--- On Wed, 5/13/09, sunny <[email protected]> wrote: From: sunny <[email protected]> Subject: [ppiindia] Analis: Neoliberalisme Boediono purukkan bangsa To: [email protected] Date: Wednesday, May 13, 2009, 9:51 PM
http://www.waspada. co.id/index. php?option= com_content& task=view& id=87529& Itemid=82 Analis: Neoliberalisme Boediono purukkan bangsa Wednesday, 13 May 2009 23:29 WIB FAZAR BAKTI WASPADA ONLINE JAKARTA - Terpilihnya Boediono sebagai calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilihan presiden (pilpres) Juli ini, tak pelak akan membuat SBY dan partainya di cap sebagai pengumbar tiket cawapres kepada semua partai politik peserta koalisi Cikeas. Tidak hanya itu, beberapa kalangan juga mengganggap SBY telah salah dalam memilih calon pendampingnya untuk lima tahun ke depan. Sebenarnya apa yang salah dengan sosok Boediono? Analis politik dari Universitas Indonesia (UI), Dadang Darmawan memberikan tanggapannya. "Dengan pertimbangan dan kewenangan SBY yang memposisikan Boediono sebagai cawapresnya, maka akan ada harapan dan reaksi pasar pada elektabilitas pasar internasional yang menuju neoliberalisme mutlak" papar Dadang. Kata dia, hal tersebut justru akan menimbulkan kecemasan akan nasib perekonomian Indonesia ke depannya. "Ini membuat kita khawatir, kalau-kalau nanti di dalam pemerintahan tidak ada lagi keseimbangan, karena figur SBY-Boediono cenderung menganut paham ekonomi neoliberal, yang sangat bertentangan dengan paham ekonomi kerakyatan. Nanti malah-malah, bangsa kita yang akan terperosok karena paham ini" jelas dosen ilmu politik ini. Ia menilai, hal itu juga yang menjadi penyebab banyaknya pihak yang kurang respect terhadap sosok Boediono. "Boediono berasal dari kaum teknokrat, bukan politisi. Jadi ia tidak pernah berkeringat dalam kancah politik, sehingga kurang berpengalaman dalam 'lobi-lobi' di parlemen." Menurut Dadang, Boediono terlalu modern dan pandangannya akan banyak bertentangan dengan kalangan religius. "Wajar jika kepemilihannya ramai-ramai ditentang oleh kalangan parpol" ungkap Dadang. Dadang berharap, idealnya dalam pemerintahan yang akan dibangun kelak, ada keterwakilan umat religius dan nasionalis. "Agar tidak menimbulkan kerawanan nantinya," kata dia malam ini kepada Waspada Online. [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
