Apakah yang Kita Harus Perlukan?
Kamis, 02 April 2009 23:04:11
Oleh Abdurrahman Wahid*
Kita sedang berada dalam krisis ekonomi yang berkepanjangan. Sedang
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mengatakan bahwa sebentar lagi kita
dapat mengatasi krisis yang ada. Di sini tampak, bahwa presiden kita itu
telah salah memahami hakikat krisis kita dewasa ini. Ia tidak
mengemukakan apa yang menjadi petunjuk dalam hal ini. Tetapi, kita dapat
mengatakan, bahwa tindakan yang diambil pemerintah di bidang ekonomi dan
keuangan sudah kadaluarsa. Harga-harga tetap tinggi, orang-orang tetap
tidak percaya kepada tindakan-tindakan yang diambil pemerintah untuk
mengatasi krisis.

Padahal sebenarnya penyelesaian terletak pada kemampuan ekonomi dan
perdagangan untuk menyediakan lapangan kerja baru. Juga merubah
peraturan perburuhan dalam perekonomian nasional dari yang sekarang ini.
Itu adalah bagian dari krisis yang sedang kita hadapi. Pembenahan itu
akan terwujud apabila ada kepercayaan yang kuat dari masyarakat kepada
pemerintah. Berbicara tentang krisis itu sendiri, kita melihat perlu
adanya gradasi pemecahan masalah bagi kaum masyarakat yang berbeda-beda.
Jadi tidak benar, jika pemecahan yang sama bagi persoalan berbeda yang
dihadapi masyarakat yang beragam.

Hal ini yang tampaknya belum juga disadari oleh para pengambil keputusan
di negri kita. Bahwa masyarakat kita memiliki pendapatan yang
berbeda-beda dengan kebutuhan bermacam-macam. Isi jawabannya itu-itu
saja. Sikap ini adalah akibat saja dari keputusan untuk hanya menerima
`kebenaran' satu pihak saja. Padahal kebutuhan seorang penanam
modal dari keperluan seorang konsumen, tentu berbeda. Kalau disamakan
juga, maka akan hilang kepercayaan orang akan kemampuan pemerintah
memecahkan masalah yang rumit. Dalam sebuah skala besar yang melibatkan
berbagai pihak, tentunya sisi yang berbeda-beda itu akan memerlukan
sejumlah pemecahan yang berlain-lain pula. Hal di atas itulah yang
sering penulis lihat dalam `pemecahan-pemecahan' yang ditawarkan
oleh pihak-pihak yang berbeda pendapat, antara pemerintah dan
masyarakat.

Dengan demikian diperlukan kesadaran akan pentingnya perbedaan. Halnya
sama dengan pemilihan Presiden di Amerika Serikat dewasa ini. Ketika
Barack Obama mengemukakan jawaban-jawabannya atas berbagai masalah. Ia
tidak melihat adakah jawaban-jawaban itu menyangkut bidang-bidang yang
berlainan satu dari yang lain. Prinsip yang dikemukakan hanya satu,
yaitu akan ada pusat-pusat komunikasi diantara para pengambil keputusan.
Berbeda dari McCain yang sudah memberikan jawaban rinci mengenai
masalah-masalah yang perlu dibahas, maka pada dasarnya Obama hanya
menjanjikan adanya pusat-pusat komunikasi itu. Bagaimana dan antara
siapa saja komunikasi itu dilakukan tentu bergantung kepada siapa saja
yang akan turut serta dalam proses tersebut.

Hal itu berarti, bahwa Obama belum mengeluarkan rincian komunikasi itu.
Melainkan baru mengatakan adanya kebutuhan akan komunikasi tersebut. Ini
adalah sikap yang benar, yang harus dipegang teguh oleh mereka yang akan
mengangkat para pembantu dekatnya, karena di masa kampanye belum
ketahuan siapa yang akan diangkat memegang jabatan apa dalam
pemerintahan setelah selesai proses pemilihan presiden itu sendiri.
Tetapi, karena kita tidak mengetahui `keharusan' menghubungkan
antara keputusan-keputusan yang harus diambil dan kebutuhan-kebutuhan
masyarakat, dengan sendirinya lalu tampak bahwa Barack Obama sering kali
disalahkan orang, karena tidak berterus-terang sejak awal proses.
Kematangan pandangan diperlukan dalam hal ini, dan ini juga berlaku bagi
diri kita sebagai pengamat dan pemerhati.

Hal-hal seperti inilah yang harus dipegangi dalam kita mengamati
perkembangan keadaan, baik mengenai negeri kita maupun negeri lain. Pada
saat ini Menkeu Sri Mulyani mengira hanya ada satu pemecahan saja bagi
bermacam-macam masalah keuangan yang sedang kita hadapi. Antara diri
kita sebagai konsumen disamakan saja olehnya dengan kedudukan sebagai
pelaku spekulan. Inilah yang sebenarnya tidak boleh terjadi kalau kita
memang berpikiran lengkap tentang masalah-masalah kemasyarakatan.
Jawaban-jawaban yang diberikan haruslah berbeda-beda dari satu ke lain
masalah. Kalau ini tidak disadari, maka Presdien yang `harus'
memakai pertimbangan itu dalam pengambilan kebijakan, tentu akan
bertindak salah pula. Sikap menyalahkan ini akan hilang jika kita tahu,
bahwa pemerintah bukanlah satu-satunya pihak dalam pengambilan keputusan
itu. Tentu masih harus disediakan tempat bagi keikutsertaan masyarakat
luas dalam pengambilan keputusan. Bukankah ini sangat penting? Tanpa
menyadari hal ini, tentu kita akan mengambil sikap salah, bukan?

Jakarta, 30 Oktober 2008



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke