Salam,

Info di bawah ini adalah tulisan rekan sekaligus senior saya, Hodri Ariev, yang
merupakan note pribadinya di facebooknya. Tulisan ini adalah bukti bahwa dana
asing yang sering dicibir pihak tertentu ternyata pihak tersebut juga
menerimanya meski dengan cara dan tujuan yang berbeda. Ini kan maling teriak
maling. Saya harap kita lebih berhati-hati, apalagi korbannya adalah saudara 
kita sesama warga Nahdliyyin dan inilah yang dicemaskan oleh KH. Hasyim 
Muzadi.    

  

M. Subhan Zamzami



http://www.facebook .com/note. php?note_ id=64776133933



Masjid-Masjid Politik



Senin, 6 April 2009, menemani seorang wartawan Reuters saya mengunjungi Jawa
Tengah. Agenda utamanya adalah investigasi dan verifikasi info penyusupan dana
asing untuk kepentingan politik berkedok agama. Melalui beberapa interview
diketahui bahwa sejak tiga atau empat tahun yang lalu ada beberapa orang yang
dengan "tulus" membantu merehabilitasi dan membangun masjid-masjid di
sebuah karesidenan Jawa Tengah, dan hingga saat ini jumlahnya sudah hampir 2100
masjid yang digarap.



Menurut penduduk dan tokoh setempat, orang yang "baik hati"
menjelaskan bahwa dana rehabilitasi dan pembangunan masjid-masjid tersebut
diperoleh dari Teman dari Arab Saudi. Pada saat menawarkan bantuan,
rehabilitasi dan pembangunan tidak disinggung-singgung terkait dengan isu-isu
partai apa pun. Namun sekitar dua atau tiga minggu terakhir ini orang yang
"baik hati" itu minta balas budi kepada takmir masjid dan penduduk
sekitar masjid agar mendukung partai tertentu dalam pemilu 9 April 2009 ini.
Beberapa merasa tidak ada masalah dengan permintaan balas budi ini, namun ada
yang melihat lebih jauh dan mulai khawatir bahwa balas budi politik ini hanya
merupakan entry poin untuk agenda yang lebih besar. Seorang penduduk yang
sempat ditemui khawatir bahwa "dana Saudi" ini pada akhirnya akan mengubah
tradisi keberagamaan dia yang selama ini setia pada amaliyah nahdliyah,
"Jangan-jangan nanti saya tidak boleh tahlilan, katanya di Arab itu tidak
boleh. Lha, kalau nanti saya mati, siapa yang akan mendoakan saya? Wong saya
punya banyak kekurangan kepada Gusti
Allah dan para tetangga.."



Ini hanya sekelumit kasus. Dalam in-case report di the Wahid Institute, konflik
sangat keras terjadi di Lombok, misalnya. Narasi itu menceritakan, pernah
seorang tokoh lokal yang amaliyah ubudiyahnya seperti kebanyakan Muslim 
Indonesia, ketika
memberikan pengarahan kepada jamaahnya di masjid, tiba-tiba kabel mic yang dia
gunakan dipotong oleh pengikut "tradisi baru." Ada pula masjid-masjid
yang proses perebutannya dilakukan dengan cara voting untuk memutuskan siapa
yang berhak mengelola masjid tersebut, dan ini dilakukan ketika jumlah pengikut
"tradisi baru" itu lebih banyak dari Muslim tradisi lokal.



Menurut seorang tokoh di Jawa Tengah yang sempat ditemui, ada skenario besar
dalam semua kejadian ini. "Mereka" masuk dari berbagai celah untuk
mengubah Islam lokal menjadi seperti Arab. WaLlahu a'lam, semua ini akan
semakin jelas dampaknya seiring perkembangan hasil 9 April nanti, dan termasuk
dalam pipres nanti.



Saya berbagi
info ini dengan harapan mendapat feedback, baik yang bersifat konsepsional,
analitis, maupun info data-data baru. Rasa kebangsaan sedang diuji apakah ia
bisa terus bersanding secara damai dengan keislaman, atau keislaman bangsa
Indonesia akan mengabakan lokalitas tradisi dan budaha Indonesia sendiri.



Yogyakarta, 7
April 2009.

nama-nama informan dirahasiakan karena alasan keamanan.




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke