Mata Rantai Bernama ’R’



Mata Rantai Bernama ’R’
Jhonny
Allen Marbun berkukuh tak menerima duit Rp 1 miliar seperti disebut
Abdul Hadi Djamal. Asisten pribadinya menjadi kunci penting untuk soal
ini.

YANG ditunggu akhirnya datang juga. Turun dari mobil Ford
Everest-nya yang berhenti di depan tangga pintu masuk Gedung Komisi
Pemberantasan Korupsi, Jhonny Allen Marbun langsung bergegas masuk. Ia
tak menggubris pertanyaan puluhan wartawan yang mengepungnya. Dengan
tangkas dokter hewan itu meloncat ke dalam lift yang langsung
membawanya ke lantai delapan.

Di sini sejumlah penyelidik KPK
sudah menunggunya. Jhonny langsung diminta memasuki kamar pemeriksaan.
Tak lebih dari tujuh jam, Senin pekan lalu, Wakil Ketua Panitia
Anggaran sekaligus anggota Komisi Perdagangan DPR tersebut diperiksa
KPK. Sekitar 20 pertanyaan diberondongkan penyelidik ke pria kelahiran
Pangururan, Sumatera Utara, 49 tahun silam itu.

Pada pukul
15.00, Jhonny keluar dari Gedung KPK. Begitu melihat bosnya sudah
keluar, 13 pengawal Jhonny yang berbadan tegap langsung menempel rapat.
”Pokoknya, saya tidak tahu persoalan yang dilakukan orang lain. Tanya
saja kepada Abdul Hadi Djamal,” katanya ketika seorang wartawan
bertanya perihal duit Rp 1 miliar yang disebut-sebut telah diterimanya.
Dengan cepat Jhonny masuk ke mobilnya dan melesat meninggalkan KPK.

l l l

JHONNY
diperiksa KPK dalam kaitannya dengan kasus Hadi Djamal, anggota Komisi
Perhubungan DPR, yang ditangkap KPK pada Senin 2 Maret di bawah
jembatan Casablanca, Jakarta Selatan. Sewaktu ditangkap, Hadi Djamal
berada di dalam mobil Darmawati Doreho, Kepala Tata Usaha Distrik
Navigasi Tanjung Priok, Departemen Perhubungan. Saat itu Hadi Djamal
menumpang mobil Darmawati.

Dari dalam mobil Honda Jazz biru
milik Darmawati inilah petugas menemukan duit US$ 90 ribu dan Rp 54,5
juta—total sekitar Rp 1 miliar—yang membuat keduanya tak berkutik.
Selain menangkap Hadi Djamal dan Darmawati, KPK juga membekuk Hontjo
Kurniawan, Komisaris Utama PT Kurnia Jaya Wira Bakti. Petang itu
ketiganya baru saja melakukan pertemuan di rumah makan Sari Kuring,
Jakarta Pusat.

Kasus ini diduga erat berkaitan dengan soal
penambahan dana anggaran stimulus dengan nilai total Rp 12,2 triliun
yang tengah dibahas Panitia Anggaran. Di sini Hontjo, pengusaha yang
kerap mengerjakan proyek Departemen Perhubungan di wilayah timur,
merapat ke Darmawati, bekas Kepala Seksi Perencanaan Perhubungan Laut.

Pengusaha
ini mengincar sejumlah proyek yang didanai anggaran itu. Misalnya
pembangunan Pelabuhan Selayar, Pelabuhan Bone, dan Bandara Toraja, yang
total nilainya sekitar Rp 100 miliar. Lewat Darmawati ini pula Hontjo
kemudian mengenal Hadi Djamal, yang juga anggota Panitia Anggaran. Hadi
Djamallah yang kemudian membawa permintaan Hontjo itu ke Jhonny.
”Hontjo menyatakan ia menyediakan dana Rp 3 miliar agar proyek-proyek
itu disetujui,” ujar sumber Tempo. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi,
Antasari Azhar, menyatakan kasus ini memang berkaitan dengan
pembangunan proyek Departemen Perhubungan.

Kepada KPK, Hadi
Djamal bernyanyi nyaring perihal aliran dana itu. Ia mengaku Hontjo
sudah menurunkan duitnya tiga kali. Tujuan akhirnya, agar Panitia
Anggaran meloloskan sejumlah proyek yang diincar pengusaha asal
Surabaya itu. Nah, menurut Hadi Djamal, duit dari Hontjo Rp 1 miliar
juga sudah ia ”setorkan” ke Jhonny. Untuk memuluskan rencana itu,
menurut sumber Tempo, Jhonny dan Hadi Djamal ”berkoordinasi” dengan
Panitia Anggaran lainnya, Enggartiasto Lukita. Beberapa jam sebelum
ditangkap KPK, Hadi Djamal bertemu Enggar di kantor bekas Ketua Real
Estate Indonesia (REI) itu, di Kebayoran Baru, untuk membicarakan
anggaran stimulus.

Selain ke Jhonny, duit itu, menurut sumber
Tempo, sempat juga masuk ke ”ruang kerja” anggota Fraksi Partai Amanat
Nasional lainnya, Arbab Paproeka, US$ 40 ribu (sekitar Rp 400 juta).
”Uang itu dititipkan ke staf pribadi Arbab,” ujar sumber Tempo itu.
Kepada Tempo yang mendatangi lantai 19 ruang kerja Arbab, Fiar, staf
Arbab, mengaku dititipi uang oleh Hadi Djamal. Ia menegaskan uang itu
bukan untuk diserahkan ke Arbab. ”Beberapa saat setelah ditangkap, Hadi
Djamal menelepon saya, meminta uang itu dikirim ke KPK,” ujar Fiar.
Adapun Arbab menyatakan tak tahu-menahu soal duit itu. ”Saya tidak ada
hubungannya dengan soal itu,” ujar Arbab.

