From: heri sudarsono herisudarsono_ mas...@yahoo. co.id
Subject: [indoatiium] Dari Kecerdasan tanpa Budaya sampai Kepunahan Generasi
Dari "Kecerdasan tanpa Budaya", "Etika Ekonomi Pasar" hingga
"Kepunahan Generasi": Indonesiaku dimanakah kau berada?
Oleh:Arya Hadi Dharmawan
Yth Teman-teman FB, Bapak-bapak dan Ibu-Ibu semuanya yg budiman.,
Berikut ijinkan saya menyampaikan sebuah refleksi ringan, atas sebuah pertemuan
ilmiah sebagai "catatan-perjalanan pribadi" yang mudah-mudahan ada manfaat yang
bisa dipetik bersama-sama. Tulisan ini tiada lain sebagai wujud keprihatinan
terhadap keadaan negeri ini...
Teman-teman FB, Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian.... sekitar seminggu yang lalu
tepatnya tgl 6/5/2009 di Puspiptek Serpong, saya mendapat "kemewahan" yang luar
biasa. Disebut sebagai kemewahan, karena peristiwa ini jarang terjadi bagi
saya. Hari itu, saya bisa ikut ambil bagian (tepatnya mendengarkan) sebuah
diskusi ilmiah dengan peserta yg amat-sangat terbatas (sekitar 40an gurubesar
sepuh) yg juga "begawan-begawan ilmuwan negeri ini". Mereka adalah asset bangsa
yang pikirannya masih sangat kaya. Saya sebut saja, ada Prof. BJ Habibie, Prof.
Emil Salim, Prof. Tjondronegoro, Prof. Toeti H Nurhadi, Prof. Sangkot Marzuki,
Prof. FG Winarno, Prof. Taufik Abdullah, Prof.
Saswinadi, ada pula Ketua LIPI, dsb....saya menjadi terasa "sangat kecil" di
tengah-tengah mereka...:-) Intinya, mereka memikirkan hendak kemana perjalanan
bangsa Indonesia yg sedang "carut-marut" seperti ini ke depan.. Tinjauannya
sangat luas...Indonesia ke depan dilihat dari perspektif "tekno-auronotika" ala
Prof. Habibie, "ekonomi-ekologi" ala Prof. Emil Salim, "kebudayaan" ala Prof.
Toeti, dan
"biologi-molekuler" ala Prof. Sangkot Marzuki.
Sulit dituliskan "long-version lecture" yg saya terima dari para begawan pada
hari itu disini, tetapi inti-intinya hendak saya bagikan kepada teman-teman,
bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian dalam catatan-catatan terpisah, tapi dalam
satu kesatuan berikut ini.
1. Tesis Habibie tentang Indonesia dalam "Kecerdasan tanpa Budaya" di Indonesia
Lecture dari Prof. BJ Habibie yang menghabiskan waktu hampir dua jam dan
memukau para gurubesar lain adalah pengajuan tesisnya dari hasil diskusi
panjang dengan seorang gurubesar dari Chatolische Universitaet Switzerland. Ia
adalah Prof. Kuhn yang menulis buku "Spueren die Religion" (jejak-jejak agama).
Intinya, ditanyakan oleh Prof. Habibie:
mengapa bangsa-bangsa di dunia (termasuk Indonesia) mengalami stagnasi
peradaban, meskipun proses pendidikan digalakkan dengan dukungan dana yang luar
biasa? Kata Habibie, bangsa-bangsa di dunia saat ini mengalami kecerdasan luar
biasa karena proses PENDIDIKAN semata, namun bukan karena proses PEMBUDAYAAN.
Prof. Habibie mengatakan pendidikan hanya mengasah KECERDASAN otak. Ada hal
yang kurang di dalam proses itu, yakni pengasahan budaya melalui proses yg
disebutnya sebagai
PEMBUDAYAAN.
Sementara pembudayaan yang (sangat tidak mendapat tempat dan perhatian dari
pemerintah kita) sebenarnya hendak mengasah aspek VERNUENFT (KEARIFAN) pada
jiwa kita semua, agar manusia menjadi vernuenftig (arif-bijaksana) dan bukan
hanya cerdas semata-mata. Inilah yang tidak berlangsung di negeri ini. Alhasil,
kita menghasilkan banyak orang PINTAR TETAPI TIDAK ARIF BIJAKSANA. Habibie
mengatakan, bila kepadanya diberikan dua orang untuk dipilih, maka ia akan
mendahulukan orang yang BERBUDAYA dari pada cerdas tetapi tanpa budaya (pintar
tetapi tidak arif-bijaksana) . Tentu akan senang bila Indonesia hari ini
memiliki banyak orang yang PINTAR SEKALIGUS ARIF-BIJAKSANA, begitu lanjut Prof.
Habibie. amun, kata Prof. Habibie lebih lanjut, disain pengembangan SDM di
Indonesia mengerucut pada kutub PENCERDASAN semata-mata, tanpa proses
PEMBUDAYAAN. Hasilnya, para pemimpin negeri ini adalah ORANG-ORANG PINTAR (di
bidangnya) tetapi TIDAK ARIF dalam melihat totalitas
peradaban bangsa ini. Prof. Habibie lalu bertanya: mau kemanakah Indonesia
sebenarnya hendak dibawa oleh para pimpinan negeri yg seperti ini?
Tesis Habibie ini mengguncang dan "meresahkan" pikiran saya selama diskusi
berlangsung hingga acara selesai. Lalu seolah muncul kerinduan saya pada
pikiran-pikiran kenegarwanan dan kebangsaan serta kecendekiaan- kearifan ala
Habibie yang hari ini sulit saya dapatkan di negeri ini.....sepulang dari
Serpong sengaja saya melongok ke Senayan
(DPR-RI).... saya pandangi lama gedung ini, lalu saya lihat siapa-siapa saja
kelak yg akan mengisi dan meramaikan gedung ini...keprihatinan saya terjawab
sudah...dua hari lalu tgl 9/5/2009 diumumkan nama anggota-anggota legislatif
definitif hasil Pemilu 2009....melihat
nama-nama mereka...jangankan harapan ttg "kearifan", bahkan "kecerdasan" pun
menjadi barang langka di gedung ini...pantas bila lembaga ini diragukan banyak
pihak.....mungkin inilah jawaban thd pertanyaan Prof. Habibie: Peradaban
Indonesia memang baru "sampai
disini" saja....:-)
2. Etika Ekonomi Pasar (yang memporakporandakan)
Tesis kebudayaan dan peradaban berikutnya saya dapatkan dari Prof. Emil Salim
(ekonom senior terbaik yang dipunyai negeri ini). Ia seolah hendak mengiyakan
keresahan-keresahan Stiglitz atau Amartya Sen. Pikirannya ia "mainkan"
melintasi beberapa mazhab ekonomi. Namun, ia sangat terasa beranjak dari
ekonomi klasik dan mengakirinya dengan kritik kepada ekonomi neo-liberalisme
pasar.
Prof. Emil Salim memulai dengan tesis KRISIS ETIKA EKONOMI di Indonesia. Setiap
jiwa warga Indonesia yang dididik di negeri ini untuk mempelajari ilmu ekonomi,
meng-amini satu-satunya doktrin yang seolah-olah itulah DOKTRIN TUNGGAL EKONOMI
yang ada di dalam jagad ilmu Ekonomi kita. Doktrin tersebut dikatakan oleh
Prof. Emil Salim
sebagai "ETIKA EKONOMI PASAR". Dalam etika tersebut diyakini bahwa perilaku
setiap jiwa yang hidup ini selalu diorientasikan kepada upaya-upaya rasional
untuk MEMAKSIMISASI MANFAAT apapun yang ada di hadapan mereka. Setiap peluang,
dilihat sebagai manfaat yang harus di-utilisasi secara maksimal.Apa kesalahan
dari etika ini terhadap peradaban bangsa Indonesia hari ini?
