Seluk-beluk dan hiruk-pikuk
pemilu 2009 ( 12)
^^ ^^

Berikut di bawah ini bisa disimak kumpulan terbaru berita atau tulisan
tentang seluk-beluk pemilihan legislatif dan pemilihan presiden 2009, yang
diambil dari berbagai sumber, Di samping disajikan di berbagai milis,
kumpulan berita ini juga bisa dibaca selanjutnya dalam website
http://umarsaid.free.fr , yang menggantikan website
http://kontak.club.fr/index.htm ,

Dalam website tersebut juga ada tulisan terbaru " Mengenang turunnya Suharto
dan ambruknya Orde Baru 21 Mei 1998".

Harap para pembaca maklum hendaknya.

= = = = = =

Tempo Interaktif, 18 Mei 2009
Tim Dokter Periksa 10 Kriteria Kesehatan SBY-Boediono
TEMPO Interaktif , Jakarta : Kriteria pemeriksaan kesehatan terhadap
pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono tidak berubah dengan
pemeriksaan dua pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden lainnya.
Tim dokter memeriksa 10 kriteria kesehatan.

"Terkait dengan kriteria, ada 10 area yang diperiksa. Kesehatan jiwa dan
sembilan kriteria kesehatan fisik," kata Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter
Indonesia, Fahmi Idris, usai pemeriksaan, Senin (18/5).

Kriteria-kriteria itu adalah sistem syaraf, mata, THT, paru-paru, jantung,
pembuluh darah, saluran cerna dan hati, kemudian urologi, alat gerak, dan
ada tidaknya keganasan. Dari 10 di breakdown menjadi 24 kriteria. Misalnya,
kesehatan jiwa dipilah lagi menjadi empat kriteria. "Sebagai contoh apakah
yang bersangkutan memang memiliki disabilitas atau tidak dalam kesehatan
jiwa," katanya.

Fahmi mengatakan total tim dokter yang diberi tugas memeriksa mencapai 43
orang. Terdiri dari 29 orang dari Ikatan Dokter Indonesia dan 14 orang dari
RSPAD Gatot Soebroto.

* * *

Tempo Interaktif, 17 Mei 2009
Mahkamah Konstitusi Mulai Sidangkan Perkara Pemilu
TEMPO Interaktif , Jakarta : Mahkamah Konstitusi mulai menyidangkan perkara
hasil Pemilihan Umum pada Senin, (18/5) besok.

"Sidang dimulai pukul 09.00 dan diperkirakan berlangsung hingga tengah
malam," ujar Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi Janedjri M. Gaffar saat
dihubungi, Minggu (17/5).

Pada hari pertama ini, Mahkamah akan menggelar 18 sidang dengan agenda
pemeriksaan perkara. Sidang tersebut terbagi dalam tiga panel sidang yang
ditangani tiga hakim konstitusi. "Masing-masing panel menangani 6 perkara,"
ujar Janedjri.

Dari 18 sidang, 15 sidang merupakan perkara perselisihan hasil pemilihan
umum yang diajukan anggota Dewan Perwakilan Daerah dari berbagai provinsi.
Adapun tiga sidang yang lainnya merupakan gugatan dari Partai Kasih
Demokrasi Indonesia, Partai Pemuda Indonesia, dan Partai Penegak Demokrasi
Indonesia.

Hingga pendaftaran ditutup, menurut Janedjri, Mahkamah Konstitusi menerima
70 perkara hasil pemilihan umum. Sebanyak 42 perkara diajukan oleh partai
politik dan 28 perkara diajukan oleh anggota Dewan Perwakilan Daerah.
Perkara tersebut seluruhnya harus diselesaikan dalam waktu 30 hari sejak
pendaftaran perkara.

* * *

Kompas, 17 Mei 2009

Wiranto : Beruntung Kami Tidak Termasuk Sakit Jiwa

JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa puluh menit setelah Jusuf Kalla keluar Rumah
Sakit Pusat Angkatan Darat, pasangan calon presiden dari Partai Golongan
Karya itu, Wiranto, juga selesai menjalani pemeriksaan. Saat keluar, Wiranto
bercerita telah menjawab setidaknya 500 pertanyaan tes psikologi.

"Tadi ada yang bertanya tes psikologinya bagaimana. Saya tidak bisa jelaskan
karena ada 500 lebih pertanyaan," ujar Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat,
Wiranto, di RSPAD, Jakarta, Minggu ( 17/5 ).

Dia mengatakan telah menjalani pemeriksaan dua kali, mental dan fisik.
"Beruntung kita tidak yang termasuk sakit jiwa lah," kelakarnya.

Hasil pemeriksaan tersebut, akan dia serahkan sepenuhnya ke Komisi Pemilihan
Umum untuk dijadikan dokumen negara sekaligus syarat seleksi calon presiden
dan calon wakil presiden.

Wiranto percaya dokter akan memberikan pemeriksaan yang akurat dan
meyakinkan. Oleh karena itu, dia yakin akan lolos dalam seleksi kesehatan
ini. "Insya Allah (lolos)," pungkasnya

* * *

Tempo Interaktif, , 17 Mei 2009

Ditanya Calon Presiden, Gus Dur Merasa Masih Presiden
TEMPO Interaktif , Jakarta : Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid atau yang
biasa disapa Gus Dur merasa dirinya masih menjadi presiden. Menurutnya, Ia
tak pernah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden.

Inilah jawaban Gus Dur ketika Tempo mengajukan pertanyaan mengenai penilaian
dirinya terhadap tiga pasangan calon presiden-wakil presiden yang akan
berlaga pada pemilihan presiden mendatang.

"Maksudnya, siapa yang kira-kira akan menjadi presiden gitu? Ya, Saya. Saya
tidak pernah mengundurkan diri dari dulu hanya selama ini saya biarkan saja.
Dianggap begini, begitu, kita biarkan saja tidak usah kita ramai-ramai,"
kata Gus Dur dalam keterangan pers di Kantor Pusat Pengurus Besar Nahdlatul
Ulama, Jakarta, Minggu (17/5).

Gus Dur menambahkan peluang Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan sangat
besar, terutama dengan Partai Kebangkitan Bangsa yang dapat menjadi motor
perubahan. Menurutnya, Partai Kebangkitan Bangsa mendasarkan
langkah-langkahnya kepada Muktamar Nahdatul Ulama ke-9 pada 1935.

Sekretaris Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa versi Gus Dur, Maman
Immanul Haq, menilai Gus Dur memang masih menjadi presiden. Namun,
presidennya golongan putih alias kaum yang tidak menggunakan hak pilihnya.
Argumennya, hampir 50 juta penduduk golongan putih dan Gus Dur-lah yang
pertama kali menyerukan tentang golongan putih.

* * *

Media Indonesia, 16 Mei 2009

Tujuh Parpol Dukung Megawati-Prabowo

JAKARTA--MI: Pasangan capres Megawati Soekarnoputri dan cawapres Prabowo
Subianto didukung tujuh partai politik di luar Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP) dan Partai Gerindra.

Dalam sambutannya saat pendaftaran pasangan Megawati-Prabowo di kantor
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat di Jalan Imam Bonjol, Jakarta, Sabtu
(16/5), Sekjen PDIP Pramono Anung mengatakan tujuh parpol yang mendukung
yaitu PNI Marhaenisme, Partai Karya Perjuangan, Partai Buruh, Partai
Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia, Partai Sarikat Indonesia, Partai
Merdeka, dan Partai Kedaulatan.

Megawati dan Prabowo didampingi tim sukses tiba di Gedung KPU sekitar pukul
13.00 WIB. Sebelum Pramono menyampaikan sambutan, Ketua KPU Abdul Hafiz
Anshary menjelaskan dengan singkat tentang proses pendaftaran.

Ketua KPU mengatakan bahwa proses verifikasi dokumen persyaratan
administratif dilaksanakan mulai sejak diterimanya dokumen hingga Senin
(18/5). Apabila ada kekurangan, maka parpol maupun gabungan parpol diberikan
kesempatan untuk melengkapi.

Setelah penyerahan dokumen berisi persyaratan administratif, pasangan
Megawati dan Prabowo diberi kesempatan untuk berpidato.

Dalam pidatonya, Megawati berpesan pada KPU sebagai penyelenggara pemilu
untuk menyelenggarakan pemilihan dengan jujur, adil, langsung, umum, bebas,
dan rahasia. "Untuk hal-hal yang terjadi pada pemilu legislatif, jangan
terulang lagi," katanya.

Sementara itu, bakal cawapres Prabowo dalam pidatonya berpesan agar
pendukung PDIP dan Gerindra melaksanakan proses demokrasi dengan
sebaik-baiknya.

Selama proses pendaftaran Megawati dan Prabowo, pendukung kedua pasangan
tersebut yang berada di ruang pendaftaran selalu meneriakkan yel-yel 'Mega
Pro'. Sementara itu, di luar Gedung KPU ratusan pendukung PDIP dan Gerindra
berkumpul untuk memberikan dukungan bagi capres dan cawapres pilihan mereka.

Selain mengibar-ngibarkan bendera PDIP dan Gerindra, mereka juga menggelar
pertunjukan tari reog yang mengiringi rombongan Megawati-Prabowo keluar dari
Gedung KPU. (Ant/OL-01)

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
Teruuusss...!

* * *

Tempo Interaktif, 16 Mei 2009 |

PAN Tetap Dukung SBY Dan Pasangannya
TEMPO Interaktif , Jakarta: Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional,
Zulkifli Hasan, menyatakan partainya mendukung penuh pencalonan Susilo
Bambang Yudhoyono-Boediono sebagai calon presiden dan wakil presiden.
Keputusan ini sudah sesuai dengan Rapat Pimpinan Nasional PAN di Yogyakarta,
awal Mei lalu. “Keputusan kami cuma satu, berkoalisi dengan Demokrat,” kata
Zulkifli usai pendaftaran Yudhoyono-Boediono di kantor Komisi Pemilihan,
Jakarta, Sabtu (16/5).

Berkoalisi dengan Demokrat, kata Zulkifli, sama saja mendukung
Yudhoyono-Boediono. Soal kehadiran anggota DPR dari PAN, Dradjad Wibowo,
saat pendaftaran pasangan Jusuf Kalla-Wiranto, Zulkifli mengatakan itu sikap
pribadi Dradjad. “Itu hak asasi, paling hanya satu-dua orang,” ujarnya.

Zulkifli membantah PAN mengubah dukungan ke Kalla-Wiranto. Ia pun mengaku
mengikuti pertemuan antara Amien Rais dengan Kalla. “Semalam saya denga Pak
Amin sampai jam 1 pagi. Itu pertemuan biasa saja,” ujarnya.

Ia enggan membenarkan atau membantah belum adanya tanda tangan Ketua Umum
Soetrisno Bachir dalam dukungan terhadap Yudhoyono-Boediono. “Insya Allah
semuanya segera beres,” ujarnya. Pernyataan ketua umum dan sekretaris
jenderal terhadap pengajuan calon presiden dan wakil presiden menjadi berkas
yang wajib diserahkan ke Komisi Pemilihan.

Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Marzuki Alie, membenarkan Soetrisno
Bachir belum menandatangani dukungan untuk Yudhoyono. Tapi, Marzuki mengaku
telah menghubungi Soetrisno. “Dia berhalangan, tapi tetap setuju
menandatangani dukungan,” katanya.

Menurut Marzuki, tak mudah mengumpulkan dukungan dari 23 partai yang
mendukung Yudhoyono-Boediono. Waktu yang tersedia pun tak cukup untuk
mengumpulkan tanda tangan itu. Apalagi, Yudhoyono baru kembali dari Manado
tanggal 15 Mei malam.

Ketua Komisi Pemilihan, Abdul Hafiz Anshary, mengatakan dokumen dukungan
akan dikembalikan jika ketua umum PAN tak menandatangani. Tapi, Komisi
Pemilihan akan melihat dulu, PAN menjadi partai yang ikut berkoalisi atau
hanya mendukung pencalonan. “Kalau bergabung mengajukan calon, berarti harus
ada tanda tangan ketua umum. Tapi kalau hanya mendukung, tak perlu tanda
tangan,” katanya.

* * *

Media Indonesia, 16 Mei 2009

SBY Minta Maaf, PKS dan Demokrat Mesra Kembali

JAKARTA--MI: Gertakan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terhadap pencalonan
Boediono sebagai wakil presiden berlalu.

SBY meminta maaf langsung kepada PKS, sehingga hubungan Partai Demokrat dan
PKS mesra kembali.

"Komplain PKS ibarat interupsi keluarga besar untuk pertahankan prinsip
kesetaraan dalam koalisi. Interupsi ini bisa dipahami dengan baik oleh SBY
dan dia sudah meminta maaf," kata Sekretaris Jenderal Anis Matta saat
dihubungi Media Indonesia di Jakarta, Sabtu (16/5).

Permintaan maaf Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disampaikan dalam pertemuan
yang digelar beberapa jam sebelum deklarasi pasangan calon presiden (capres)
SBY-calon wakil presiden (cawapres) Boediono di Hotel Sheraton, Bandung,
Jawa Barat, Jumat (15/5).

Anis mengatakan, penyampaian komplain kepada SBY melalui media massa
merupakan langkah yang dibangun untuk meretas jalan koalisi yang lebih baik.
Hasil evaluasi terhadap koalisi yang dibangun mulai 2004 menyatakan bahwa
ada masalah komunikasi di antara partai-partai yang bergabung. Hal inilah,
ujarnya, yang ingin diatasi dalam koalisi jangka panjang tersebut.

Penjelasan SBY dan Boediono yang disampaikan dalam pertemuan tertutup maupun
dalam pidato deklarasi dinilai cukup menjawab kritikan-kritikan yang
disampaikan PKS.

"Kalau didengarkan, saya kira pidato SBY cukup menjelaskan alasan kenapa
memilih cawapres Boediono dan menjelaskan klaim-klaim yang dialamatkan
padanya. Isi pidato SBY sebagian merupakan hasil pembicaraan sebelumnya,"
tukasnya.

Anis menolak dugaan adanya pembagian porsi kekuasaan dalam pertemuan yang
dilaksanakan tertutup tersebut sehingga membuat PKS luluh. Dalam pertemuan
tersebut, kedua pihak hanya menyepakati 10 agenda kerja sama dan tidak ada
satupun poin yang membicarakan pembagian kursi kabinet.

Pembagian kekuasaan, terangnya, akan dibicarakan setelah terbukti menjadi
pemenang. "Disepakati 10 agenda kerja sama. Salah satunya memuat pasal yang
menjelaskan manajemen koalisi yang lebih detail. Sedangkan, power sharing
dibicarakan setelah ada kemenangan," urainya.

Masalah selanjutnya yang menghadang PKS seusai deklarasi tersebut adalah
meyakinkan para konstituen PKS, terutama kader yang menolak Boediono. Hal
itupun diakui oleh Presiden PKS Tifatul Sembiring dalam beberapa kesempatan
saat berbincang dengan media.

Menurutnya, PKS perlu rasionalitas yang dapat menjelaskan kepada umat alasan
perlu mendukung pasangan SBY Berbudi. Apalagi, pasangan tersebut dinilai
tidak mencitrakan kombinasi Nasionalis-Islamis yang diinginkan oleh PKS.
Tapi, PKS kemudian abai dan akhirnya tetap kembali ke pangkuan SBY.

"Memang akan ada sedikit kesulitan saat menjelaskan kepada kader, tapi saya
kira tidak akan makan waktu terlalu lama. Kader kami rasionalis," ucapnya.

Para elit, ujarnya, telah menyiapkan strategi untuk menggalang kebersamaan
para kader yang kemungkinan sedikit renggang akibat keputusan cepat dari
elit. Salah satunya, sudah terlaksana saat Boediono berpidato setelah
dinyatakan sebagai pendamping SBY.

Boediono, menurutnya, telah menjawab semua isu yang berkembang di
masyarakat, misalnya tentang antek neoliberalis dan penganut kejawen. PKS
tidak akan memberikan rekomendasi apapun, melainkan mendorong Boediono untuk
menunjukkannya dengan tindakan nyata.

"Pada dasarnya, saya tidak memiliki masalah pribadi. Saat di Komisi IX, saya
mendukung dia menjadi Gubernur BI. Tapi, ketika diumumkan tiba-tiba, ini
merepotkan PKS," pungkasnya. (DM/OL-01)

Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG.
Version: 7.5.557 / Virus Database: 270.12.11/2089 - Release Date: 30/04/2009
17:53


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke