Salam, Sekedar cerita. Sabtu kemarin (18/4), dalam satu pelatihan jurnalistik dan karya tulis pesantren yang diadakan RMI-LTN NU Kab Kediri bersama NU Online dan majalah Aula yang diikuti sekitar 200 peserta dari perwakian 47 pesantren se-Kab. Kediri, saya sempat bercerita begini: Jauh-jauh hari sebelum trio bom Bali dieksekusi, sebuah tim telah menyiapkan tiga buku khusus atas nama Muklas, Amrozi dan Imam Samudera. Buku itu berisi kisah, misi hidup dan pengalaman tiga orang tadi. 3 buku itu sudah beredar 2 hari setelah eksekusi. Sementara iklan penerbitan buku ini ada di beberapa buletin jumat yang tersebar di masjid-masjid di Jakarta dan Jawa Barat. 3 Buku ini dijual dengan sistem direct selling dan MLM. Saya bercerita itu, sekedar memberi semangat para santri untuk menulis. Sebelumnya juga ada materi khusus tentang ergensi menulis bagi kalangan pesantren dan materi khusus tentang ahlussunnah wal jamaah.
Nah pelatihan berjalan lancar. Para peserta yang adalah utusan pesantrennya masing-masing, gus-gus bahkan bu nyai-nya sekalian mengaku sangat tertarik dan serasa mendapatkan semangat baru untuk menulis. Menulis apa saja; karya jurnalistik, hingga menulis tentang sejarah perjalanan pesantren masing-masing dan tokoh-tokohnya; ingin membikin buletin, majalah, mading hingga jadi penulis terkenal. Pada sesi penutupan, panitia menyilahkan perwakilan peserta untuk memberikan kesan-pesan. Banyak yang unjuk jari. Tapi satu santri ini tidak sekedar unjuk jari. Dia langsung ke depan dan memegang microphon. Dia mengaku baru 4 bulan nyantri di satu pesntren salaf di Kediri. Dia mengaku berasal dari Banten. "Saya ini adalah tetangganya Imam Samudra," katanya bangga. Di hadapan para santri dan kiai dia memberikan kesan-pesan singkat dan standar, lalu tanpa ampun dia berceramah: "Kalau ada perbedaan di antara umat Islam jangan saling menyalahkan, kembalikan kepada Al-Qur'an dan Hadits", "Kita harus mengganti budaya tepuk tangan dengan Allahuakbar", "Jangan tertawa mendengar takbir", "para santri harus berani di depan dan jangan takut pada orang kafir," dan seterusnya. Dia mengakhiri ceramahnya dengan kalimat takbir. Beberapa panitia yang sudah mengenal gaya berceramah seperti itu sempat gelisah. Saya yang sudah terlanjur bercerita tentang trio bom Bali pun ikut kebakaran jenggot. Namun tidak ada yang bisa diperbuat, paling hanya bisa mengingatkan soal terbatasnya waktu. Karena mic sudah direbut, dan... Sebenarnya setelah santri ini berbicara, masih ada ceramah yang lainnya; dari penitia dan pengasuh pesantren yang juga mustasyar PCNU Kediri. Tapi tak satu pun menjawab komentar santri tadi. Saya curiga, jangan-jangan apa yang diungkapkan santi tetangganya Imam Samudera tadi benar adanya, susah dibantah. Saat berpamitan saya sempat menyindir kiai, "Tadi kita kedatangan tamu ya...". "Iya." Tapi tidak juga, karena ia adalah seorang santri, dan mungkin dia sudah banyak teman di pesantren. Salam, Anam [Non-text portions of this message have been removed]
