Dari kemarin sudah  PA
Pede abisss
Petinggi partai itu lucu ya kalau meradang
biasanya "menyejukkan".......tapi


Salam,

Ala'i




--- On Wed, 5/13/09, Mukhlisin <[email protected]> wrote:

From: Mukhlisin <[email protected]>
Subject: Re: [kmnu2000] Ekonomi Neoliberal Mengancam
To: [email protected]
Date: Wednesday, May 13, 2009, 12:17 PM











    
            
            


      
      Dari kemarin kemana aja kok baru sekarang kampanye anti neolib?

Apa karena wapresnya ga dari PKS terus KAMMI demo?



Al Faqir Ilmi wrote:

>

>

> Ekonomi Neoliberal Mengancam

>

> TOLAK BOEDIONO - Mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi 

> Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) melakukan unjuk rasa di depan 

> Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta, Selasa (12/5). Mereka 

> menolak Boediono tampil sebagai cawapres pendamping SBY dalam pilpres 

> mendatang. (Suara Karya/Andry Bey)

>

> Rabu, 13 Mei 2009

> JAKARTA (Suara Karya): Masa depan ekonomi nasional menjadi pertaruhan 

> dengan tampilnya Boediono sebagai cawapres pendamping Susilo Bambang 

> Yudhoyono (SBY) di arena pilpres mendatang. Sebab, Boediono dikenal 

> sebagai figur penganut paham ekonomi neoliberal.

>

> Artinya, jika pasangan SBY-Boediono tampil sebagai pemenang pilpres, 

> ekonomi nasional niscaya makin jauh dan makin dalam berorientasi 

> neoliberal. Kenyataan itu merisaukan karena ekonomi liberal sangat pro 

> pasar dan menafikan kebijakan-kebijakan pro rakyat.

>

> Demikian rangkuman pendapat ekonom Ichsanuddin Noorsy dan Direktur 

> Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Erani 

> Yustika terkait isu cawapres pendamping SBY yang hampir pasti merujuk 

> pada sosok Boediono. Mereka dihubungi secara terpisah, kemarin, di 

> Jakarta. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan 

> Wanandi juga turut menyoroti isu ini.

>

> Sementara itu, kemarin, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia 

> (KAMMI) menggelar aksi unjuk rasa di depan Komisi Pemilihan Umum (KPU) 

> di Jakarta. Mereka tegas menolak Boediono tampil sebagai cawapres. 

> Mereka menilai, sebagai figur yang dikenal berpaham ekonomi 

> neoliberal, Boediono sulit diharapkan bisa membawa perbaikan terhadap 

> kehidupan ekonomi nasional.

>

> Menurut Ichsanuddin Noorsy, ekonomi nasional niscaya amburadul jika 

> figur penganut paham ekonomi neoliberal seperti Boediono menempati 

> posisi amat strategis dalam penentuan kebijakan-kebijakan pemerintah. 

> Terlebih lagi SBY sendiri kemungkinan besar memberi keleluasaan bagi 

> pendampingnya dalam menggariskan kebijakan di sektor ekonomi.

>

> Walhasil, jika SBY dan Boediono berduet sebagai capres dan 

> cawapres--serta andai pasangan tersebut memenangi pilpres 

> mendatang--kebijaka n ekonomi nasional ke depan ini niscaya makin 

> berorientasi neoliberal yang dikenal pro pasar. Pemerintah, kata 

> Noorsy, sulit diharapkan menerapkan kebijakan-kebijakan pro rakyat.

>

> "Yang diuntungkan oleh kebijakan-kebijakan berorientasi neoliberal 

> bukan rakyat Indonesia, melainkan kepentingan dan kekuatan ekonomi 

> asing," ujar Noorsy.

>

> Noorsy mengingatkan, selama ini saja hampir semua proyek besar di 

> Indonesia dikuasai asing, sementara usaha yang dilakoni anak bangsa 

> sulit sekali bisa berkembang. Itu terjadi karena kebijakan di sektor 

> ekonomi nasional dikendalikan figur penganut ekonomi neoliberal di 

> kabinet.

>

> "Jadi, jika kepemimpinan nasional ini diduduki duet SBY-Boediono, 

> jangan pernah berharap kehidupan ekonomi yang diamanatkan konstitusi 

> bisa tegak," kata Noorsy.

>

> Menurut dia, dampak positif bagi dunia internasional akan lebih 

> terlihat jika pasangan itu memimpin Indonesia. Pencabutan subsidi, 

> perdagangan bebas yang aturannya diserahkan kepada pasar, serta 

> tumbuhnya pasar uang dan pasar modern di Indonesia akan terjadi. 

> Namun, bukan Indonesia yang akan menikmati hasil dari kebijakan yang 

> terlihat positif tersebut, melainkan negara lain seperti Jepang dan 

> Amerika Serikat.

>

> "Pasar Indonesia akan dipenuhi oleh barang-barang dari luar negeri 

> karena karakter perekonomian neoliberalisme yang dianut Boediono yang 

> secara otomatis akan menggerus pelaku usaha dalam negeri karena akan 

> kalah bersaing, baik dari segi kualitas maupun harga," ujar Noorsy.

>

> Hampir senada, Ahmad Erani Yustika menyatakan, duet capres-cawapres 

> SBY-Boediono membuat roda ekonomi nasional sulit menjadi lebih baik 

> dan menyejahterakan rakyat banyak. "Saya meyakini pola ekonomi 

> neoliberalisme yang dijalankan pemerintah selama empat setengah tahun 

> terakhir akan berlanjut kalau saja duet SBY-Boediono tampil sebagai 

> pemenang pilpres mendatang," ujarnya.

>

> Menurut Yustika, di bawah pemerintahan SBY-Boediono, pertumbuhan 

> ekonomi nasional hampir pasti tidak berpijak pada sektor-sektor padat 

> karya dan tradable seperti pertanian. "Konsekuensinya, masyarakat 

> miskin akan makin miskin dan kelompok kaya bertambah kaya," katanya.

>

> Di lain pihak, Sofjan Wanandi mengatakan, SBY dan Boediono tidak cocok 

> berpasangan memimpin pemerintahan yang tengah menghadapi krisis 

> global. Pasalnya, mereka berdua sama-sama lamban dalam mengambil 

> keputusan maupun bertindak, di samping lembek dalam menghadapi tekanan 

> asing.

>

> "Yang diperlukan sekarang ini adalah pemimpin yang berani mengambil 

> kebijakan terobosan di bidang ekonomi untuk menghadapi tekanan 

> krisis," kata Sofjan.

>

> Menurut dia, saat dunia dihadapkan pada kesulitan akibat krisis 

> global, Indonesia memerlukan duet pemimpin yang tangkas dan cepat 

> dalam bertindak. Jika tidak, Indonesia niscaya ketinggalan dalam 

> mengatasi krisis maupun dalam menyikapi perkembangan yang makin cepat.

>

> Boediono sendiri, menurut Sofjan, hanya teknokrat yang tidak didukung 

> parpol. Meski kemampuannya dalam sektor keuangan tak diragukan, 

> katanya, Boediono niscaya akan kesulitan dalam memimpin kabinet yang 

> diisi oleh menteri-menteri berlatar belakang parpol.

>

> "Itu berarti, pemerintahan SBY-Boediono- -jika mereka menang dalam 

> pilpres--akan sulit pengambil keputusan strategis bagi bangsa, 

> khususnya di bidang ekonomi," kata Sofjan. (Bayu/Indra)

>

> [Non-text portions of this message have been removed]

>

> 




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke