(Mas Iman tolong di forward ke temen-temen posting)

Firaun Lebih Baik dari...Muslim yang Sombong

Oleh: Sofwan Nadi

Sebuah alat yang diperlukan untuk mengetahui... ketika tiada, atau cedera.. 
maka peluang untuk memperoleh pengetahuan menjadi nihil. Begitu kira-kira inti 
tulisan Mas Iman tentang Alat untuk Mengetahui.

Tulisan itu mengingatkan diskusi dalam sebuah perjalanan dari Cirebon ke 
Bandung pada sekitar bulan November 2008. Mengenai Firaun dan Muslim yang 
mengangkangi Tuhan. Intinya begini.

Firaun manakala menerima pengetahuan "awal" tentang konsep ketuhanan Musa itu 
tak beda dengan orang Indonesia yang "selalu" bilang belum makan kalau belum 
nasi yang dimasukkan ke mulutnya. Meski sudah makan roti atau singkong 1 kg dia 
masih saja bilang belum makan. "perasaan" berkonsumsi yang sudah terbangun 
sejak dia bayi membuat dia merasa asing dan tidak terpuaskan oleh sesuatu 
selain nasi. Meski dia seorang sarjana gizi atau kedokteran, "rasa perut" dia 
belum berasa makan kalau belum nasi yang disuapkan. Keilmuan yang dia dapatkan, 
bahkan kaji laboratorium yang dia saksikan... seolah tak berarti untuk 
meyakinkan dia, bahwa dia sudah makan meski bukan nasi yang dikonsumsi. Dia 
tetap bersikukuh, hendak mampir ke Warung Nasi untuk makan.

Alam perut orang Indonesia ini dapat memberi kearifan bagi kita mencermati 
betapa sulit Firaun untuk mengerti konsep ketuhanan Musa sampai menjelang ajal 
tiba. Alam fikir, logika dan rasa Firaun, tumbuh dan berkembang dalam 
lingkungan yang memandang raja bercitra ketuhanan. Setiap dari keluarga Firaun 
dan naik tahta menjadi raja, dia adalah tuhan itu sendiri. Bayi Firaun disusui 
dengan rasa penuhanan terhadap keluarga dan rajanya, ditimang, dinina-bobokan, 
ditempa, dibesarkan, kemudian dinobatkan dengan cita-rasa penuhanan seperti 
itu. Lalu apa jadinya, bila jiwa dan raga Firaun kemudian mendapatkan logika, 
cita dan rasa yang asing dengan konsep ketuhanan Musa. Betapa sulit Firaun 
untuk memahami. Namun, setelah didera dengan berbagai kesulitan untuk paham, 
akhirnya Firaun "terbatuk" saat ajal tiba dan mengakui "aku kini percaya dengan 
Tuhan Bani Israil".

Keadaan di atas memberi alasan seseorang menghormati Firaun. Firaun angkuh 
dengan konsep ketuhanan Musa, karena memang tidak masuk "rasa" akal Firaun yng 
begitu. Hijab bagi Firaun tidak hanya tebal, tapi berlapis-lapis. Sejak air 
susu, nyanyian nina bobo, air yang diminum, nasi yang dimamah, kasih sayang 
diperoleh, ajaran, pelajaran dan pengalaman... Seluruhnya tebal dan 
berlapis-lapis menjadi hijab bagi Firaun untuk sulit memahami ketuhanan Musa. 
Lalu kita, hari ini datang mencaci Firaun... padahal Tuhan memberi apresiasi 
untuk Firaun dengan "menyelamatkan tubuhnya untuk menjadi pelajaran".

Hal ini begitu kontradiktif dengan Muslim yang berlatarbelakang keluarga muslim 
yang mengangkangi Tuhan Muhammad. Dia disusui dengan susu ketuhanan Muhammad, 
dinina-bobokan dengan solawat, dikorbankan hewan aqiqah, dibesarkan dari surau 
bertaburan adzan... lalu hadir sebagai manusia dewasa menjadi Muslim yang tidak 
"serasa makan nasi" dengan makanan ketuhanan Muhammad. Keadaan dia sangat 
terbalik dengan keadaan Firaun. Adakah apresiasi yang layak untuk diberikan 
kepada dia?

Cermin ini sungguh menghantam hati-hati kami ketika membicarakannya.


