http://www.gatra.com/artikel.php?id=124779
NU, Muhammadiyah, dan Pancasila

Pada 30 Januari lalu, saya dihubungi C. Holland Taylor dari Yayasan 
LibForAll untuk menanyakan kondisi kesehatan saya. Jawaban saya adalah 
''sudah sembuh''. Lalu Taylor melanjutkan bahwa Gus Dur (Abdurrahman 
Wahid) ingin berkunjung ke rumah saya di Yogya. ''Apakah tidak lebih 
baik saya yang mengunjungi Gus Dur di Jakarta,'' saya menyela. 
''Tidak,'' jawab Taylor, ''karena Gus Dur sendiri yang ingin datang.'' 
Saya sambung lagi: ''Jika Gus Dur memang punya agenda lain ke Yogya, 
lalu kemudian mampir ke rumah, tidak ada masalah, saya tunggu.''

Demikianlah, pada hari berikutnya, 31 Januari sekitar pukul 15.45, Gus 
Dur dan rombonganbenar-benar menjadi tamu saya sekitar dua jam, sampai 
dengan pukul 17.45; juga turut sejarawan M. Nursam. Ny. Shinta Nuria 
datang pula dengan kursi rodanya, tetapi tidak lama karena ada keperluan 
lain.

Selama dua jam Gus Dur berbicara dengan saya, kadang-kadang diselingi 
oleh Taylor, sembari mantan presiden itu tidak beranjak dari kursi 
rodanya. Saya mengamati bahwa semangat hidup Gus Dur memang luar biasa. 
Semua penyakit yang diidapnya seperti tidak dihiraukannya. Mobilitasnya 
tetap tinggi, baik domestik maupun ke luar negeri. Belum lama ini, ia 
berkunjung ke Korea Selatan selama seminggu.

Dari Taylor, sebelumnya saya diberitahu bahwa Gus Dur prihatin jika saya 
masih sakit, sebuah keprihatinan yang patut saya hargai. Pembicaraan 
selama dua jam itu tidak terfokus pada satu topik, tetapi melebar pada 
berbagai masalah tentang bangsa, umat Islam, Muhammadiyah, NU, dan 
politik. Gur Dur bercerita panjang tentang perjalanan NU sejak awal 
kelahirannya, menjadi partai politik, untuk kemudian kembali ke khitah 
1926. Disebut beberapa nama tokoh yang mendorong NU memasuki dunia 
politik kekuasaan pada 1950-an dengan segala dampaknya bagi perjalanan 
/jam'iyyah/ ini.

Perkembangan terakhir yang membuat Gus Dur bernapas lega adalah 
kenyataan bahwa antara NU dan Muhammadiyah sudah semakin mendekat, 
khususnya dalam masalah pemikiran Islam dan sikap moderat/inklusif yang 
diusung kedua sayap utama umat Islam Indonesia ini. Komentar saya sore 
itu: ''Semuanya ini berlaku karena faktor Gus Dur yang melakukan 
''revolusi'' pemikiran dalam tubuh NU, sekalipun tidak semua kiai bisa 
menerima. Tetapi, di kalangan anak muda NU, Gus Dur telah jadi ikon 
intelektual yang pengaruhnya sangat besar. Dengan demikian, jasa Gus Dur 
sungguh dahsyat untuk kalangan anak-anak muda itu.''

Yang tidak kurang pentingnya untuk disebut di sini, anak-anak muda yang 
dibentuk Gus Dur itu, entah secara sadar atau karena kebetulan, hampir 
tidak ada jarak dengan saya. Saya dan mereka sering bertukar pikiran 
dalam berbagai kesempatan, dan semakin terasa kesamaan pandangan tentang 
Islam, kemanusiaan, dan kebangsaan, seperti Gus Dur juga telah 
merasakannya. Perkembangan positif ini menjadi demikian penting bagi 
masa depan Indonesia, sebab NU dan Muhammadiyah tidak perlu lagi 
menghabiskan energi untuk mempersoalkan masalah dasar negara Pancasila.

Tetapi ada syarat untuk itu, yaitu agar nilai-nilai luhur Pancasila itu 
dilaksanakan dalam tindakan, tidak dibiarkan menggantung di awang-awang 
atau sekadar dipakai dalam retorika politik kosong untuk meraih 
tujuan-tujuan duniawi. Dalam penerimaan asas Pancasila itu, prosesnya 
memang lebih mulus dalam NU. Dalam Muhammadiyah, penerimaan itu ditempuh 
melalui debat alot dalam Muktamar Surakarta pada 1985. Dalam kaitan ini, 
pernyataan Kiai Ahmad Siddiq, Rais Aam NU ketika itu, yang menegaskan 
bahwa Pancasila sebagai dasar negara bagi NU sudah final, telah jadi 
milik publik.

Dalam pada itu, karena dalam hal usia, saya lebih tua dari Gus Dur, sore 
itu saya merasa tidak punya beban apa-apa untuk memberikan saran 
kepadanya agar melepaskan diri dari keterikatan dengan politik kekuasaan 
yang sangat menyita energi itu. Setelah itu, Gus Dur kembali ke habitat 
semula, menjadi payung bangsa. Gus Dur setuju tetapi, katanya, harus ada 
masa transisi selama dua tahun untuk memberesi segala sesuatu dalam 
tubuh PKB.

Tetapi, dalam pengamatan Gus Dur, perubahan di Indonesia harus melalui 
politik, dalam hal ini tidak bisa dilepaskan dari posisi kepartaian. 
Mungkin pertimbangan inilah yang dulu mendorong Gus Dur membentuk PKB, 
sebuah partai yang ternyata dalam perjalanannya tidak selalu mulus.

Di atas itu semua, sore itu bagi saya adalah pertemuan yang kesekian 
kali dengan tokoh ini. Pernah kami lakukan di kantor PP Muhammadiyah, 
Jakarta, di kantor PB NU, juga di Jakarta, beberapa bulan sebelum Gus 
Dur diangkat menjadi presiden pada 1999, dan dalam forum-forum lain, 
formal atau tidak formal. Dengan segala perbedaan pandangan kami dalam 
hal-hal tertentu, pertemuan sore itu masih akan dilanjutkan dalam tempo 
dekat ini. Boleh jadi di Jakarta atau di tempat lain.

*Ahmad Syafii Maarif*
/Guru Besar Sejarah, pendiri Maarif Institute/


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke