--- In [email protected], "Muhammad Rizqi Ramadlan" 
<mr_romd...@...> wrote:

http://eramuslim.com/berita/tahukah-anda/peran-quot-lawrence-of-arabia-quot-di-balik-berdirinya-kerajaan-saudi.htm

Menurut logika yang sehat, seharusnyalah Kerajaan Saudi Arabia menjadi pemimpin 
bagi Dunia Islam dalam segala hal yang menyangkut keIslaman. Pemimpin dalam 
menyebarkan dakwah Islam, sekaligus pemimpin Dunia Islam dalam menghadapi 
serangan kaum kuffar yang terus-menerus melakukan serangan terhadap agama Allah 
SWT ini dalam berbagai bentuk, baik dalam hal Al-Ghawz Al-Fikri (serangan 
pemikiran dan kebudayaan) maupun serangan Qital.

Seharusnyalah Saudi Arabia menjadi pelindung bagi Muslim Palestina, Muslim 
Afghanistan, Muslim Irak, Muslim Pattani, Muslim Rohingya, Muslim Bosnia, 
Muslim Azebaijan, dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Tapi yang terjadi dalam 
realitas sesungguhnya, mungkin masih jadi pertanyaan banyak pihak. Karena 
harapan itu masih jauh dari kenyataan.

Craig Unger, mantan deputi director New York Observer di dalam karyanya yang 
sangat berani berjudul "Dinasti Bush Dinasti Saud" (2004) memaparkan kelakuan 
beberapa oknum di dalam tubuh kerajaan negeri itu, bahkan di antaranya termasuk 
para pangeran dari keluarga kerajaan.

"Pangeran Bandar yang dikenal sebagai `Saudi Gatsby' dengan ciri khas janggut 
dan jas rapih, adalah anggoa kerajaan Dinasti Saudi yang bergaya hidup Barat, 
berada di kalangan jetset, dan belajar di Barat. Bandar selalu mengadakan 
jamuan makan mewah di rumahnya yang megah di seluruh dunia. Kapan pun ia bisa 
pergi dengan aman dari Arab Saudi dan dengan entengnya melabrak batas-batas 
aturan seorang Muslim. Ia biasa minum Brandy dan menghisap cerutu Cohiba, " 
tulis Unger.

Bandar, tambah Unger, merupakan contoh perilaku dan gaya hidup sejumlah syaikh 
yang berada di lingkungan kerajaan Arab Saudi. "Dalam hal gaya hidup Baratnya, 
ia bisa mengalahkan orang Barat paling fundamentalis sekali pun. "

Bandar adalah putera dari Pangeran Sultan, Menteri Pertahanan Saudi. Dia juga 
kemenakan dari Raja Fahd dan orang kedua yang berhak mewarisi mahkota kerajaan, 
sekaligus cucu dari (alm) King Abdul Aziz, pendiri Kerajaan Saudi modern.

Bukan hanya Pangeran Bandar yang begitu, beberapa kebijakan dan sikap kerajaan 
terakdang juga agak membingungkan. Siapa pun tak kan bisa menyangkal bahwa 
Kerajaan Saudi amat dekat—jika tidak bisa dikatakan sekutu terdekat—Amerika 
Serikat. Di mulut, para syaikh-syaikh itu biasa mencaci maki Zionis-Israel dan 
Amerika, tetapi mata dunia melihat banyak di antara mereka yang berkawan akrab 
dan bersekutu dengannya.

Barangkali kenyataan inilah yang bisa menjawab mengapa Kerajaan Saudi 
menyerahkan penjagaan keamanan bagi negerinya—termasuk Makkah dan 
Madinah—kepada tentara Zionis Amerika.

Bahkan dikabarkan bahwa Saudi pula yang mengontak Vinnel Corporation di tahun 
1970-an untuk melatih tentaranya, Saudi Arabian National Guard (SANG) dan 
mengadakan logistik tempur bagi tentaranya. Vinnel merupakan salah satu Privat 
Military Company (PMC) terbesar di Amerika Serikat yang bisa disamakan dengan 
perusahaan penyedia tentara bayaran.

Ketika umat Islam dunia melihat pasukan Amerika Serikat yang hendak mendirikan 
pangkalan militer utama AS dalam menghadapi invasi Irak atas Kuwait beberapa 
tahun lalu, maka hal itu tidak lepas dari kebijakan orang-orang yang berada 
dalam kerajaan tersebut.

Langkah-langkah mengejutkan yang diambil pihak Kerajaan Saudi tersebut 
sesungguhnya tidak mengejutkan bagi yang tahu latar belakang berdirinya 
Kerajaan Saudi Arabia itu sendiri. Tidak perlu susah-sudah mencari tahu tentang 
hal ini dan tidak perlu membaca buku-buku yang tebal atau bertanya kepada 
profesor yang sangat pakar.

Pergilah ke tempat penyewaan VCD atau DVD, cari sebuah film yang dirilis tahun 
1962 berjudul `Lawrence of Arabia' dan tontonlah. Di dalam film yang banyak 
mendapatkan penghargaan internasional tersebut, dikisahkan tentang peranan 
seorang letnan dari pasukan Inggris bernama lengkap Thomas Edward Lawrence, 
anak buah dari Jenderal Allenby (jenderal ini ketika merebut Yerusalem 
menginjakkan kakinya di atas makam Salahuddin Al-Ayyubi dan dengan lantang 
berkata, "Hai Saladin, hari ini telah kubalaskan dendam kaumku dan telah 
berakhir Perang Salib dengan kemenangan kami!").

Film ini memang agak kontroversial, ada yang membenarkan namun ada juga yang 
menampiknya. Namun produser mengaku bahwa film ini diangkat dari kejadian 
nyata, yang bertutur dengan jujur tentang siapa yang berada di balik berdirinya 
Kerajaan Saudi Arabia.

Konon kala itu Jazirah Arab merupakan bagian dari wilayah kekuasaan 
Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, sebuah kekhalifahan umat Islam dunia yang 
wilayahnya sampai ke Aceh. Lalu dengan bantuan Lawrence dan jaringannya, suatu 
suku atau klan melakukan pemberontakan (bughot) terhadap Kekhalifahan Turki 
Utsmaniyah dan mendirikan kerajaan yang terpisah, lepas, dari wilayah 
kekhalifahan Islam itu.

Bahkan di film itu digambarkan bahwa klanSaud dengan bantuan Lawrence 
mendirikan kerajaan sendiri yang terpisah dari khilfah Turki Utsmani. 
Sejarahwan Inggris, Martin Gilbert, di dalam tulisannya "Lawrence of Arabia was 
a Zionist" seperti yang dimuat di Jerusalem Post edisi 22 Februari 2007, 
menyebut Lawrence sebagai agen Zionisme.

Sejarah pun menyatakan, hancurnya Kekhalifahan Turki Utsmani ini pada tahun 
1924 merupakan akibat dari infiltrasi Zonisme setelah Sultan Mahmud II menolak 
keinginan Theodore Hertzl untuk menyerahkan wilayah Palestina untuk bangsa 
Zionis-Yahudi. Operasi penghancuran Kekhalifahan Turki Utsmani dilakukan Zionis 
bersamaan waktunya dengan mendukung pembrontakan Klan Saud terhadap Kekalifahan 
Utsmaniyah, lewat Lawrence of Arabia.

Entah apa yang terjadi, namunhingga detik ini, Kerajaan Saudi Arabia, walau 
Makkah al-Mukaramah dan Madinah ada di dalam wilayahnya, tetap menjadi sekutu 
terdekat Amerika Serikat. Mereka tetap menjadi sahabat yang manis bagi Amerika.

Selain film `Lawrence of Arabia', ada beberapa buku yang bisa menggambarkan hal 
ini yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Antara lain:
Wa'du Kissinger (Belitan Amerika di Tanah Suci, Membongkar Strategi AS 
Menguasai Timur Tengah, karya DR. Safar Al-Hawali—mantan Dekan Fakultas Akidah 
Universitas Ummul Quro Makkah, yang dipecat dan ditahan setelah menulis buku 
ini, yang edisi Indonesianya diterbitkan Jazera, 2005)
Dinasti Bush Dinasti Saud, Hubungan Rahasia Antara Dua Dinasti Terkuat Dunia 
(Craig Unger, 2004, edisi Indonesianya diterbitkan oleh Diwan, 2006)
Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia (George Lenczowski, 1992)
History oh the Arabs (Philip K. Hitti, 2006)

Sebab itu, banyak kalangan yang berasumsi bawah berdirinya Kerajaan Saudi 
Arabia adalah akibat "pemberontakan" terhadap Kekhalifahan Islam Turki Utsmani 
dan diback-up oleh Lawrence, seorang agen Zionis dan bawahan Jenderal Allenby 
yang sangat Islamofobia. Mungkin realitas ini juga yang sering dijadikan 
alasan, mengapa Arab Saudi sampai sekarang kurang perannya sebagai pelindung 
utama bagi kekuatan Dunia Islam, wallahu a'lam. (Rz)

--- End forwarded message ---


Kirim email ke