--- On Wed, 3/25/09, Iman K. <[email protected]> wrote:

> From: Iman K. <[email protected]>
> Subject: [kmnu2000] Alat untuk Mengetahui
> To: [email protected], [email protected], 
> [email protected], [email protected], 
> [email protected], "dastanbooks" <[email protected]>, 
> [email protected], "Icas" <[email protected]>, 
> [email protected], "Spiritual Indonesia" 
> <[email protected]>, [email protected], 
> [email protected], [email protected], 
> [email protected], [email protected], 
> [email protected], [email protected], 
> [email protected], [email protected], 
> [email protected], [email protected], 
> [email protected], [email protected], 
> [email protected], [email protected], 
> [email protected], [email protected], 
> [email protected], [email protected], 
> [email protected],
 [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected]
> Date: Wednesday, March 25, 2009, 10:37 PM
> Salam...
> 
> Jika sebelumnya kita katakan bahwa manusia mempunyai
> potensi untuk  mengetahui seluruh isi langit dan bumi,
> sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah, bagaimana cara
> mengetahuinya? Apa saja alat yang diperlukan untuk
> mengetahui apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi?
>  
> Alat yang diperlukan untuk mengetahui kesemuaannya itu
> salah satunya adalah “indra”. Manusia memiliki beberapa
> macam indra, seperti indra penglihatan, pendengaran, perasa,
> peraba dan penciuman. Jika saja manusia kehilangan semua
> indra tersebut niscaya manusia akan kehilangan bentuk
> pengetahuan/epistemologinya.
>  
> Orang yang terlahir buta sejak lahir tidak akan pernah bisa
> membayangkan aneka warna dan bentuk lahiriah segala sesuatu
> sebagaimana layaknya orang normal melihatnya. Orang yang
> kehilangan satu indra maka dia telah kehilangan satu ilmu.
>  
> Kita tidak akan mampu menjelaskan dengan cara apapun
> bagaimana warna pelangi, warna danau, warna langit, warna
> awan dan lain-lain kepada orang yang telah kehilangan
> penglihatannya sejak lahir.
>  
> Jika kita tanyakan kepada orang yang sudah buta sejak
> lahir, “tahukah kau bagaimana indahnya awan yang berarak
> putih di langit sana?” Maka kita akan menemukan situasi
> yang sulit dan mendapati si buta hanya melonggo lucu :).
> Kita tidak akan  bisa menjelaskan indahnya awan putih
> berarak dilangit nan biru itu kepada sibuta karena sibuta
> telah kehilangan satu alat epistemologinya.
>  
> Jika kita tetap memaksa ingin menjelaskan maka yang ada
> hanya rangkaian kelucuan dan kekonyolan. Jika sibuta
> bertanya, “bagaimana bentuk awan yang berarak putih itu
> om?”. Maka kita hanya mampu menunjukkan perumpamaan dengan
> sesuatu yang sudah dikenal oleh sibuta, misalnya mendekatkan
> rangkaian kain yang menyerupai awan kepada sibuta. 
>  
> Setelah sibuta memegang rangkaian kain yang dibuat seperti
> awan tersebut maka sibuta akan bergumam  “oh jadi begini
> bentuknya awan yang lagi berarak, tetapi bagaimana warna
> putih itu, seperti apakah warna putih Om?”
>  
> Menjelaskan warna putih kepada sibuta? Yang bisa kita
> lakukan hanyalah  memberikan perumpamaan dengan sesuatu
> yang bisa dipahami oleh sibuta, ,misalnya kita katakan “
> warna putih itu adalah seperti warna angsa”. 
>  
> Kalau sibuta bertanya lagi, “angsa itu seperti apa
> Om?”, kita bisa sodorkan angsa ke dekat sibuta dan
> mengatakan, “angsa itu seperti ini”. Dengan cara seperti
> itu apakah kemudian sibuta menjadi tahu seperti apa yang
> namanya awan putih berarak tersebut? Tidak, kita bahkan akan
> menemukan ‘kekacauan’ yang baru lagi dengan melihat
> sibuta berseru girang “Oh sekarang saya sudah mengerti,
> bagaimana indahnya awan putih yang sedang berarak!” 
>  
> “Bentuknya tipis dan warnanya panjang serta bulat, ya
> Om!” 
>  
> Kita tidak akan pernah bisa menjelaskan satu ilmu kepada
> orang yang telah kehilangan satu indra yang dituntut oleh
> ilmu tersebut dan karenanya tidak bisa tidak bahwa indra
> adalah salah satu alat yang sangat diperlukan untuk
> mengetahui segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi.
>  
> Tentu saja, karena indra hanya salah satu alat, maka kita
> akan membutuhkan alat yang lain untuk mencapai dan
> mengetahui kebenaran.
> 
>  
> Salam,
>  
>  
>  
> Iman K.
> www.parapemikir.com 
> 
> 
>       New Email names for you! 
> Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new
> @ymail and @rocketmail. 
> Hurry before someone else does!
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/sg/
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]


      

Kirim email ke