1. Bila ETIKA EKONOMI PASAR (perilaku memaksimisasi manfaat) itu memasuki
wilayah POLITIK, maka hasilnya adalah pandangan bahwa KEKUASAAN ADALAH PELUANG
EKONOMI untuk DIMANFAATKAN semaksimal mungkin. Resultan dari pandangan ini,
maka POWER IS COMMERCIALIZED (kekuasaan diperdagangkan) ...fakta inilah yang
hari-hari ini kita lihat sejak PILKADA, PILEG, hingga PILPRES nanti...akankah
bangsa Indonesia terus memelihara salah cara-pandang seperti ini? Hanya bangsa
Indonesia yang bisa menjawabnya. ...
2. Bila ETIKA EKONOMI PASAR (perilaku memaksimisasi manfaat) itu memasuki
wilayah EKOLOGI, maka ENVIRONMENT IS COMMERCIALIZED dan NATURAL-RESOURCES
mengalami proses CAPITALIZED (Sumberdaya Alam/SDA dipandang sbg obyek
eksploitasi manusia semata-mata dan barang dagangan yang dijual-jual dengan
harga murah seolah tanpa memiliki nilai-nilai "Illahiah/sunatulla h" lainnya).
Hasilnya, Indonesia mengalami kehancuran SDA dan lingkungan yang sangat akut
sekaligus kronis tak tertolongkan. Pertanyaannya: akankah bangsa Indonesia
meneruskan tradisi etikal seperti ini? Hanya bangsa Indonesia yang bisa
menjawabnya. ...
3. Bila ETIKA EKONOMI PASAR (perilaku maksimisasi manfaat) itu memasuki wilayah
SCIENCE & TECHNOLOGY serta PENDIDIKAN, maka hasilnya pun sama IPTEK dan
PENDIDIKAN yang DIKAPITALISASI dan DIPERDAGANGKAN. ...( catatan saya: oleh
karena itu muncullah UU Badan Hukum Pendidikan - UU BHP yang kontroversial itu
dalam hal ini). Hasilnya, pendidikan makin elitis dan mahal. Pertanyaannya:
akankah Indonesia meneruskan tradisi etikal semacam ini? Hanya bangsa Indonesia
yang bisa menjawabnya. ...
Demikianlah, akar dari KRISIS PERADABAN bangsa Indonesia terletak pada (KRISIS)
ETIKA EKONOMI PASAR yang dipeliharanya. Pertanyaan dari Prof. Emil Salim saat
itu adalah: bagaimana caranya bangsa ini melepaskan (detached) dari etika yang
seperti itu? Pertanyaan ini hampir pasti tidak dapat dijawab secara memuaskan,
bahkan oleh Prof. Habibie sekalipun pada waktu diskusi itu....ini tantangan
dunia sains dan
akademik untuk menjawabnya. ..
3. Kepunahan Generasi (Pandangan Biologi Modern) Indonesia dan Dunia
Isyu ini dikemukakan oleh Prof. BJ Habibie dan disambut oleh Prof. Sangkot
Marzuki (Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkmann di Jakarta). Prof. Habibie
mangatakan, bahwa peradaban pada saat ini (secara biologis) "terancam" (atau
ditakdirkan) oleh sebuah kenyataan yang sulit (sangat musykil) untuk dielakkan.
Para ilmuwan (iptek dan
sosial) serta pemimpin negeri ini seolah ditantang untuk berpacu melawan waktu
atas sebuah "sunatullah" (takdir alam) yang sulit dibendung berkaitan dengan
fakta yang disebutkan sebagai "DEGENERASI KROMOSOM Y" (silakan lihat
jurnal-jurnal biologi modern yang mengungkap "Y Chromosome degeneration" di
internet).
Apa "bahayanya" fakta degenerasi kromosom Y ini? Dengan sangat sigap dijelaskan
oleh Prof Habibie dan di-amini oleh Prof. Sangkot) bahwa spesies homo-sapiens
(manusia berbudaya) yang ada secara genetik dibentuk oleh kromosom XX (bagi
wanita) dan XY (bagi yg berkelamin pria). Singkat cerita dalam kromosom X
ataupun Y, disana "diinstall"
oleh Allah SWT - Tuhan YME berbagai macam kode-genetik (gen) dalam bentuk
informasi-informasi perilaku, ciri fisik, ketahan tubuh, dsb dalam bentuk DNA
(bhs Indonesianya: asam dioksiribo nukleat).
