Cak Anam: Demokrasi Jadi Alat Kekuasaan 
 
JAKARTA-Demokrasi di Indonesia selama ini banyak diwarnai masalah yang rumit 
karena hanya digunakan sebagai alat meraih kekuasaan. Bukan untuk kesejahteraan 
rakyat.

Hal itu dikatakan oleh Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) 
Drs H Choirul Anam (Cak Anam) saat hadir sebagai pembicara dalam acara Parodi 
Politik di salah satu stasiun televisi nasional, Jumat (17/4) tadi malam.

Menurut Cak Anam, kisruh Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan amburadulnya 
penyelenggaran Pileg, 9 April lalu, yang hingga kini masih menjadi persoalan 
serius, jadi bukti belum matangnya demokrasi di Indonesia. "Demokrasi kita baru 
menjadi alat mencari jabatan," kata mantan Ketua PW GP Ansor Jatim ini.

Karena itu, Cak Anam berharap calon legislatif (caleg) yang gagal tak perlu 
stres atau depresi menerima kenyataan yang ada. Namun, katanya, perjuangan 
menuju demokrasi yang menjujung tinggi kejujuran dan keadilan harus terus 
berjalan. "Jabatan itu kan urusan dunia. Kita mati tidak membawa `kursi'," kata 
Cak Anam yang diundang sebagai nara sumber atas nama intelektual NU ini.

Sebagai Ketua Umum partai peserta Pemilu, lanjutnya, dia sejak awal telah 
berpesan kepada para caleg untuk berbuat maksimal pada Pemilu kali ini. 
Namun, jika gagal jangan sampai frustasi, apalagi sampai stres dan depresi. 
"Sejak awal pesan saya jangan sampai stres," ungkapnya. 

Sementara itu, Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti, 
menyesalkan sikap pemerintah dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang seakan-akan 
"cuci tangan" soal pelaksanaan Pemilu Legislatif (Pileg) yang amburadul, 9 
April lalu. Padahal, di mana-mana sukses dan tidaknya Pemilu akan selalu 
menjadi tanggung jawab pemerintah dan KPU. "Ini semua adalah kesalahan 
Pemerintah dan KPU. Sukses atau tidaknya Pemilu itu tanggung jawab pemerintah 
dan KPU," kata Ray Rangkuti saat dihubungi Duta di Jakarta, Jumat (17/4) 
kemarin. 

Ray juga menyayangkan sikap pemerintah yang juga menyalahkan masyarakat yang 
tidak mengecek daftar pemilih sementara sebelum jadi daftar pemilih tetap 
(DPT), sehingga banyak pemilih yang tak bisa menggunakan hak pilihnya karena 
tak masuk DPT. Sebab, katanya, tidak masuknya pemilih dalam DPT itu murni 
kesalahan pemerintah dan KPU. "Itu yang kita sesalkan. Kenapa masyarakat ikut 
disalahkan. Andil masyarakat dalam kesalahan itu mana?" katanya.

Seharusnya, lanjut Ray, masyarakat mengecek DPT atau tidak, secara otomatis 
mereka masuk DPT, dengan catatan telah memenuhi syarat sebagai pemilih. 
"Misalnya, kalau sudah cukup umur sesuai undang-undang, otomatis kan harus 
masuk DPT. Jadi tanpa mengecek DPT pun, mereka harus masuk DPT," jelas alumni 
Pondok Pesantren Darul Rahman Jakarta ini.

Karena itu, Ray meminta kepada pemerintah untuk segera mencabut pernyataan yang 
seakan-akan menyalahkan masyarakat itu. "Pemerintah harus mencabut pernyataan 
itu. Kalau Pemilu itu menjadi tanggung jawab bersama, seharusnya dijelaskan 
secara rinci. Pemilu itu yang jelas tanggung jawab pemerintah dan KPU," katanya.

Lebih lanjut Ray menyebut, pelaksanaan Pemilu yang amburadul dan besarnya angka 
pemilih yang tak masuk DPT benar-benar merugikan masyarakat."Kalau disalahkan 
sama dengan sudah jatuh malah tertimpa tangga. Masyarakat sudah tidak bisa 
memilih malah disalahkan, kan kasihan," katanya.

Dikatakannya, pemerintah dan KPU seharusnya belajar dari kasus Pilgub Jatim 
yang permasalahannya tak jauh beda dengan kasus Pileg. Apalagi, katanya, sejak 
awal KPU sebenarnya telah menerima laporan dari soal kisruh DPT Pilgub Jatim. 
Sehingga, lanjut Ray, andai KPU bergerak cepat, masalah yang sama tak terulang 
lagi pada Pileg."Itu (perbaikan DPT) yang tidak dilakukan pemerintah dan KPU," 
katanya.

Melihat pelaksanaan Pileg yang amburadul, Ray memandang wajar, jika banyak 
elemen masyarakat dan partai politik yang melayangkan protes keras, baik 
terhadap Pemerintah maupun KPU. "Wajar saja kalau sekarang banyak yang protes. 
Pemilih kan dirugikan," katanya. (amh)
 
http://dutamasyarakat.com/1/02dm.php?mdl=dtlartikel&id=15235

Kirim email ke