkaian dialog dan pentas kesenian tradisional
bertajuk ''Dongeng Perubahan'', gagasan salah seorang pengasuh ponpes,
KH Muhammad Yusuf Chudlori. Kegiatan itu, rencana akan dihadiri
Sutradara Garin Nugroho, penyanyi Franky Sahilatua, Trie Utami, dan
salah seorang putri Raja Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu
Pembayun.

Sutanto Mendut, pimpinan tertinggi Komunitas Lima Gunung mengatakan,
dirinya telah mendapatkan pemberitahuan dari pihak panitia tentang
pembatalan pementasan tersebut.

''Kami diberitahu kalau Gus Muh meninggal sehingga pentas dibatalkan.
Kami belum dapat kepastian, ditunda atau tak digelar lagi,"
katanya.(H33-79)

Kirim email ke