Bagus juga ini untuk direnungkan...
________________________________ From: heri sudarsono <[email protected]> To: [email protected]; [email protected] Sent: Sunday, March 8, 2009 9:30:00 PM Subject: [indoatiium] YOGYA taste: Kemana Perempuan-perempuan itu? Kemana Perempuan-perempuan itu? Mar 7, '09 10:38 AM for everyone Category: Other Kemana Perempuan-perempuan itu? Ketika aku duduk di SD, ada teman perempuan yang selalu duduk di kursi depan dekat meja guru. Aku dibuat iri oleh nya karena selain baik perilakunya, dia juga selalu juara satu, aku berusaha meniru diri untuk mendapatkan juara yang didapatkannya, tetapi aku tidak bisa mengungguli dirinya walaupun belajarku sudah mulai lupa akan waktu Ketika aku di SMP, ada temanku perempuan yang selalu juara dan bacaan Quraannya sangat merdu. Dia sering menjadi wakil kelas untuk maju lomba cerdas cermat dan setiap kecerdasan jawaban membuat kurang percaya diri dan ragu akan kemampuanku Ketika aku di SMA, ada teman perempuan yang menjadi wakil ketua OSIS di SMA-ku Dia selalu juara, dia juga pintar bicara, maka dia menjadi idola para guru. Kalau dia menjelaskan pelajaran di depanku membuat aku merasa bodoh, otakku seolah membatu ! Ketika kuliah di PT, terkenang temanku perempuan yang selalu juara, baik budi bahasan dan baik pula dalam perilaku Dia selalu mendapatkan nilai sempurna pada pelajaran berhitung, ilmu hitung yang dikuasainya dibanding aku, aku tidak ada seujung kuku! Ketika aku jadi pengajar, banyak perempuan di kelas mata kuliah yang aku ampu nilai rata-rata yang dimiliki lebih baik dari lelaki, walaupun tidak ada perbedaaan metode pelajaran, silabi, komponen penilai dan referensi. Dikelas-kelas lain, di kampus ku nilai tinggi perempuan mendominasi sepertinya lelaki sangat malas untuk belajar mencari dan memahami. Dan, entah sekarang kemana perempuan-perempuan itu? Perempuan-perempuan juara-juara itu, di SD yang berlantaikan batubata dan atapnya dari anyaman bambu, di SMP yang gedung yang berjajar sempit dan sudut ruangan yang bau, di SMA yang memiliki halaman luas, yang katanya SMA favorit di kotaku, dan, di kampus dengan bangunan berjejar megah dengan berbagai fasilitas yang membuat aku dikenal sebagai generasi biru.... Perempuan-perempuan yang pintar itu kemana? Apakah mereka sudah menjadi dokter di rumah sakit-rumah sakit yang mewah, apakah mereka sudah menjadi insiyur, yang membuat bangunan-bangunan megah, apakah mereka sudah menjadi salah satu direktur di perusahaan-perusahan besar dengan prospek karier yang cerah apakah mereka sudah duduk menjadi anggota legislatif di pusat maupun daerah, atau, mungkin mereka sudah menjadi menteri ekonomi yang membuat kebijakan supaya ekonomi ini kian bergairah . Ehmmm...tidak...tidak...perempuan itu tidak di sana. Aku lihat lebih banyak dokter di rumah sakit-rumah sakit itu adalah lelaki, aku dapatkan banyak bekerja lelaki membuat bangunan-bangunan yang besar dan tinggi, aku temukan perempuan tidak banyak menjadi direktur-direktur perusahaan di negeri ini. aku hitung jumlah perempuan yang duduk di legislatif tidak sebanyak lelaki, aku lihat perempuan yang menjadi menteri jumlahnya dalam hitungan jari. Perempuan-perempuan itu kemana? Apakah perempuan-perempuan itu di sana, tetapi; Di sana, aku temukan banyak perempuan menjadi ibu rumah tangga di rumah-rumah yang sederhana, di sana, aku dapatkan banyak perempuan menjadi pegawai administrasi di kantor-kantor Pemda, di sana, aku lihat banyak perempuan bekerja di bank yang duduk di belakang meja, di sana, aku temukan banyak perempuan bekerja di partai hanya untuk menjadi legitimasi partai tertentu supaya dikatakan peduli terhadap wanita, dan, di sana aku dengar mereka menjadi menteri dikarena jumlah perempuan di kabinet harus sesuai dengan kuota. Benar di sana, perempuan-perempuan itu? Apakah sistem pendidikan menjadi perempuan juara hanya disekolah saja, apakah alur kehidupan menjadi hubungan perempuan-lelaki sedemikian rupa, apakah kebijakan pemerintah telah mekondisikan kehidupan lelaki menjadi menguasa, apakah keyakinan menciptakan struktur sosial supaya demikian keadaan tertata, apakah mitos yang membingkai perempuan itu untuk menjalani kehidupan seperti itu guna mendapatkan bahagia, apakah ideologi meramu cara pandang untuk menerima semua itu sebagai cara menjalani hidup merdeka, apakah dogma-dogma yang menjadi kehidupan seperti itu sebagai pilihan satu-satunya, Di mana perempuan-perempuan itu? Di saat lelaki tidak bisa memegang amanah di saat berkuasa, di saat lelaki tidak mampu membuat kebijakan untuk kesejahterakan bagi rakyat yang memilihnya, di saat lelaki memimpin perusahaan negara yang menghasilkan keuntungan hanya untuk kolega, di saat lelaki berkuasa tidak bisa mengendalikan hawa korupsi yang sudah menjiwa, dan, di saat lelaki tidak mampu menciptakan kasih kepada sesama. Apakah salah, kalau aku rindu dengan perempuan-perempuan juara yang ku kenal itu untuk mengantinya. Akhirnya aku tidak tahu, Kemanakah perempuan-perempuan itu? ________________________________ Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! [Non-text portions of this message have been removed]