Hadi Djamal juga
menyebut pertemuan antara beberapa orang dari Panitia Anggaran dan
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu, di
Hotel Four Seasons, Jakarta, pada 19 Februari, sebagai awal kasus ini.
Dalam pertemuan yang juga dihadiri Jhonny itu, menurut Hadi Djamal,
juga dibahas proyek-proyek yang diincar Hontjo. Pengakuan Hadi Djamal
ini mengejutkan banyak orang. ”Saya meminta dia berterus terang saja,”
kata Mohamad Iskandar, pengacara Hadi Djamal.

Semua anggota DPR
yang namanya ”didendangkan” Hadi Djamal menampik disebut terlibat
”kasus Hadi Djamal” ini. Kepada wartawan di DPR, Jhonny menegaskan
dirinya tak pernah menerima duit itu. ”Satu perak pun sejak jadi
anggota Dewan saya tidak pernah terima dari Hadi Djamal,” katanya.
Jhonny juga mengirim surat ke Panitia Anggaran, menegaskan yang
dikatakan Hadi Djamal tak benar. Soal pertemuan Four Seasons, Jhonny
menyatakan tak ada kaitannya dengan proyek Departemen Perhubungan.

Pernyataan
sama keluar dari Anggito Abimanyu. Menurut dia, pertemuan itu untuk
membahas kenaikan stimulus. ”Saya tidak bicara proyek per proyek. Saya
tidak terlibat dan tidak ada pembicaraan sedikit pun dalam pertemuan
itu mengenai rincian proyek-proyek di Departemen Perhubungan,” katanya.

Enggartiasto,
yang Senin pekan lalu diperiksa, juga membantah dirinya terlibat kasus
Hadi Djamal. Menurut Enggar, pertemuan di Four Seasons tak ada
kaitannya dengan proyek Departemen Perhubungan. Ia juga membantah
membuat pertemuan dengan Hadi Djamal. ”Di kantor saya ada pertemuan,
tapi bukan dengan AHD, saya undang pejabat Departemen Perhubungan,
karena malam itu harus selesai dan ada pengurangan anggaran,” katanya
kepada Tempo, Kamis malam pekan lalu.

l l l

JHONNY Allen
bisa membantah soal ini. Sebuah sumber Tempo menyebutkan, Jhonny memang
tak menerima duit itu langsung dari Hadi Djamal. Tapi sumber ini
menyebut sebuah nama: Resco. ”Duit itu diberikan lewat R,” ujar sumber.
Dari penelusuran Tempo, Resco adalah staf khusus Jhonny Allen. Resco
kerap mendampingi Jhonny dalam acara-acara di luar kantor. ”Dia dibawa
Jhonny dari Papua,” ujar sumber itu, menyebut asal daerah pemilihan
Jhonny pada 2004 yang berhasil membuat dirinya masuk Senayan.

Haeri
Parani, pengacara Hadi Djamal lainnya, tak membantah adanya sosok Resco
ini. ”Benar, dia mata rantai penting,” ujar Haeri. Menurut Haeri,
memang dalam pengakuannya kepada penyelidik, Hadi Djamal menyatakan
menyerahkan duit Rp 1 miliar kepada Resco. Penyerahan dilakukan pada 27
Februari lalu di Hotel Ritz Carlton, Kuningan. ”Istilahnya, itu
poskonya,” ujarnya. Karena itu, menurut Haeri, KPK semestinya juga
memeriksa Resco. Dihubungi pekan lalu, juru bicara KPK, Johan Budi
S.P., menyatakan belum mengetahui apakah KPK sudah memanggil Resco atau
belum. ”Akan saya cek dulu,” kata Johan.

Adapun Resco kini raib
entah ke mana. Tempo, yang mendatangi ruang kerja Jhonny Allen di
lantai sembilan gedung DPR, Senin pekan lalu, tak menemukan Resco.
”Sejak sekitar sebulan lalu Pak Resco tidak pernah lagi terlihat,” ujar
beberapa karyawan DPR yang bertugas di lantai sembilan.

Naek
Siregar, sekretaris Jhonny, membenarkan atasannya memiliki asisten
pribadi bernama Resco. Sementara Naek merupakan penugasan Fraksi, Resco
adalah ”bawaan” Jhonny. Saat ditanya di mana sang ”aspri” itu kini,
wajah Naek langsung berubah. ”Saya tidak tahu, itu bukan urusan saya,”
ujarnya sembari meninggalkan Tempo.

Di Jayapura, sejumlah
pengurus Partai Demokrat juga mengaku tak mengenal Resco. ”Tidak ada
nama kader atau simpatisan Partai Demokrat bernama Resco di Papua,”
ujar Manu Mulait, Sekretaris Pengurus Cabang Partai Demokrat Kabupaten
Puncak Jaya, kepada wartawan Tempo di Jayapura, Cunding Levi.

Dihubungi
pada Kamis pekan lalu, Jhonny Allen dengan nada keras menyatakan tak
tahu-menahu perihal Resco itu. ”Tanyakan saja itu kepada Hadi Djamal,”
katanya.

Mata rantai ini, yang sampai kini belum terdengar
suaranya, memang harus ditemukan. Dari pengakuan ”R” inilah—jika ia
berkata jujur—kelak bakal terbukti, siapa yang pembohong: Hadi Djamal
atau Jhonny.

L.R. Baskoro, Anne L. Handayani, Rini K., Akbar Tri Kurniawan

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/04/20/KRI/mbm.20090420.KRI130116.id.html

              http://groups.google.com/group/suara-indonesia?hl=id


      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke