Sutradara India: Quran, Cocok untuk Masyarakat Modern Amerika
Katagori : Warta Berita
Oleh : Redaksi 17 Mar 2009 - 3:30 pm
Paska Tragedi WTC, setiap harinya, 50 hingga 100 warga AS menjadi Muallaf
Sutradara film asal India, Faruq Masudi membuat film dokumenter tentang
al-Quran dan hubungannya nilai-nilai yang berlaku di tengah masyarakat Amerika.
Film berjudul "Quran Contemporary Connections" ini mengungkap bahwa al-Quran
adalah kitab suci untuk seluruh umat manusia.
Meski diturunkan 1400 tahun yang lalu, ajaran al-Quran tetap relevan dengan
kehidupan modern sekarang ini dan membuktikan bahwa tudingan masyarakat Barat
bahwa al-Quran sudah ketinggalan jaman adalah tudingan yang tidak benar. Masudi
membuat filmnya berdasarkan riset yang dilakukan sekelompok profesor di
Amerika.
Yang secara khusus diminta untuk menggali apa sebenarnya yang ada dalam pikiran
umat Islam, sekaligus meneliti apakah benar al-Quran sudah tidak sesuai dengan
perkembangan jaman.
"Film ini menjelaskan berbagai tema-tema besar dalam al-Quran, termasuk
masalah-masalah yang kontroversial seperti jihad, perempuan, sex, poligami,
perdamaian dan masalah kekerasan serta menjelaskan bagaimana ajaran al-Quran
tentang konsep-konsep dalam dunia modern seperti demokrasi dan keberagaman,"
jelas Masudi.
Ia mengatakan, banyak sekali persamaan antara nilai Islam dengan Barat, karena
al-Quran diturunkan untuk semua umat manusia. Umat Islam tidak memonopoli
Islam, Allah dan al-Quran.
"Saya membuat film ini untuk sebuah alasan yang jelas, bahwa komunitas
non-Muslim telah salah menilai kami sebagai Muslim dan inilah saatnya seorang
Muslim yang profesional untuk meluruskannya," kata Masudi yang terinspirasi
membuat film al-Quran setelah peristiwa serangan 11 September 2001.
Masudi menyatakan, nilai-nilai yang berlaku di kalangan Muslim dan komunitas
Barat pada dasarnya sama. Cuma gaya hidup saja yang membedakan antara Muslim
dan masyarakat Barat. Menurutnya, media dan umat Islam sama-sama bertanggung
jawab atas munculnya pandangan-pandangan negatif tentang Islam.
"Saya tidak berharap seorang pekerja media membaca al-Quran sebelum ia menulis
sebuah artikel. Saya pikir, dalam hal ini umat Islam sudah gagal untuk
mengemban tanggung jawab untuk melakukan komunikasi dengan media dengan cara
yang tepat, pada waktu dan tempat yang tepat pula," tukas Masudi.
Dengan hadirnya film "Quran Contemporary Connections", media massa, pejabat
pemerintah dan para penentu kebijakan diharapkan bisa mendapatkan "penjelasan
yang baru, segar dan tidak berlebihan tentang al-Quran". Sehingga mampu
mengubah persepsi negatif mereka tentang Islam dan umat Islam.
Tapi film Masudi nampaknya akan menghadapi kendala pemasaran. Menurut Masudi,
meski sejumlah kalangan menyambut positif film al-Quran yang dibuatnya,
beberapa distributor film tidak terlalu berminat untuk memasarkan film
tersebut. Mereka menilai film Masudi tidak obyektif.
"Para distributor menginginkan film seperti film 'Fitna', tapi dibuat oleh
Muslim. Saya menolak melakukan itu," tukas Masudi "Fitna" adalah film
anti-Islam yang melecehkan al-Quran buatan Geert Wilders, anggota parlemen
sayap kiri di Belanda.
Untuk itu, Masudi rencananya juga akan menyebarkan film tersebut melalui dunia
maya atau internet. (ln/aby/eramuslim)