Penelitian-peneliti an biologi molekuler modern membuktikan bahwa KODE-GENETIK
yang ada dalam KROMOSOM X terbukti SANGAT STABIL selama paling tidak 5000 tahun
terakhir. Artinya, ciri-ciri genetik (kewanitaan) yang dibawa oleh kromosom X
tidak berubah selama masa itu hingga saat ini.
Apa yang terjadi dengan kromosom Y adalah 180 derajat berbeda dengan kromosom
X. Hasil penelitian membuktikan bahwa selama kurun waktu yang sama KODE GENETIK
YANG HILANG PADA KROMOSOM Y hampir mencapai 60%. Apa artinya semua ini? Artinya
KROMOSOM Y MEMILIKI VIABILITAS (daya kebertahanan- hidup) yang SANGAT RENDAH,
dan karenanya TERUS MENERUS MENURUN EKSISTENSINYA. Dengan kata lain, setiap
perkawinan (pembuahan sel sperma thd sel telur) yang terjadi di dunia, peluang
untuk mendapatkan kombinasi XY (anak laki-laki) semakin SULIT atau semakin
kecil terjadi. Sebaliknya, kombinasi XX akan semakin menguat dan sering
terjadi. Ini berarti kedepan, akan terjadi KRISIS POPULASI, dimana jumlah
penduduk perempuan akan makin banyak dan mendominasi populasi spesies manusia
berkelamin pria. Boleh dibayangkan, bila suatu saat kelak TIADA LAGI MANUSIA
BERJENIS KELAMIN PRIA karena kromosom Y yang terus melemah. Maka, menurut
keyakinan agama-agama,
dan juga (keyakinan ilmu biologi), disanalah KIAMAT sedang menjelang. Mengapa?
Jawabannya sederhana... .apa jadinya sebuah peradaban, bila hanya diisi oleh
spesies berjenis kelamin tunggal saja...REGENERASI TIDAK AKAN TERJADI dan
kepunahan manusia, di depan mata....:-) (lihat selanjutnya: Biecek, P and
Cebrat, S. 2008. "Why Y Chromosome is Shorter and Women Live Longer" dan
artikel-artikel sejenis di www.springerlink. com)
Keresahan saintifik seperti ini sudah dibahas di jurnal-jurnal biologi dan
medicinal sciences. Juga, ia telah dibahas oleh para gurubesar mumpuni di
negeri ini. Kini pertanyaannya adalah: sampai manakah Indonesia mengantisipasi
fakta-fakta sosio-ekono- biologi yang menggerakkan ECO-CIVILIZATION dan sedang
memicu POPULATION CRISIS seperti yg dikemukakan di atas? Bagaimana kita
"mengatasi" hal-hal itu? Etika apakah yang perlu dikembangkan agar kehilangan
kode-genetik pada kromosom Y tidak terus berlanjut? Siapkah para pemimpin dan
pemikir negeri ini?
Dalam wilayah ekonomi: Etika ekonomi apakah yang perlu dibangun (untuk
menggantikan etika ekonomi pasar) agar bangsa ini tidak "membabi-buta" dalam
mengelola negara ini? dan segudang pertanyaan lainnya.....
Jawabannya: hanya bangsa Indonesialah yang bisa menjawabnya. ....hanya bangsa
Indonesialah yang bisa menjawabnya. ....Lalu terbetik pikiran: Dimanakah posisi
kita sebagai masyarakat terpelajar - berbudaya berada dalam "konstelasi
keprihatinan bangsa" yg seperti ini?
Teman-teman, Bapak-bapak dan Ibu-ibu, waktu dan tempat membatasi saya untuk
bercerita lebih lanjut, mudah-mudahan ada hal lain lagi yang bisa saya bagikan
di lain waktu/kesempatan. ..salam utk negeriku dalam keprihatinan nan
panjang.....
Arya Hadi Dharmawan
Dosen Ekologi Politik dan Teori Sosial Hijau - Pascasarjana IPB
(PSP3IPB/KPM IPB)
www.psp3ipb. or.id
[Non-text portions of this message have been removed]